Penangkar Benih Jagung NTT Kenali Teknologi Irigasi Tetes

  • Whatsapp
Sumber Foto: Agroindonesia.co.id

Kupang – Upaya berbagai pihak untuk meningkatkan produksi jagung di Nusa Tenggara Timur (NTT) lambat laun membuahkan hasil.

Pertumbuhan produksi jagung menunjukan angka yang cukup menggembirakan, bahkan peningkatan produksi dari 2016-2017 mencapai 167,63%.

Read More

Namun kenyataan tersebut tidak dibarengi dengan kemampuan produksi petani penangkar menghasilkan benih bermutu dan memenuhi kebutuhan di NTT. Berbagai persoalan masih membelit petani penangkar benih mulai dari produksi, penjaminan kualitas, dan pemasaran hasil-hasilnya.

Dari sisi kegiatan produksi benih nampak masih menjadi persoalan paling serius. Sebagaimana umumnya juga dialami oleh kegiatan budidaya dan usaha pertanian lainnya di NTT, ketersediaan air menjadi tantangan yang harus segera dipecahkan.

Di sela-sela kegiatan pelatihan pengembangan usaha perbenihan jagung yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bekerjasama dengan BPTP dan PRISMA, sejumlah petani penangkar jagung mengunjungi kantor Power Agro Indonesia di Jalan Monginsidi untuk mempelajari lebih dalam sistem irigasi tetes dan potensi penggunaanya untuk peningkatan produki benih dan kegiatan budidaya jagung.

Baca Juga :  UMKM di NTT Butuh Pelatihan Pemasaran Digital  

Teknologi irigasi tetes (drip irrigation) nyatanya telah banyak diterapkan pada usaha pembenihan dan budidaya jagung terutama di Amerika Serikat. Dengan penuh antusias petani penangkar benih mempelajari keseluruhan sistem dan aplikasi irigasi tetes untuk tanaman jagung termasuk merancang lahan dan perhitungan investasinya.

Gaspar Bao, penangkar benih dari Kabupaten Sikka mengungkapkan keharuannya karena telah dikenalkan secara langsung inovasi dan teknologi irigasi tetes untuk tanaman jagung. Bahkan ia yakin bila teknologi ini diadopsi baik untuk pembenihan maupun budidaya maka penangkar dan petani akan mendapatkan keuntungan berlipat, tidak hanya pendapatan tetapi juga kemudahan dalam bekerja.

“Saat ini kami seperti pemain sirkus, harus mengangkut mesin-mesin diesel ke lahan untuk menaikan air, tidak hanya mesin tetapi juga bahan bakar dan jalanan di kepulauan Flores tidak seluruhnya baik, banyak kerepotan, sedangkan sistem pompa bertenaga surya akan sangat meringankan,” ungkapnya, Minggu (30/8).

Baca Juga :  Bupati Rote Ndao Tegaskan Dukung Program Ubi Ungu

Penangkar benih lain dari Kabupaten Timor Tengah Selatan, Stefanus Bani menyatakan irigasi tetes dan pompa air tenaga surya adalah solusi yang telah ditunggu-tunggu sejak lama.

Saat ini penangkar dan petani harus menanggung biaya BBM yang jumlahnya tidak sedikit setiap musim tanam untuk mengairi tanamannya. Ia bersyukur kini teknologi irigasi tetes telah hadir di daratan Timor sehingga lebih murah dan mudah didapatkan.

Pada kunjungan belajar tersebut, Ronald Gunawan dari Power Agro Indonesia menjelaskan aplikasi teknologi irigasi tetes untuk pembenihan dan budidaya jagung yang menguntungkan.

Dalam penjelasannya ia menguraikan bahwa air diperlukan untuk terjadinya perkecambahan dan harus tersedia selama daur hidup tanaman. Namun, terlalu banyak air atau terjadinya genangan akan menyebabkan benih busuk atau bahkan kematian tanaman.

Selain membantu perkecambahan (germination) yang baik, penggunaan irigasi tetes juga akan mengurangi gulma dan beberapa penyakit termasuk mengontrol pasokan pupuk sesuai dengan kebutuhan dan pertumbuhan tanaman. (*/gma)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *