Lamboya Barat – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, meminta agar atraksi budaya Pasola di Kabupaten Sumba Barat ditata lebih tertib tanpa menghilangkan nilai adatnya.
Hal itu disampaikan Johni seusai menyaksikan langsung Pasola di Desa Wetana, Kecamatan Lamboya Barat, Sabtu (14/3/2026).
Menurut Johni, penataan diperlukan agar tradisi yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumba tersebut tetap aman bagi peserta maupun penonton.
Ia mengusulkan agar para peserta Pasola menggunakan kaos seragam yang dibedakan berdasarkan kelompok. “Misalnya yang satu pakai warna merah, yang lain warna berbeda. Ikat kepala juga disesuaikan dengan warna kaos. Kalau perlu nanti saya sumbang kaosnya,” ujarnya.
Selain itu, Johni menilai perlu adanya wasit dari para rato atau tokoh adat yang mengawasi jalannya Pasola. Ia juga menyarankan dibuat garis pembatas di tengah arena agar masing-masing kelompok tidak melewati batas.
“Tadi saya lihat ada yang sampai masuk ke kelompok lain. Ini berbahaya. Karena itu perlu dibuat garis pembatas di tengah supaya masing-masing tidak melewati batas,” katanya.
Johni juga menyarankan agar area penonton dipagari menggunakan bambu, kayu atau tali sebagai penanda batas. Hal itu sekaligus menjadi cara untuk mendidik masyarakat agar patuh pada aturan. “Walaupun hanya tali rafia, itu tetap sah sebagai tanda batas dan tidak boleh dilanggar,” tegasnya.
Ia juga menyoroti potensi ekonomi dari kegiatan Pasola. Menurutnya, perlu disiapkan tempat khusus bagi pedagang serta tribun bagi penonton yang ingin menyaksikan Pasola dengan lebih nyaman.
“Kalau ada tribun yang lebih nyaman, bisa dibuat berbayar. Turis asing juga pasti tertarik menonton Pasola,” ujarnya.
Sebagai mantan atlet, Johni juga mengusulkan agar Pasola dapat dikemas dalam bentuk perlombaan dengan sistem penilaian sehingga ada pemenang di akhir pertandingan.
“Misalnya dihitung yang terkena tombak atau yang jatuh dari kuda nilainya dikurangi. Nanti di akhir ada pemenangnya,” katanya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah dan masyarakat menyusun proposal pengembangan kawasan Pasola untuk diajukan ke Kementerian Kebudayaan.
Sementara itu, tokoh adat setempat, Rato Wote Daro, mengatakan Pasola di Desa Wetana diikuti masyarakat dari beberapa desa di Kecamatan Lamboya Barat, seperti Wetana, Gaura, Patiala Dete, dan Hanona Kalla, serta warga dari kecamatan tetangga seperti Wanokaka dan Kodi. Ia memperkirakan jumlah penonton yang hadir mencapai lebih dari 10 ribu orang.
Rato Wote Daro menjelaskan, setelah Pasola biasanya dilakukan ritual pembagian ketupat sebagai simbol perdamaian.
“Dalam Pasola ada aksi dan reaksi, bahkan adu fisik. Tetapi setelah itu semua kembali berdamai. Ketupat dibagikan sebagai simbol perdamaian dan persaudaraan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pasola secara budaya berarti saling melempar tombak sambil menunggang kuda antara dua kelompok.
Tradisi ini merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Sumba yang diwariskan secara turun-temurun. (gma)
Kupang – Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, memimpin Apel Kendaraan Dinas lintas Pemerintah Provinsi NTT…
Kupang - Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, menyerahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan kepada 4.536…
Kupang - Pemprov NTT bersama Pemerintah Pusat dan seluruh pemerintah kabupaten dan kota se-NTT menggelar…
Manggarai -Kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur,…
Kupang - Antrean kendaraan untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) masih terlihat di sejumlah Stasiun…
Kupang - Sejumlah warga di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, ramai-ramai mendatangi Stasiun Pengisian Bahan…