Larantuka – Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan pernyataan emosional terkait persoalan kemiskinan yang berujung pada tragedi kemanusiaan. Dengan suara bergetar menahan tangis, ia menyatakan kesiapannya memikul seluruh tanggung jawab atas peristiwa tersebut dan menegaskan tidak boleh lagi ada nyawa melayang akibat kemiskinan.
Pernyataan itu disampaikan Melki saat meresmikan NTT Mart di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Kamis (5/2/2026), di hadapan para kepala daerah dan pimpinan organisasi perangkat daerah setempat.
“Sebagai gubernur, yang saya jaga adalah kemanusiaan kita. Saya ambil tanggung jawab ini. Saya siap disalahkan atas peristiwa ini. Konsekuensi apa pun, termasuk yang datang dari Jakarta, saya siap. Tapi saya mohon, ini cukup yang terakhir. Jangan lagi ada orang mati sia-sia seperti ini,” tegas Melki dengan suara bergetar menahan tangis.
Melki menekankan bahwa kematian akibat kemiskinan merupakan kegagalan kolektif seluruh pemegang kekuasaan, mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten, hingga tingkat desa. Ia menyerukan refleksi dan pertobatan bersama agar negara benar-benar hadir melindungi warga paling rentan.
“Kita semua nanti mati cuma dua kali satu meter. Harta, kekuasaan, semua berhenti di situ. Setelah itu urusan kita dengan Tuhan. Karena itu saatnya kita berhenti main-main, terutama dengan data kemiskinan,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Melki secara tegas mengkritik praktik manipulasi dan ketidakakuratan data kemiskinan yang berdampak pada salah sasaran bantuan sosial. Ia meminta agar tidak ada lagi warga miskin yang terabaikan atau justru dikeluarkan dari daftar penerima bantuan.
“Data kemiskinan jangan main-main lagi. Jangan ada lagi orang miskin yang tidak terdata dan tidak terima bantuan. Siapa pun yang bersalah harus dihukum seberat-beratnya, bahkan lebih berat dari menghukum koruptor,” katanya.
Ia juga menyinggung tragedi kematian warga akibat persoalan-persoalan mendasar yang seharusnya dapat dicegah jika sistem perlindungan sosial berjalan dengan baik. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi tamparan keras bagi seluruh penyelenggara negara.
“NTT tidak miskin kepedulian. Kita tidak miskin kemanusiaan. Orang NTT hebat-hebat di mana-mana. Tapi kalau kita abai, semua kebijakan dan program jadi percuma,” ucap Melki.
Gubernur Melki mengaku menerima kemarahan dan kritik publik yang dialamatkan kepadanya, para bupati, hingga pemerintah daerah sebagai peringatan keras yang harus dijadikan bahan perbaikan.
“Hari ini orang maki gubernur, maki bupati, maki orang NTT. Terima itu sebagai tamparan keras. Tapi ke depan, saya harap kita betul-betul jaga data kemiskinan, jaga tetangga, jaga keluarga, lihat kiri dan kanan kita,” katanya.
Ia menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah, DPRD, perbankan, aparat, hingga tokoh sosial dan keagamaan, untuk memperbaiki tata kelola ekonomi dan perlindungan sosial agar tragedi kemanusiaan serupa tidak kembali terulang di Nusa Tenggara Timur. (*/gma/MI)














