Kronologi Siswa SMP Meninggal Digigit Anjing di Amarasi Selatan, 488 Anjing Divaksin

  • Whatsapp
Ilustrasi Anjing Rabies/web

Kupang – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) bereaksi setelah mendapat laporan masyarakat ada satu orang warga Desa Sahraen Kecamatan Amarasi Selatan meninggal setelah digigt anjing. Korban berinsial AS, 15 tahun merupakan siswa kelas 3 salah satu SMP di Amarasi Selatan.

Ia meninggal dalam perawatan di salah satu Rumah sakit swasta di Kota Kupang. Anjing yang menggigit AS tersebut, beberapa hari sebelumnya dibawa oleh ibunya dari Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Read More

Setelah AS meninggal, Dinas Peternakan Kabupaten Kupang melakukan vaksinasi anjing di Desa Sahraen, Amarasi Selatan, tercatat 488 anjing di desa tersebut telah divaksin antirabies.

Tim gabungan yang terdiri dari tenaga tekhnis sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti dinas kesehatan, dinas peternakan, BPBD, pemerintah kecamatan dan desa terjun ke Sahraen tanggal 2 Juli 2024 setelah mendapat laporan kalau ada satu warga Sahraen meninggal setelah digigit Anjing beberapa hari sebelumnya.

Kepala bidang (Kabid) Keswan Disnak Kupang, Yosep Paulus, Rabu (10/7/2024) menginformasikan anjing yang menggigit AS juga sudah mati dan sampel otak dari 6 ekor anjing yang berada dalam 1 rumah dengan anjing yang menggigit korban sudah diambil petugas untuk diperiksa cepat di laboratorium UPTD Veteriner provinsi NTT.

Hasil pemeriksaan laboratorium negatif atau otak enam ekor anjing tersebut tidak mengandung virus rabies. namun pihaknya meneruskan sisa sampel otak keenam ekor anjing tersebut ke laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar – Bali untuk diperiksa secara spesifik soal virus rabies. “Kami masih menunggu hasil uji lab dari Denpasar untuk memastikan apakah ada virus rabies atau tidak dari sampel yang kita kirim,” katanya.

Yusak Paulus menjelaskan kronologi kejadian itu bermula dari ada seekor anak anjing yang dibawa ibu korban dari keluarga mereka di Desa Oebelo kecamatan Amanuban Selatan kabupaten TTS pada 18 Mei 2024.

Pada tanggal 22 Mei anak anjing tersebut mengigit Ariston dan menimbulkan luka goresan di dekat mata. Dua hari setelah itu atau tepatnya tanggal 24 Mei, anjing tersebut mati.
Dan kemudian pada tanggal 26 Juni, Ariston mulai sakit dengan gejala suhu badan panas.

Kondisi yang dialami Ariston baru direspon orang tuanya dengan membawa AS ke Rumah sakit Leona Kupang pada tanggal 28 Juni dan keesokan harinya atau tanggal 29 Juni 2024, korban meninggal.” Tanggal 2 Juli kita terima laporan dan langsung ke lokasi,” katanya.

Sementara anggota DPRD, Deasy Ballo – Foeh mengatakan pencegahan dini penyebaran virus rabies di kabupaten Kupang perlu dilakukan secara intens oleh pemkab karena virus rabies diketahui dapat menular dengan cepat.

“Jika benar rabies informasi harus di buka secepatnya bagi masyarakat utk pencegahan dini penyebaran kasus dan pemerintah agar secepatnya melakukan langkah konkrit.Sebaiknya semua anjing milik masyarakat mendapatkan Faksin mengingat penyebaran rabies ini sangat cepat.Berharap pemerintah segra merilis informasi pasti bagi masyarakat,” katanya. (Jmb)

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.