Yomiani dan Kisah Satu Sepatu…

  • Whatsapp
Yomiani Radja/Foto: Linatasntt.com/Gama
Yomiani Radja/Foto: Linatasntt.com/Gama

YOMIANI Radja, 32, penyandang tuna daksa yang bekerja di Koperasi karyawan ‘Primadona’ Bank NTT pernah mengalami peristiwa paling menyakitkan dalam hidupnya

Bukan akibat salah satu kakinya diamputasi setelah kecelakaan lalulintas di Atambua pada 2008, melainkan ketika ia membeli sepatu di dekat rumah sakit tempat ia dirawat di Surabaya, Jawa Timur.

Ketika mengalami musibah, Yomiani bekerja sebagai relawan pada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Cis Timor yang menangani pengungsi eks Provinsi Timor Timur.

“Waktu itu jelang natal, saya membeli sepatu di mall dekat rumah sakit sambil naik kursi roda, ternyata ada ibu-ibu yang liat dan saling berbisik. Saya cuek saja, tetapi kembali ke rumah sakit, saya menangis karena baru sadar tadi ibu-ibu itu membicarakan saya,” cerita Yomiani kepada wartawan peserta pelatihan isu Disabilitas di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (14/12).

Sejak kejadian itu, ia bertekad untuk bangkit. Langkah pertama yang ia lakukan adalah memahami dirinya kini memiliki keterbatasan. Menurut Dia, keterbatasan seseorang ada pada pikirannya, bukan keterbatasan fisik orang itu.

Buktinya begitu kembali ke Kupang, ia ternyata diterima bekerja di Koperasi Karyawan Bank NTT yang bertanggungjawab terhadap masalah administrasi. Perjuangan masuk ke masuk ke Bank NTT juga ternyata tidak gampang.

Ia mengirim lamaran ke Bank NTT tiga kali dalam tiga berbeda yakni pada 2008 sebelum mengalami kecelakaan, kemudian dilanjutkan pada 2009, namun baru dipanggil untuk wawancara setelah surat lamaran ketiga pada 2011.

Baca Juga :  Aldo Doken dan Janji yang tak akan Terpenuhi

Syukurlah ia diterima. Manager Koperasi Karyawan Bank NTT Anselmus Tae mengatakan memilih alumnus Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya tersebut sebagai karyawan karena pengalamannya bekerja di LSM.

Ia juga punya pengalaman menangani masalah administrasi di tempat kerja sebelumnya di sebuah perusahaan di Surabaya. “Pendidikan dan pengalamannya, kami yakin ia memiliki kecakapan dan kemampuan serta tanggungjawab terhadap pekerjaannya,” ujar Anselmus. Benar. Baru dua bulan menduduki posisi tersebut, ia dipindahkan menangani pekerjaan yang lebih menantang di bagian penjualan.

Lolos tantangan merebut pekerjaan, ia masih bergumul melawan cibiran masyarakat. Akan tetapi semuanya itu dilewati dengan mudah serta berkat dukungan moril dari keluarga dan rekan kerja. Misalnya ketika pergi ke gereja, anak-anak selalu bertanya. “Kaki tante yang sebelah di mana?,” ujarnya. Sebenarnya pertanyaan itu membangkitkan lagi luka lama. “Tetapi saya sudah percaya diri, tidak menangsi lagi,” ujarnya.

Yomiani malah memberkan penjelasan kepada anak-anak yang menanyakan keberadaan salah satu kakinya dengan senyum. Dari situ, anak-anak jadi paham. Penjelasan ini juga menjadi pelajaran agar mereka berhati-hati jika mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya.

Di hari lain, Yomina juga pernah mengalami kejadian seperti sebelumnya. “Tetapi saya tidak perlu menangis lagi, saya sudah move on…,” ujar Yomiani. Misalnya jika ada yang memandang ke arah kakinya, sesekali ia berujar. “Kenapa lihat-lihat, belum pernah lihat orang tidak punya kaki ya?,”ujarnya sambil tertawa.

Baca Juga :  David, Kami Tak Mampu Berpisah...

Di tempat kerja, Yomiani mengaku tidak punya kendala serius melayani pembeli, kecuali mengambil barang di rak bagian tas yang harus membutuhkan bantuan karyawan lain. Begitu juga ketika ia pulang maupun datang ke kantor dari rumahnya di Kelurahan Oetete. Karena naik ojek, ia butuh bantuan orang lain agar bisa naik ke sepeda motor. “Ke mana-mana naik ojek harus ada yang bantu angkat ke sepeda motor,” kada Dia.

Kendati memiliki keterbatasan fisik, anak pertama dari tiga bersaudara ini tidak mau berpangku tangan. Di rumah, ia melaksanakan pekerjaan seperti memasak dan mencuci bersama ibu yang bekerja sebagai karyawan Badan Logistik Devisi Regional Nusa Tenggara Timur. Ayahnya pensiunan pegawai negeri sipil otomatis pendapatan keluarga ini bergantung dari Yomiani bersama ibunya. “Saya membantu membiaya adik-adik, ada yang masih pelajar SMA dan satu lagi mahasiswa,” kata Dia.

Yang pasti jelang natal seperti saat ini, Yomiani tetap akan pergi ke mal untuk membeli sepatu baru. Sayangnya, ketika pergi satu sepatu harus tinggal di rumah, karena ia hanya bisa memakai satu sepatu saja. (sumber: MI/Palce Amalo)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *