Alor, Surga di Timur Matahari

  • Whatsapp
Panorama Teluk Mutiara, Alor. Foto: Lintasntt.com

Kalabahi – Alor, pulau di ujung timur Nusa Tenggara Timur yang dijuluki para pelancong Surga di Timur Matahari, ialah satu dari 92 pulau terluar Indonesia. Alor berbatasan langsung dengan Timor Leste di sebelah selatan.

Ada 42 titik selam di sini, enam di antaranya ditahbiskan sebagai yang terbaik melampaui Karibia. Pulau ini baru saja yang mendapat penghargaan juara pertama pada ajang Anugerah Pesona Indonesia 2016 dalam kategori tempat menyelam terpopuler (most popular diving spot).

Read More

Namun, Alor juga diberkahi pesona di daratnya, seperti museum, desa tenun, hingga kampung adat. Saya bersama beberapa rekan jurnalis lainnya berkesempatan menjelajahinya, memenuhi undangan dari Kementerian Pariwisata, pada 16 hingga 19 November lalu.

Museum 1.000 Moko

Hari pertama kedatangan di Alor, saya langsung mengunjungi satu-satunya museum yang ada di sana, yakni Museum 1.000 Moko. Museum ini berada di Kota Kalabahi, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Lokasinya tidak jauh dari pusat kota, yaitu di Jalan Diponegoro, Kalabahi.

Pemandu museum, Yulianti A Peni, menjelaskan Museum 1.000 Moko menyimpan beragam benda peninggalan prasejarah dan benda sejarah. Museum ini salah satu bukti betapa budaya di pulau ini dapat begitu sangat beragam dan unik.

“Dinamai Museum 1.000 Moko karena moko mewakili kebudayaan orang Alor dan dianggap sebagai benda adat yang bernilai budaya sangat tinggi. Sementara itu, angka 1.000 menunjukkan keanekaragam­an suku sekaligus bentuk harapan masyarakat Pulau Alor,” terangnya.

Koleksi yang tersimpan di Museum 1.000 Moko cukup beragam. Ada alat tenun, kain tenun, baju adat, gerabah, alat nelayan tradisional, alat pertanian, meriam Portugis, senjata peninggalan Jepang, alat berburu tradisional, dan tentunya koleksi unggulan yaitu moko.

Yulianti mengatakan masyarakat Alor menyebut moko sebagai sebutan untuk nekara perunggu yang umumnya dikenal sebagai salah satu benda sejarah peninggalan kebudayaan Dongson di Vietnam Utara. Orang Alor percaya bahwa moko berasal dari tanah dan hanya dimiliki para bangsawan karena nilainya sangat tinggi.

“Hampir dipastikan tidak ada masyarakat adat di Nusantara yang mengoleksi moko dalam jumlah banyak seperti suku-suku di Pulau Alor. Saat ini, fungsi moko bagi masyarakat Alor sebagai belis atau mas kawin,” tutur Yulianti.

Kearifan lokal di Desa Kopidil

Setelah puas keliling museum, saya melanjutkan perjalanan ke Desa Kopidil, di Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor. Hampir serupa dengan Desa Adat Takpala, yang tersohor, di desa ini terdapat sebuah kampung tradisional yang melestarikan adat asli di Alor, namanya Kampung Tradisional Bangtowo.

Bangtowo tidak terlalu jauh dari Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor. Untuk mencapai kampung tradi­sional ini, Anda hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun empat. Bangtowo berarti tiga kampung. Yang termasuk dalam tiga kampung tersebut adalah kampung Uang, Wabuli, dan Alibang. Pemilik kampung ini adalah keluarga Djahalobang.

Meski Bangtowo baru memiliki dua buah rumah gudang dan lima buah lopo, daya tarik Bangtowo mulai terlihat. Berdasarkan data kunjungan yang disampaikan Nicholas Djahalobang, sang ketua kelompok, jumlah pengunjung sudah hampir mendekati 100 orang setiap minggu. Memang yang masih mendominasi adalah wisatawan lokal, tetapi wisatawan asing dan domestik pun sudah mulai berdatangan ke sana.

Seperti Nina dan Maria, dua wisatawan asal Brasil yang saya temui ketika berpelesir ke Kampung Bangtowo. Keduanya sampai rela mengundurkan diri dari pekerjaan mereka hanya untuk berlibur dan berkeliling Indonesia bagian tenggara dan timur. Menurut mereka, wilayah tenggara dan timur Indonesia memiliki pesona yang memukau.

Adalah Yan Djahalobang, sang pendiri kampung, yang juga menyiapkan pakaian tradisional dari kulit kayu. Seolah sudah memiliki niat kuat, pakaian yang disiapkan sanggarnya itu lumayan banyak. Pakaian itu dipisahkan, ada yang dikhususkan untuk disewakan, ada pula yang diperuntukkan anggota sanggar bila hendak melakukan atraksi tarian Lego-Lego maupun Cakalele.

Tarian Lego-Lego dan Cakalele ialah tarian yang dilakukan untuk menyambut kedatangan tamu. Tarian ini dilakukan kira-kira oleh 20 orang dengan bergandengan tangan seraya membentuk sebuah lingkaran dan bergerak mengelilingi mesbah (batu bersusun) yang di atasnya disimpan moko.

Tariannya diiringi tetabuhan gong dengan penari lelaki akan bersyair dan mengenakan perlengkapan adat termasuk senjata. Syahdan, ketika saya datang, saya disambut dengan kedua tarian tersebut, dan kami pun menari bersama-sama.

Sekadar informasi, jika ingin mengunjungi desa-desa adat yang ada di Alor, Anda dapat menghubungi Dinas Pariwisata Kabupaten Alor terlebih dahulu untuk dibantu agar dapat melihat serta ikut menari tarian Lego-Lego dan Cakalele tersebut.

Selain menari, hal lainnya yang saya lakukan juga mencoba bermain panahan. Busur dan panah merupakan buatan mereka sendiri yang diambil dari buluh yang lentur. Akan tetapi, jangan salah, meski terbuat dari bambu, panahnya sangat tajam dan mampu menancap di batang pohon sekalipun. Wajar saja, sebab busur dan panah tersebut juga terkadang mereka gunakan untuk berburu.

Tidak hanya itu, para pria Bangtowo juga menunjukkan kepada saya bagaimana mereka membuat api secara tradisional dengan menggunakan bambu dan batu yang permukaannya saling digesekkan, persis ketika zaman nenek moyang dahulu membuat api.

Mengejar matahari Pelabuhan Maritaing

Memasuki hari kedua pelesiran saya di Alor, saya berencana melihat matahari terbit. Menurut Kakak Mumu dan Kakak Rana, dua pengemudi asli penduduk lokal yang ditugasi untuk mengantar saya, titik matahari terbit terbaik ada di Pelabuhan Maritaing.

Namun, untuk menuju titik ini dibutuhkan upaya yang cukup lebih. Pelabuhan ini berada di Alor Timur, sedangkan saya berada di Alor Barat. Pelabuhan ini pun berbatasan dengan Timor Leste.

Akan tetapi, demi mendapatkan best view dari terbitnya matahari, saya pun bersedia bangun pukul 01.00 waktu setempat agar tidak melewatkan kesempatan melihat cantiknya matahari pagi di timur matahari.

Perjalanan mengejar matahari dimulai pukul 01.30 waktu setempat. Dengan kecepatan super, Kakak Mumu dan Kakak Rana mengemudi melewati setiap kelokan menuju Pelabuhan Maritaing.

Sayangnya, kami kurang beruntung. Proses yang dinanti tak kunjung terlihat karena awan mendung tebal menutupi. Rasa kecewa pun mencuat, tetapi kami tak menyerah. Kami menunggu cukup lama hingga akhirnya kami pun melihat matahari muncul dengan cantiknya meski tanpa melihat bagaimana proses kemunculannya. Ya, setidaknya tidak sia-sia upaya kami bangun dini hari untuk menempuh jarak 84 kilometer ke Alor Timur.

Tenun dan kuburan

Masih melanjutkan keseruan hari kedua saya pelesiran di Alor. Setelah puas melihat matahari terbit, saya ditemani Kakak Mumu dan Kakak Rana pun melanjutkan perjalanan untuk melihat kearifan lokal lainnya di Kecamatan Alor Timur, yakni Rumah Tenun Kolana dan Situs Pekuburan Raja-Raja Kolana, serta Pantai Dulibala yang dikenal warga setempat dengan batu lubangnya.

Di rumah tenun Kolana ini kita juga bisa melihat para mama, sebutan untuk ibu di NTT, yang dengan uletnya menenun helai demi helai benang untuk dijadikan kain tenun dengan motif-motif khas Kolana.

Kain-kain tersebut bisa Anda beli dengan harga mulai Rp50 ribu saja. Harga ini termasuk murah untuk ukuran sebuah kain tenunan. Ketika hendak membeli, saya teringat akan perkataan teman saya yang berasal dari Flores terkait dengan sebuah kain tenun.

Ia bercerita, untuk membuat satu kain tenun diperlukan tenaga, waktu, dan kesabaran yang tidak sedikit, sehingga sebisa mungkin diharapkan pembeli tidak menawar harga guna menghargai jerih payah para mama dalam menenun. Hal ini pun saya terapkan, toh Rp50 ribu bukanlah harga yang mahal.

Puas melihat-lihat kain tenunan yang indah, saya pun diajak untuk melihat situs pekuburan Raja-Raja Kolana, yang terletak di samping rumah Bapa Raja, yang merupakan keturunan terakhir dari para Raja Kolana tersebut. Mari ke Alor! (mi/gma)

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *