Batal Menjadi Petinju, Sukses Menjadi Peneliti kelas Dunia

  • Whatsapp

Jonatan Lassa ketika menjelaskan metode System of Rice Intensification (SRI) kepada para petani di Aek Dakka Pasir, Tapanuli tengah pada bulan Juli 2011. [Foto: Aktivitas Sarumaha]
Jonatan Lassa ketika menjelaskan metode System of Rice Intensification (SRI) kepada para petani di Aek Dakka Pasir, Tapanuli tengah pada bulan Juli 2011. [Foto: Aktivitas Sarumaha]
Matheos V. Messakh
Satutimor.com

SEANDAINYA Jonatan Lassa tidak dikatai bodoh oleh dua orang temannya SMA-nya, mungkin ia tidak akan pernah menjadi salah satu peneliti di Nanyang Technological University (NTU). Terima kasih kepada ibunya yang telah memaksanya masuk fakultas teknik yangmembuatnya melihat dunia yang lebih luas selain SoE, kota kecil di NTT di mana ia dilahirkan.

Bagi banyak orang pencapaian sebagai peneliti di beberapa tempat di luar negeri itu mungkin hal biasa, namun bagi anak yang lahir dari keluarga bersahaja di salah satu kabupaten di pedalaman Timor, mencapai Singapura adalah langkah raksasa.

Lahir sebagai anak sulung dari sebuah keluarga di Kampung Mollo di kota kecil SoE di pedalaman pulau Timor, ia harus bekerja meringankan beban orang tuanya. Jonatan mengakui ia bukanlah anak yang cerdas semasa Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Ranking kelasnya selalu di atas 20-30. Ia berjualan kue sejak SD kelas 5 sampai kelas dua SMP. Setiap hari sehabis kelas ia rata-rata menghabiskan dua sampai tiga jam menjual kue-kue yang dibuat ibunya.Kadang ada teman yang memandangnya rendah karena jualan kue bermakna orang miskin.

Hal ini membuatnya harus ketat membagi waktu belajar dan itu melemahkan semangat belajarnya. Ditambah lagi, sikap beberapa guru yang sering main pukul membuatnya ‘benci’ kepada pelajaran sekolah.

Namun dua kejadian kecil di bangku SMA 1 SoE turut merubah hidup Jonatan. Kejadian pertama sewaktu kelas I SMA, pernah dikatakan bodoh oleh rekan yang rangking 1 di kelas 1.4 di SMA. “Karena saya sakit hati, saya belajar keras khusus untuk semester itu saja. Akhirnya dari ranking duapuluhan dengan nilai rata-rata hanya 6.3, saya menjadi juara satu di semester kedua di kelas 1.4. SMA dengan nilai di atas 7.3 (tidak ingat persis),” kata Jonatan. Kelas 1.4 adalah kumpulan anak-anak yang masuk gelombang ke II ke SMA 1 SoE ditahun 1990.

Namun posisi juara kelas itu tak bisa dipertahankan setelah naik ke kelas dua. Mungkin saja karena ia belajar hanya untuk menutupi rasa sakit hatinya. Di kelas dua jurusan Fisika ia bukan murid yang luar biasa. Rangking tertinggi yang pernah ia raih adalah rangking sembilan. Yang sedikit menghibur hatinya adalah ia menjadi murid terbaik untuk lomba-lomba khas regime Orde Baru, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau dikenal dengan P4. Ia juga berjaya dalam Bahasa Inggris karena bermimpi ke Amerika.

Peristiwa kedua terjadi di Kelas III SMA, yang merubah hidup Jonatan. Ia ingat benar kejadian itu terjadi saat memasuki semester kedua kelas tiga SMA. Seorang guru matematika bernama pak Tunliu membuat test kecepatan geometri untuk murid-murid di kelas Jonatan. Karena kebetulan sempat belajar semalam, Jonatan menjadi yang tercepat menyelesaikan lima soal pertama.

Heran akan kerja Jonatan, sang guru mengejeknya. “Lassa, kau salah makan apa atau mimpi apa tadi malam?”, kata sang guru kepada Jonatan yang untuk pertama kalinya bisa menyelesaikan soal secara cepat dan benar.

Jonatanpun hanya bisa tertawa sambil bercanda dengan dua orang temannya yang adalah teman baiknya. Keduanya kebetulan adalah siswa jawara matematika. Salah seorang pernah menjadi juara satu lomba matematika di Kota Kupang dan seorang lagi selalu menjadi tiga besar di kelas dan selalu berprestasi.

Kedua siswa itu ternyata kurang menerima baik candaan Jonatan. Mereka mengatainya bodoh. “Mereka bilang bahwa saya baru hari itu saja tercepat sudah sombong,” kenang Jonatan.

Jonatan sebaliknya kecewa terhadap sikap teman-teman baiknya yang tidak menghargai pencapaiannya itu.

“Saya sendiri tidak tahu mengapa saya tercepat hari itu. Saya sadar saya anak bodoh. Tapi saya kecewa mengapa teman-teman akrab saya, yang all out luar dalam namun saya tak pernah iri kepada mereka. Saya tulus bagaikan saudara bagi mereka. Kami sering bersama. Mengapa ketika saya berhasil sedikit saja mereka iri? Ini menjadi salah satu titik balik bagi saya,” kata Jonatan.

Kemarahan yang dikuasai menghasilkan hikmat. “Sejak hari itu, sekitar Oktober 1992, I always pushed my self to learn and prove that I can be a good student if I study hard.”

Jonatan Lassa saat berada di Kingston, Jamaica pada bulan Mei 2010 dalam rangka riset tentang disaster management di kawasan Caribbean States. [foto: dok. pribadi]
Jonatan Lassa saat berada di Kingston, Jamaica pada bulan Mei 2010 dalam rangka riset tentang disaster management di kawasan Caribbean States. [foto: dok. pribadi]
Walaupun ia bukan murid yang luar biasa, Jonatan menjadi lebih percaya diri. Sejak peristiwa itu tidak bisa lagi dianggap enteng dalam pelajaran Fisika, Matematika apalagi dalam Bahasa Inggris. Cerita SMA itu berakhir dengan Jonatan keluar sebagai siswa dengan Nilai EBTA Murni (NEM) tertinggi di SMA 1 SoE. Ia mengingat peristiwa itu sebagai “the end of my stupidity.”

Walaupun lulus SMA dengan NEM tertinggi Jonatan tak punya niat untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Ia mengubur impiannya karena menyadari keadaan kedua orang tuanya.

Ia sadar akan kemiskinan ayah dan ibunya dan menurutnya sekolah tak akan banyak membantu. Ia keraskan niatnya untuk menjadi petinju. Mimpinya bukan tanpa alasan: seorang petinju dari kota dimana ia dilahirkan adalah petinju nasional yang sukses saat itu, Hermensen Ballo. Ia berteman baik dengan Hermensen dan sering bertemu di Wisma Sejati. Hermenson tidak pernah tahu kalau Jonatan menyukai tinju. Sebagaimana kebanyakan anak-anak NTT lainnya, Jonatan sudah mengatur rencana untuk kabur ke Jakarta untuk bergabung dengan sasana tinju. Ia bahkan tidak tahu harus bergabung dengan sasana apa.

Itulah sebabnya saat teman-temannya sibuk mendaftarkan diri ke beberapa perguruan tinggi di ibukora propinsi NTT, Kupang, Jonatan malah asyik camping ke pedalaman Timor Barat di kampung salah seorang kerabatnya.

Namun ibunya berkata lain. Perempuan yang saat itu berjualan kripik pisang dan kue-kue untuk membiayai pendidikan anak-anaknya itu, mendaftarkan anak sulungnya ke Universitas Katholik Widya Mandira di Kupang (sekitar 100 km dari Kota So’E). Jurusanpun dipilihkan oleh ibunya. Referensi sang ibu yang hanya berpendidikan SD ini berasal dari seorang tetangga yang kebetulan kuliah di Fakultas Teknik universitas tersebut.

Jonatan tidak bersemangat ketika disuruh mengikuti tes di universitas itu, namun ia pergi juga. “Alasan mama, saya anak pertama jadi harus sukses. Saya pergi untuk menyenangkan hati orang tua saya,” kenangnya. “Saya takut mereka pikiran.”

Walaupun di kemudian hari Jonatan mengakui bahwa pendidikan adalah kunci terbebas keluarganya dari kemiskinan, ia tidak sedikitpun bangga bisa masuk ke perguruan tinggi. Baginya kelulusannya adalah karena universitas swasta butuh mahasiswa.

Ia mengingat kuliah dua bulan pertama terasa begitu mudah. Tetapi ia mulai merasa kesulitan di semester 2-3 mendapati dosen-dosen yang menurutnya kurang siap mengajar selain 4-5 orang dosen yang berkompeten.

Perhatianpun dialihkan ke organisasi kemahasiswaan sehingga IPK-nya jatuh di semester 2-4. Untunglah dosen pembimbing akademisnya, Dr. Djwantoro Hardjito, sangat mendorong dan memberi semangat. “Setelah bertemu Djwantoro, saya merasa diberikan pandangan soal masa depan. Impian-impian menjadi petinju dan keluar dari kuliah sirna. Saya menjadi lebih fokus dan mulai bermimpi bisa menjadi profesor teknik sipil.”

Bagaikan Ernesto Che Guevera yang mulai terbuka matanya ketika menjelajahi benua Amerika Latin, perjalanan karir Jonatan selepas perguruan tinggi adalah penemuan-penemuan akan jati diri dan pencerahan akan ketidakadilan sosial.

Segera setelah menamatkan studi di tahun 1999, Jonatan ingin mengabdi pada almamaternya namun tidak ada tawaran kepadanya. “Biasanya anak-anak terbaik ditawari jadi dosen. Tapi saya saja yang tidak ditawari walau adik-adik semester yang maaf, tukang nyontek ditawarin.”

Tak patah semangat, ia mengajukan lamaran ke sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Kupang, Universitas Nusa Cendana yang kebetulan baru membuka jurusan teknik sipil. Seorang teman, almarhum Anton Wangsir, yang kebetulan adalah staf pengajar jurusan sosiologi di universitas ini menganjurkannya mengambil kesempatan ini.

“Saya agak percaya diri (bisa diterima) karena senior-senior saya di Unwira yang saya tahu kemampuannya biasa-biasa saja, bahkan ada yang menyelesaikan kuliah hampir duapuluhan semester bisa diterima di sana,” kata Jonatan.

Namun harapannya ini kandas lagi. Saat bertemu pimpinan UPT Teknik Undana saat itu, si Pimpinan mengatakan mereka memprioritaskan mereka yang telah menjadi tenaga honorer di Undana. “Saat itu saya membawa serta sertifikat TOEFL dan sertifikat juara pertama Lomba Menulis dan Seminar Mahasiswa Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil se-Indonesia 1997 dan beberapa sertifikat lomba menulis nasional,” kenang Jonatan.

Baca Juga :  Mensos Tinjau Warga Bedah Rumah di Kupang

Ditolak di salah satu perguruan tinggi negeri di Kupang, Jonatan melamar ke sebuah BUMN terbaik di awal tahun 2000-an, Rekayasa Industri. Perusahaan ini adalah management consulting untuk proyek PT. Semen Kupang II. Namun ia hanya bertahan di sana selama 10 bulan karena merasa ada diskriminasi gaji bagi anak-anak Indonesia timur saat itu.

Jonatan kemudian diterima pada badan PBB, World Food Program. Itulah untuk pertama kalinya ia naik pesawat terbang yaitu ketika menjalankan tugas dari Kupang ke Atambua. Ia berbasis di Kupang sebelum dipindahkan ke Atambua.

“Pengalaman di WFP itu membuka mata saya lebar-lebar. Tidak seperti teman-teman yang lain, saya biasanya merencanakan untuk berkunjung ke desa-desa yang belum pernah saya kunjungi. Jadi selama di WFP saya kunjungi sangat banyak desa yang saya lewati menuju atau dari kamp-kamp pengungsian. Itulah awal yang baik dalam melihat potret NTT, “ kata Jonatan. “Disinilah saya berpikir tentang inequality.”

Jonatan ingat persis dalam sebuah perjalanan dari Kobalima Timur di dekat perbatasan Indonesia-Timor Leste, ia meminta sopir WFP, Barce Bara, untuk menghentikan mobil agar ia bisa mewawancarai guru-guru di sebuah SD beratap alang-alang.

Ia ingat benar peristiwa ini karena saat ia meloncati pagar sekolah untuk masuk ke halaman sekolah, ia disambut seekor ular. “Saya kaget, untung ularnya kecil. Saya kemudian bisa mengontrol diri dan masuk ke ruang kelas yang sedang dalam jam istirahat.”

Jonatan mengingat di sekolah itu ada seorang guru yang sudah enam tahun mengajar dan gajinya adalah Rp. 50 ribu selama enam tahun itu.

“Saat itu gaji pacar saya Rp. 500 ribu dan saya sendiri mendapat gaji US$ 500 atau sekitar Rp. 4-5 juta dan gaji bos saya adalah US$ 5000. Bagaimana mungkin di tingkat yang paling vital, seperti guru-guru, penghargaan negara di daerah-daerah perbatasan begitu terbatas? Hal ini masih berlangsung sampai hari ini di sebagian sekolah di perbatasan. Peristiwa itu menjadi titik balik dalam hidup saya.”

Jonatan kemudian dipindahkan ke WFP Surabaya setelah penutupan kantor-kantor PBB akibat pembunuhan staff UNHCR di Atambua tahun 2000. Di Surabaya ia tanpa sadar banyak melatih diri menjadi peneliti karena setiap hari melakukan monitoring kelurahan-kelurahan miskin di Kota Surabaya secara rutin tiap minggu. “Selama 30 bulan, pekerjaaan saya adalah mewawancarai ibu-ibu termasuk para pedagang kecil.”

Di Surabaya Utara ia bertemu dengan seorang ibu bernama bu Surti, yang selama 30 tahun bekerja sebagai pengupas bawang dengan upah Rp. 200 per kg. Sehari maksimum 10 kg yang mampu dikupas. Jari tangannya sudah menjadi hitam permanen. Suaminya tukang becak dengan upah 10-15 ribu perhari.

Pengalaman-pengalaman inilah yang membuat sang sarjana teknik sipil ini ingin melakukan studi pembangunan secara serius.

“Saya tidak bernazar pada diri saya, tapi saya memaki diri saya. Saya merasakan ada ketidakadilan yang luar biasa tetapi sebagai orang teknik saya tidak mempunyai bekal menjelaskan fenomena sosial seperti yang saya alami selain merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan kita, ada sesuatu yang tidak benar.”

“Bagaimana mungkin saya menikmati gaji Rp. 6 jutaan di tahun 2001 hanya karena saya mendapat pendidikan universitas dan bisa berbahasa Inggris? Ini membuat saya menghargai pilihan mama dan papa saya yang menguliahkan saya namun saya merasa ada yang salah dengan sistem kita.”

Di dalam jubah kemiskinan selalu terdapat hikmat. Hikmat yang sama membimbing Jonatan untuk ketat menabung gajinya untuk meninggalkan tempat nyaman di WFP. Gajinya di WFP ia tabung mencapai sekitar Rp. 120 juta di tahun 2002. Tabungan itu ia gunakan secara merata untuk tiga kebutuhan besar dalam hidunya: menikahi gadis idamannya, membangun rumah dan membuka bisnis computer. Dari sinilah ia berpengalaman dalam merintis dan membangun bisnis untuk usaha kecil dan menengah, dimana ia sukses dalam merintis bisnis teknologi informasi di NTT sejak 2002. Bisnis ini sekarang dikelola oleh adiknya sendiri sejak 2002/2003.

Pria beristrikan Linda Nalle ini kemudian mengundurkan diri dari WFP di bulan Agustus tahun 2002 dengan gaji saat itu Rp. 6,4 juta. Walaupun sempat ditawari untuk tidak pindah dan gajinya akan dinaikan menjadi Rp 7.5 sampai Rp. 8 juta, Jonatan tetap memilih untuk kembali ke Kupang agar ia bisa dekat dengan istrinya yang adalah seorang perawat gigi yang tinggal di desa.

Ia kemudian diterima di sebuah LSM lokal, PIKUL dengan gaji yang hanya 30 persen dari gaji di WFP. Pikul berbasis di Kupang dan istrinya bekerja sekitar 70 kilometer dari Kupang sehingga ia lebih punya kesempatan untuk bertemu istrinya.

“Di PIKUL saya belajar banyak hal, termasuk dalam hal dimana sebagai pekerja LSM harus menginap hanya di hotel dengan harga maksimal Rp. 100 ribu saat itu. Saya menghargai nilai ini.”

Alasannya memilih LSM ini karena ia ingin melihat kerja-kerja LSM lokal dan mendapatkan tantangan baru. Di sinilah ia sedikit bernostalgia dengan apa yang pernah ia pelajari di universitas. Ia tertarik dengan posisi yang ditawarkan kepadanya yaitu ketahanan pangan dan management bencana karena ketika di Unwira ia mendapat mata kuliah soal management bencana, irigasi pertanian serta management sumber daya air.

“Disinilah, walaupun gajinya tidak sebanding LSM internasional, namun saya merasa mendapatkan sesuatu yang hilang yakni fighting spirit untuk social justice,” kata Jonatan. Di LSM inilah sebagai program officer ia mendapat kesempatan mengunjungi daerah-daerah seperti Nunukan, Wamena, Poso, Flores, Alor, Sumba dan pedalaman Timor.

Sambil bekerja ia terus mengukuhkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan. Ia merasa LSM kadang kurang reflektif. Intervensi dan pendekatan kadang terlalu ideologis ketimbang berbasis evidence. Sejak 2002-2003 ia hanya melamar beasiswa Chevening.

“Seperti ada yang membisikkan ke hati saya kalau saya pasti lulus ke United Kingdom,” katanya. “Hati saya begitu tenang soal sekolah, jadi di tahun 2003 ketika mendapat surat dari Chevening dengan amplop tebal, saya tertawa girang. Mengapa? Karna kalau tipis pasti isinya ucapan terima kasih bahwa saya sudah berusaha. Tapi kalau tebal, pasti ada lembaran konfirmasi. Jadi saya tersenyum-senyum. Teman saya di PIKUL yang bingung,” kenang Jonatan.

Ia mendapat British Chevening Awards dari British Council, UK di tahun 2004 untuk melanjutkan kuliah pada School of Development Studies di University of East Anglia, di Norwich, Inggris. Di Inggris, ia mengambil MSc Environment and Development dimana ia belajar studi pembangunan berkelanjutan.

Jonatan Lassa di depan gedung Widener Library di kampus Harvard University, AS pada bulan Mei 2011. [dok. pribadi]
Jonatan Lassa di depan gedung Widener Library di kampus Harvard University, AS pada bulan Mei 2011. [dok. pribadi]

Sebagaimana niat awalnya untuk serius mempelajari ilmu sosial, Jonatan memilih University of East Anglia karena di sanalah ada Piers Blaikie yang merupakan pemikir terkemuka soal political ecology. Menurut Jonatan, Blaikie sangat kuat dalam penjelasan-penjelsannya soal ekonomi politik bencana maupun perubahan ekologis lokal dan global.

“Di minggu-minggu pertama di kelas, saya jadi ingat kegiatan-kegiatan di kampung-kampung yang pernah kami kerjakan dengan teman-teman LSM lokal seperti FKPB, LPSHAM dsb,” kata John. “Saya merasa teman-teman LSM di Kupang misalnya seperti hidup di tahun 1970an atau 1980an dimana konsep-konsep terbaru yang datang dari refleksi-refleksi terbaru belum belum sampai kepada teman-teman di lapangan.Kerja-kerja di lapangan yang seringkali kita katakan sebagai realitas, justru lebih banyak dibuat berbasis kepada persepsi dan asumsi-asumsi yang mungkin belum sebenuhnya tepat untuk masyarakat. Lebih simplistic, reductionist.”

Ia mengaku mempunyai banyak teman pekerja LSM yang sangat cerdas namun tidak berkeinginan untuk melanjutkan studi dan itu membuatnya prihatin.

“Saya mau mereka melihat realitas yang saya lihat lewat perspektif-perspektif lain yang saya pelajari di bangku kuliah. Itulah alasannya mengapa saya merasa terpanggil menjadi scholar-activist. Saya merasa itu ruang kosong yang ada di Indonesia apalagi di Indonesia timur. Salah satu hal yang saya pelajari adalah soal experimen sosial berkedaulatan benih dari Shawn McQuire di University of East Anglia. Teman-teman baru menyadari ini 10 tahun kemudian! Jadi kelihatan betapa begitu lamanya jarak antara knowledge dan practice.”

Baca Juga :  Baku Tembak di Yogyakarta, Dua Orang Tergeletak di Jalan

Jonatan memang menaruh kerjanya di mana hati dan mulutnya berkata. Setelah menyelesaikan MSc pada University of East Anglia di tahun 2005, ia kembali ke Indonesia dan bekerja padasebuah LSM Belanda, Hivos,di Aceh, di mana ia antara lain merintis teknologi tepat guna seperti biogas, menciptakan tukang lokal yang mampu membangun reaktor biogas; dan memperkenalkan teknologi tepat guna lainnya seperti pengering dengan menggunakan solar energi. Ia juga aktif sebagai relawan untuk berbagai lembaga swadaya masyarakat yang tersebar di berbagai daerah termasuk NTT dan Aceh.

Walaupun bekerja di bagian paling barat Indonesia, jarak tak menjadi masalah bagi Jonatan untuk melakukan sesuatu bagi Indonesia timur. Dalam kesibukan-kesibukannya ia terus mempromosikan prinsip-prinsip kemandirian intelektual. Bersama beberapa rekannya ia mendirikan Forum Academia NTT (FAN), sebuah forum yang bertujuan merintis kajian-kajian tentang pembangunan Indonesia Timur khususnya Propinsi Nusa Tenggara Timur. Perhatian utamanya adalah mendorong anak-anak NTT untuk melanjutkan studi sampai ke luar negeri dengan sejumlah bantuan tehnis seperti Kursus Bahasa Inggris, penulisan proposal studi dan proposal penelitian, diseminasi informasi jurusan study dan perguruan tinggi. Sampai tahun 2014 FAN telah berhasil membantu puluhan anak NTT melanjutkan pendidikan tinggi di US, Australia, dan Eropa.

Selain memberikan bantuan untuk studi, FAN juga memprakarsai pemberian penghargaan untuk orang-orang NTT yang beprestasi di berbagai bidang. Penghargaan yang disebut Academia Award itu telah diberikan sejak tahun 2007 dan telah menobatkan lebih dari 21 akademisi dan tokoh yang berprestasi di bidang sastra, bidang pembangunan dan science/engineering.

Batal menjadi petinju, sukses menjadi peneliti. [dok. pribadi]
Batal menjadi petinju, sukses menjadi peneliti. [dok. pribadi]
Dua tahun setelah bolak balik Aceh dan Timor, di tahun 2007 Jonatan mendapat DAAD Awards, sebuah beasiswa penuh untuk melanjutkan studi PhD dalam Disaster Governance Research di University of Bonn dengan berbasis di United Nations University Institute of Environment and Human Security (EHS-UNU) di Bonn, Jerman. Studi ini ia selesaikan pada tahun 2011.

Saat sedang menanti pengesahan gelarnya di Universitas Bonn, ia mendapat kesempatan untuk post doctoral di Ash Center, Harvard Kennedy School, Harvard University, Cambridge, Massacussets, Amerika Serikat. Di Harvard anak penjual kue ini menyelesaikan risetnya tentang ‘Climate adaptation and disaster reduction in Indonesia.’

Setekah menyelesaikan PhD, jangkauan Jonatan semakin luas dan prestigious. Tulisan-tulisannya mulai bermunculan di berbagai media nasional baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris seperti Kompas dan The Jakarta Post. Berbagai karya akademiknya pun muncul dalam jurnal-jurnal akademik internasional. Lebih dari 100 karya tulis termasuk opini, artikel populer, artikel ilmiah dan buku telah dipublikasikan. Salah satu buku yangdiedit dan diterbitkan harian umum Pos Kupang adalah ‘Sejarah Pangan di Indonesia: Studi Kasus NTT 50 Tahun’ yang diterbitkan tahun 2009.

Setelah menyelesaikan PhD, Jonatan memboyong keluarganya pulang ke Kupang 2012 dengan impian bisa mendapatkan posisi di universitas lokal di Kupang dan membangun riset-riset berkelas dalam menjawab persoalan-persoalan strategis dan praktis di NTT maupun Indonesia. Apa daya tidak ada pintu yang terbuka baginya.

Namun semangatnya untuk membangun NTT tak pupus. Bersama beberapa orang teman iapun membangun sebuah think tank, IRGSC, yang bertugas mengkaji tatakelolah sumber daya alam dan perubahan social.

Dalam tujuh tahun terakhir ia bekerja dan melakukan studi di berbagai negara termasuk Indonesia, Inggris, Jerman, Thailand, Perancis, Belgia, Amerika Serikat dan Singapura. Pendiri Sekolah Kupang Montesori School ini dan juga anggota pendiri lembaga penelitian terkait tata-kelolah sumberdaya dan perubahan sosial ini saat ini bekerja di Singapura setelah di tolak sebagai pengajar di Kupang, NTT. Seorang temannya, Dominggus Elcid Li, PhD mengatakan bahwa Jonatan ‘bekerja di Singapura namun hatinya di Kupang.’

Oleh media beliau di kenal sebagai pengamat terkemuka soal kebijakan mitigasi bencana. Dr.Ing. Jonatan A. Lassa MSc juga memiliki reputasi internasional terkait penelitian terkait tata kelolah bencana dunia dan juga di dalam negeri. Pendekatan penelitiannya terkait disaster governance dan institutional vulnerability merupakan salah satu yang pertama di dunia.

Karena ingin membangun karir akademik yang lebih konsisten, maka pada awal 2014 ia diterima menjadi peneliti pada S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Nanyang Technological University (NTU). Penelitiannya meliputi Negara-negara di Asean seperti Thailand, Vietnam dan India serta ASEAN secara umum. Sebelumnya, di tahun 2011-2012, Jonatan pernah pula bekerja di NTU namun di institusi yang berbeda yaitu sebagai research fellow pada Institute of Catastrophe Risk Management.

Gerakan perubahan yang dibawa oleh Jokowi juga membawa efek yang besar buat Jonatan. Karena Jokowi membuka pintu lebih menggunakan pengetahuan dalam kebijakan publik, pria beberapa kali kecewa dengan institusi dalam negeri ini tetap melihat peluang untuk pulang ke Indonesia untuk berbuat lebih bagi keadilan sosial. “Ingatan pada sekolah di perbatasan Leste 2000 itu masih ada dan masih membakar,” katanya.

Menurutnya, Jokowi membuka ruang untuk meritokrasi. “Saya melihat kualifikasi mentri-mentri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) sebelumnya standard-standard saja. Tidak terlihat ada gagasan-gagasan yang sepadan dengan kompleksitas Indonesia saat ini. Nilai tambahnya masih terbatas,” kata Jonatan.

Baginya, pengalaman lapangan, pendidikan yangg tepat dan memadai serta pengalaman sebagai periset, ia punya nilai lebih untuk PDT ke depan. “Saya punya skill dan pengetahuan yang bisa membuat framing praktek Jokowi dalam bahasa-bahasa akademis maupun program,” tegasnya.

Jonatan sadar benar bahwa selalu ada faktor pendorong dan penarik dalam ruang meritokrasi yang ditawarkan Jokowi. Selalu ada kemungkinan bahwa meritokrasi yang dibuka Jokowi dibajak oleh partai politik dan para pendukung yang opportunis. “Karena itu kontrol rakyat pada Jokowi harus selalu ada dan jokowi butuh legitimacy rakyat untuk bisa buat legitimate decision,” katanya.

Lalu apa yang akan dikatakan Jonatan jika Presiden terpilih Joko Widodo ada di depannya?

“Beta hanya akan bilang kalau kalau pak Jokowi mau cari mentri PDT yang capable, maka beta salah satu orang yang tepat. Lima belas tahun ini merupakan tahun-tahun yang semuanya merupakan bekal yang pas untuk berkontribusi dalam membangun konsep pembangunan dan konsep kerja yang lebih innovatif dan lebih efektif di daerah-daerah berpotensi maju. Dari 183 kabupaten kategori PDT, perlu strategi yang pas berkembang,” katanya. [S]

Dr. Ing. Jonatan A. Lassa, MSc.

Pendidikan
• S3 – Dr. Ing., Fakultas Pertanian, Jurusan Geodesi/Geoinformasi, Universitas Bonn, Germany 2011. Fokus penelitian pada Disaster Risk Govenance.
• S2 – MSc Environment and International Development, University of East Anglia, Norwich, United Kingdom, 2005.
• S1 – Sarjana Teknik Sipil Unwira Kupang, 1999.

Course/Fellowship/Awards
• 2013 Summer School – Keamanan Air dan Pangan di Tropical Agriculture, University of Hohenheim, Germany.
• 2011. Postdoctoral Fellowship – Ash Center for Democratic Governance and Innovation (Program Indonesia), Harvard Kennedy School, Harvard University, Cambridge, MA, USA.
• 2011. Crisis Leadership – Executive Education Harvard Kennedy School, Harvard University, USA
• 2009. PhD School on Global Governance, Brussels, Belgium Summer Course on Global Governance and European Union
• 2007. PhD Course – Interdisciplinary Research Methods, ZEF, University of Bonn. Germany
• 2008. PhD Course – Social Science Research Methods, ZEF, University of Bonn, Germany
• 2008. Early Warning System, Asian Disaster Preparedness Center (ADPC) AIT Bangkok Thailand
• 2006. International Humanitarian Law Summer Course, Magdalene College, Cambridge University
• 2002. Disaster Management Training, ADPC – AIT Bangkok, Thailand

Keluarga:

Menikah dengan dua orang anak.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *