Musim Kemarau, Petani Muda NTT Tak Lagi Galau

  • Whatsapp
Ilustrasi: foto: lintasntt.com

Kupang – Musim kemarau menjadi tantangan tak terperi bagi petani untuk berproduksi, terlebih bagi mereka yang menggarap lahan-lahan kering di Nusa Tenggara Timur.

Namun inovasi-inovasi dan teknologi yang telah mulai diadopsi membuat tantangantantangan itu mulai dapat diatasi.

Read More

Pemenuhan kebutuhan air untuk usaha pertanian seringkali tidak pernah optimal karena harus bersaing dengan pemenuhan kebutuhan air untuk keperluan domestik, belum lagi teknik pengairan, suhu dan kondisi tanah membuat produktifitas air cenderung rendah.

Methy Omenu petani muda dari Kabupaten Timur Tengah Utara mengakui ketersediaan air menjadi kian terbatas di musim kemarau sehingga sumber daya air harus digunakan sebaik mungkin. Tingkat efisiensi penggunaan air harus ditingkatkan, produktivitas air harus dioptimalkan.

Terinspirasi dari program LSM dan belajar secara mandiri di internet, sejak 2017 Methy telah memasangi instalasi irigasi tetes (drip irrigation) di lahan pertaniannya.

Menurutnya teknologi irigasi tetes telah terbukti mengatasi sejumlah tantangan sekaligus, terutama meningkatkan produktifitas air, sehingga setiap individu tanaman mendapatkan asupan air dan nutrisi yang sama langsung pada akarnya. Petani muda yang belum genap 30 tahun ini  mengungkapkan penghasilanya meningkat drastis dengan penggunaan teknologi ini.

Baca Juga :  Positif Covid-19 di NTT Bertambah Lagi Tiga Orang dari Sumba Timur

“Saya dulu susah-susah bertani hasilnya satu juta, hanya mengandalkan musim hujan saja, sekarang seperti tak kenal musim, penghasilan saya bisa puluhan juta dan lahan yang mampu saya garap dengan inovasi ini meningkat dari 20 are menjadi 2 hektare, dan kini dengan dukungan keluarga akan menambah luasan satu hektare” jelasnya gembira.

Ia juga menjalaskan bahwa skema pembelian tekologi irigasi Tetes saat ini kian memudahkan bagi petani dan kelompok tani.

Luasan lahan kering di NTT termasuk yang terluas yang tersebar di gugusan pulau-pulau Flobamora yaitu mencapai 1,5 juta hektare. Perhatian untuk pengelolaan lahan kering di NTT telah menjadi perhatian pemerintah, perguruan tinggi, swasta, hingga lembaga swadaya masyarakat.

Power Agro Indonesia adalah salah satunya. Perusahaan sosial yang mengusung inovasi dan teknologi untuk pertanian dan perdesaan mendukung dengan menyediakan produk-produk teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas petani di wilayah NTT salah satunya adalah Irigasi Tetes dengan Pompa Bertenaga Surya. Sejak tahun lalu Power Agro membantu pemerintah melahirkan pengusaha-pengusaha muda di bidang pertanian.

Baca Juga :  Terbawa Arus ke Perairan Timor Leste, Nelayan Belu Dipulangkan, Perahu Ditahan

Alex Pandang, Sales Manajer Power Agro Indonesia mengungkapkan upayanya ini adalah dalam rangka mengoperasionalkan gagasan visioner dari pemimpin-pemimpin di setiap daerah.

“Kita melihat gubernur dan para bupati sudah memiliki ide dan arah pembangunan pertanian, tentu pertanian yang dimaksud berbeda dengan di Jawa atau Sulawesi Selatan, dengan kekhasan  wilayah, NTT memiliki potensi yang tidak terbatas, dan kami mencoba berkontribusi dengan cara menghadirkan teknologi-teknologi pertanian dan perdesaan ini yang murah dan mudah”.

Ia menjelaskan model penjualan teknologi irigasi tetes bertenaga surya dari perusahaan sosialnya meliputi perencanaan, desain instalasi, pemasangan hingga menyediakan konsultasi menerus pada para petani. (Power Agro Indonesia)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *