Denpasar – Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, melakukan pertemuan resmi dan silaturahmi dengan Gubernur Bali I Wayan Koster di Bali, Kamis (30/1/2026).
Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan komitmen bersama dalam menjaga harmoni sosial, martabat warga, serta persaudaraan kebangsaan antara masyarakat Bali dan NTT.
Pertemuan tersebut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bali, Wali Kota Denpasar, Bupati Badung, dan Bupati Karangasem. Turut hadir Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Piek Budyakto, Kapolda Bali Irjen Pol. Daniel Adityajaya, Danrem 163/Wirasatya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, Kajati Bali Dr. Chataringa Muliana, serta sejumlah pejabat strategis Pemerintah Provinsi Bali.
Dari Pemerintah Provinsi NTT, hadir sejumlah kepala daerah dan pejabat, di antaranya Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali, Bupati Sumba Barat Daya Ratu Ngadu Bonu Wulla, Wakil Bupati Sumba Tengah Marthinus Umbu Djoka, serta pejabat Pemprov NTT terkait. Hadir pula tokoh dan sesepuh Diaspora NTT di Bali, termasuk perwakilan paguyuban kabupaten/kota se-NTT.
Pertemuan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Wakil Gubernur NTT di Provinsi Bali, yang sebelumnya diawali dengan dialog bersama Diaspora NTT serta pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Badung dan Karangasem pada 28–29 Januari 2026.
Kunjungan tersebut menjadi ikhtiar strategis Pemerintah Provinsi NTT untuk merajut kembali keharmonisan sosial, memperkuat hubungan antarpemerintah daerah, serta membangun rasa saling percaya antara masyarakat Bali dan masyarakat NTT. Lebih dari sekadar pertemuan formal, agenda ini mencerminkan kehadiran negara dalam menjaga persatuan, ketertiban sosial, dan kohesi kebangsaan di tengah dinamika mobilitas penduduk antarwilayah.
Dalam forum dialog yang berlangsung hangat dan terbuka, Wakil Gubernur NTT menyampaikan bahwa pemerintah daerah menyadari adanya ketidaknyamanan yang sempat dirasakan masyarakat Bali akibat perbuatan oknum tertentu yang mengatasnamakan warga asal NTT. Menurutnya, peristiwa tersebut tidak boleh digeneralisasi karena berpotensi menimbulkan stigma negatif terhadap masyarakat NTT secara keseluruhan.
Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster menegaskan pentingnya menjaga situasi yang kondusif dan menghindari isu-isu sensitif yang dapat memicu konflik horizontal.
“Kita harus bersama-sama mengantisipasi agar tidak muncul hal-hal sensitif yang berpotensi memicu konflik sosial. Bali adalah destinasi dunia yang harus kita jaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanannya. Saya mengapresiasi inisiatif Pemerintah Provinsi NTT yang hadir membangun dialog secara terbuka,” ujar Koster.
Ia menambahkan bahwa mobilitas penduduk antarwilayah merupakan bagian dari dinamika kebangsaan Indonesia. Karena itu, dialog, kolaborasi, dan saling pengertian harus menjadi landasan utama dalam menyikapi berbagai tantangan sosial.
Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada Pemerintah Provinsi Bali dan seluruh masyarakat Bali.
“Atas nama Pemerintah Provinsi dan seluruh masyarakat NTT, kami menyampaikan permohonan maaf atas terganggunya keharmonisan, ketenteraman, dan kenyamanan masyarakat Bali akibat ulah oknum tertentu. Kami berharap momentum ini menjadi pembelajaran bersama sekaligus menghapus stigma negatif terhadap masyarakat NTT yang pada dasarnya cinta damai dan menjunjung tinggi nilai persaudaraan,” tegas Johni.
Ia menegaskan bahwa hubungan Bali dan NTT bukan semata hubungan administratif, melainkan ikatan sosial, budaya, dan kebangsaan yang telah terjalin lama. Karena itu, menjaga harmoni sosial merupakan tanggung jawab bersama yang harus diupayakan secara berkelanjutan.
Dalam konteks pembangunan, Wagub NTT juga menyoroti pentingnya kerja sama antardaerah, khususnya di bidang ketenagakerjaan. Menurutnya, Bali menghadapi tantangan depopulasi tenaga kerja, sementara NTT memiliki sumber daya manusia yang siap bekerja dan berkontribusi secara positif.
“Ini adalah peluang simbiosis mutualisme. Tenaga kerja NTT siap berkontribusi bagi Bali, sekaligus memperkuat persatuan dan kemajuan bangsa,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, sebelumnya pada 28 Januari 2026 di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, telah dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama antara Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena dan Gubernur Bali I Wayan Koster. Kesepakatan tersebut mencakup penguatan komunikasi budaya, pembukaan ruang dialog inklusif, pembinaan warga sebelum bermigrasi, serta penegakan hukum yang adil tanpa stigma.
Selain bertemu Gubernur Bali, Wagub NTT Johni Asadoma juga melakukan silaturahmi ke Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali. Dalam pertemuan tersebut, Wagub NTT kembali menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi NTT untuk membina warganya agar menghormati adat istiadat, nilai lokal, dan kearifan budaya Bali.
Silaturahmi lintas pemerintah dan adat ini menjadi simbol penting bahwa pendekatan dialog, budaya, dan kearifan lokal merupakan fondasi utama dalam menjaga harmoni sosial serta memperkuat persaudaraan dalam bingkai NKRI. (*/gma)














