Aldo Doken dan Janji yang tak akan Terpenuhi

  • Whatsapp

 SUASANA Wulandoni, kemarin sekitar pukul 08.00 Wita, sungguh ramai. Warga empat desa memenuhi lapangan sepak bola, pusat perayaan Paskah di salah satu kecamatan di Nusa Tenggara Timur itu.

Sejak pagi, pandangan mereka bergeming ke arah timur, satu-satunya jalan pintu masuk ke Wulandoni. Banyak ibu-ibu tak kuasa menahan air matanya. Tangisan pun pecah saat ambulans tiba mengantar jenazah Antoniu Duan alias Aldo Dokeng, siswa Kelas I SDK Lewuka.

Aldo ialah salah satu dari tujuh korban tewas akibat tenggelamnya perahu motor Nelayan Bhakti 74 yang membawa peziarah Katolik untuk mengikuti prosesi Jumat Agung di Selat Gonzalu, Flores Timur, Jumat (18/4).

Putra semata wayang pasangan Yohanes Liku Dokeng dan Maria Goreti Nog Wutun itu pada Selasa (15/4) bersama neneknya, Edmundus Juang Wutun, berangkat dari Dusun Snaki, Desa Belobao, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata. Bocah 7 tahun itu begitu antusias mengikuti prosesi Samana Santa (Jumat Agung) di Kota Larantuka, Flores Timur.

Baca Juga :  Saya Menunggu di Montmartre

Larangan sang ayah, Yohanes Liku Dokeng, agar tidak perlu pergi tak ia indahkan. Ajakan tantenya, Juliana Wu tun, untuk menumpang perahu nelayan Bhakti 74 ia sambut dengan sukacita kendati sang nenek sudah memintanya untuk tidak naik perahu maut itu. “Neneknya sempat larang, tapi anak ini bilang kami jalan jauh dari sana (Lembata) mau ikut prosesi. Akhirnya mereka bersama mama bonsunya (adik dari ibu Aldo), berangkat dan akhirnya tenggelam,“ ucap Yois Atawolo, kerabat korban.

Aldo ditemukan tewas di sekitar lokasi tenggelamnya perahu nelayan Bhakti 74 dengan posisi menelungkup. Tanteo nya saat ini kritis dan dirawat di RSUD Larantuka. Adapun Tian, 12, anak dari Yuliana Wutun yang juga ikut dalam ziarah itu belum ketahuan nasibnya.

Bagai disambar petir di siang bolong, itulah kabar memilukan tentang sang anak yang diterima ayah Aldo. Ia pun pingsan seketika ketika sedang berlatih paduan suara untuk misa Sabtu Suci di Gereja Paroki Wulandoni, kemarin.

Baca Juga :  David, Kami Tak Mampu Berpisah...

“Ayahnya berteriak histeris dan sempat memarahi istrinya yang mengizinkan anak semata wayang mereka mengikuti prosesi di Larantuka. Dia sempat mau menghajar istrinya, tetapi tak jadi dan langsung pingsan,“ tutur Atawolo.

Aldo, bocah pandai dan penurut itu sempat berjanji kepada sang ayah untuk menceriterakan serunya prosesi Samana Santa di Larantuka saat kembali nanti. Di bibir meja tempat jenazah Aldo dibaringkan, Yohanes Liku Dokeng dengan sisasisa suaranya pun meminta sang buah hati memenuhi janji yang diucapkan.

Namun, janji itu tak akan pernah bisa ditepati Aldo di dunia ini. Entah kalau suatu saat nanti bapak anak itu bersatu di pangkuan Tuhan. (Sumber: Media Indonesia/Alexander/Palce)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *