Cegah Stunting di Lembata, Plan Indonesia Resmikan Infrastruktur Air Bersih Lewat Jelajah Timur

  • Whatsapp
Foto: Plan

Lembata -Krisis air bersih masih menjadi isu utama yang berdampak terhadap pemenuhan hak-hak anak, terutama anak perempuan, agar terhindar dari stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sesuai riset Kementerian Kesehatan tahun 2022, sebanyak 60% kasus stunting disebabkan oleh kurangnya akses air bersih dan sanitasi yang layak.

Dalam menjalankan misi pemenuhan akses air bersih, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) meresmikan serta menyerahkan infrastruktur air bersih kepada pemerintah dan warga masyarakat Desa Mahal dan Mahal II, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pembangunan infrastruktur ini merupakan realisasi dari charity run Jelajah Timur Plan Indonesia yang berlangsung Lembata pada 2021.

“Melalui Jelajah Timur, Plan menggalang dana untuk memastikan akses terhadap air bersih bagi anak-anak serta komunitasnya di bawah 30 menit, sehingga, anak-anak dapat belajar dan bermain serta terlindungi dari kekerasan. Upaya ini juga mencegah stunting dengan memastikan biaya air dapat dialokasikan untuk makanan sehat dan bergizi,” kata Anggota Dewan Penasihat Plan Indonesia sekaligus salah satu pelari Jelajah Timur Nazla Mariza lewat keterangan tertulis, Selasa (18/6).

Nazla Mariza, Influencing and Programme Implementation Director Plan Indonesia yang menghadiri serah terima sistem air bersih di Lembata menyatakan akses air bersih adalah hak dasar setiap orang. Hingga saat ini, Plan Indonesia di Kabupaten Lembata telah membangun sisterm air bersih di 6 Desa yang telah memberi manfaat bagi 3.567 individu. “Akses ini menjadi salah satu dari lima fokus pemenuhan hak dasar anak-anak sponsor Plan Indonesia di NTT,” ujarnya.

Kepala Desa Mahal II, Yohanes Guido Tua, mengapresiasi pembangunan infrastruktur air bersih berkelanjutan ini.

Menurutnya, masyarakat di dua desa ini kesulitan mengalirkan air karena sumbernya berada lebih rendah dari pemukiman. Selama ini, mereka mengandalkan air hujan, mobil tangki penjual air, atau berjalan sekitar 60 menit untuk mengambil air dari mata air.

“Dengan adanya sarana air bersih, masyarakat desa bisa memangkas pengeluaran rumah tangga yang sebelumnya mencapai dua ratus ribu rupiah per bulan untuk membeli air dari mobil tangki. Sehingga, fasilitas ini mendukung upaya desa dalam menekan angka stunting sesuai dengan roadmap stunting 2023-2024,” ungkap Guido.

Sedangkan, Kepala Desa Mahal, Fransiskus Beni Orolaleng, mengatakan, pada 2021 hingga 2022 jumlah stunting di Desa Mahal sebanyak 20 anak.

Sejak pendampingan pencegahan stunting oleh Plan Indonesia, Desa Mahal sudah berhasil menekan angka stunting hingga 2 anak dengan rentan usia di atas dua tahun, sedangkan 0 bulan sampai 24 bulan sudah mencapai zero stunting.

“Kami akan memaksimalkan sarana air bersih ini untuk menekan angka stunting menjadi zero. Setelah serah terima kami akan menggelar musyawara lintas dua desa untuk menyepakati iuran swadaya masyarakat sebagai biaya operasional pengelolaan, pemeliharaan dan pegembangan sarana air bersih ini,“ tegas Fransiskus.

Infrastruktur air bersih berkelanjutan di Desa Mahal dan Desa Mahal II memungkinkan air dari mata air Wei Lariq mengalir ke pemukiman menggunakan metode antigrafitasi. Sehingga, masyarakat tidak perlu berjalan jauh untuk mengakses air bersih. Air dipompa ke tandon yang berada 2.000 meter di atas mata air, yang kemudian didistribusikan ke tugu-tugu kran yang tersebar di dua desa.

Sementara itu, Penjabat Bupati Lembata, Paskalis Ola Tapobali mengapreasiasi seluruh kerja Plan Indonesia di Kabupaten Lembata, termasuk upaya dalam mendukung pemerintah Kabupaten Lembata dalam meningkatkan akses air bersih bagi masyarakat.

Paskalis juga menghimbau masyarakat di desa-desa dampingan Plan Indonesia, Khususnya Desa Mahal dan Desa Mahal II yang telah mendapatkan dukungan sarana prasarana air bersih untuk menjaga dan merawatanya dengan baik.

“Semua manusia sangat merindukan air bersih. Akses terhadap ketersediaan air bersih adalah salah satu bagian penting dalam upaya menurunkan dan mencegah stunting serta mewujudkan PHBS dan STBM. Setelah serah terima dari Plan Indonesia kewenangan pengelolaan air bersih akan sepenuhnya berada dalam tanggung jawab masyarakat. Harapan kami masyarakat menggunakan sarana air bersih ini dengan efektif dan secara sukarela bertanggung jawab untuk pemeliharaan dan pengembangannya,” tegas Paskalis.

Jelajah Timur adalah charity run oleh Plan Indonesia yang telah berlangsung sejak 2019 dan berhasil mengumpulkan Rp8,1 miliar total pendanaan proyek. Kampanye ini juga telah memberikan manfaat bagi 17.588 anak dan warga di berbagai daerah dampingan Plan Indonesia, seperti Kabupaten Lembata. (*/plan)

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.