Warga Sumba Sumpah pada Tiga Gunung

  • Whatsapp

 

SUMBA
SUMBA

SUMBA–LINTASNTT.COM: Ratusan warga di Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, melakukan Festival Tiga Gunung Wai Humba atau Air Untuk Sumba,(5/11). Festival bertujuan untuk melestarikan budaya setempat.

Festival ini dilakukan dengan melakukan persembahan di sungai Pola Pare  dan diisi dengan beragam tarian adat, permainan tradisional beramain di air atau Pajulu Wai, ritual berbalas pantun atau Seiso sebagai pemanggil  akan nenek moyang untuk melindungi warga Sumba serta persembahan hewan kurban di sungai.

Menurut Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi, koordinator Festival Tiga Gunung “Wai Humba” adalah jembatan alternatif baru untuk mendekatkan kembali manusia dengan Sang Pencipta dan alam sekitarnya. Festival ini sesungguhnya terinspirasi dari Kalarat Wai atau Pa Erri Wee ala nenek moyang. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya Sumba dalam konteks pelestarian dan perlindungan alam dari pengrusakan yang serampangan.

Festival digelar sebagai kesempatan untuk mengucap syukur kepada Pencipta dan berterimakasih kepada leluhur yang telah menanamkan kearifan alam.

“Tiga gunung yakni Gunung Wanggameti, Tana Daru dan Yawilla merupakan tiga kawasan utama di Pulau Sumba yang berfungsi sebagai penyuplai kehidupan ekonomi, sosial budaya hingga kesehatan bagi warga Sumba. Ketiga kawasan ini telah dikeramatkan sejak nenek moyang. Wanggameti dalam terjemahan bahasa Indonesia berarti Menghalau Kematian. Menghalau kematian dalam cakupan pemahaman orang Humba bahwa Wanggameti memberi Air, Pangan, Tanaman Obat-Obatan, kayu kepada manusia sehingga manusia dapat bertahan hidup selama mungkin.” Jelasnya

Baca Juga :  Gunung Batutara di Lembata Meletus Setiap 20 Detik

Menurut  Rato  Dairo Bobo, Penjaga gunung Yawilla  festival ini bukan acara biasa namun merupakan sebuah pembaharuan janji bagi warga sumba agar tetap melestarikan alam sehingga air dapat terus mengalir dari 3 gunung di Pulau Sumba agar tidak terjadi Sumba yang mengarah pada kemusnahan.

“Sumpah yang dibuat di sini tidak boleh dilanggar karena siapapun yang melanggar akan terkena musibah seperti tersambar petir, keturunannya akan musnah, kelaparan serta bencana dan malapetaka lainnya,” tegasnya

Selain itu menurutnya Sejak dulu kala, nenek moyang Orang Sumba sangat menghormati leluhur dan sang pencipta alam semesta. Salah satunya dengan melakukan persembahyangan di pusat-pusat sumber daya air. Dalam bahasa Sumba Kambera disebut Kalarat Wai. Atau Pa Erri Wee dalam bahasa Sumba Wewewa. Kalarat Wai atau Pa Erri Wee merupakan aktivitas religius aliran kepercayaan Marapu (Agama Asli Orang Sumba).

Hingga kini, aktivitas tersebut masih sering dilakukan oleh orang-orang tua di kampung yang masih beragama Marapu. Aktivitas ini selain merupakan ibadah ucapan syukur juga sekaligus ibadah permohonan kepada pencipta agar senantiasa melimpahkan karunia air buat orang Sumba. Tidak boleh ada aktivitas manusia dalam hal pengrusakan, khususnya di kawasan-kawasan mata air tempat persembahyangan.

Baca Juga :  Sumba Barat Siapkan 250 Kuda untuk Parade Kuda Sandel

Masuknya agama-agama modern membuat tradisi ini perlahan mulai ditinggalkan karena oleh banyak kalangan dianggap kafir. Padahal tradisi ini sangat kental dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Berkurangnya kelekatan, penghormatan manusia terhadap alam dan Penciptanya mulai terasa dampaknya. Kini banyak kawasan tangkapan air di tiga gunung tersebut mulai dirambah dan dirusak fungsinya dengan melakukan penebangan hutan secara eksploitatif dan juga dimasuki industri tambang minerba.

“Humba sesungguhnya identik dengan air. Ini terbukti dengan semua daerah utama di Humba yang telah menjadi ibu kota kabupaten, semuanya menggunakan Wai atau Wee (Air) sebagai nama. Sumba Timur dengan Waingapu, Sumba Barat dengan Waikabubak, Sumba Tengah dengan Waibakul, Sumba Barat Daya dengan Weetebula (kini berubah jadi Tambolaka). Namun belakangan air sebagai identitas peradaban budaya seolah terlupakan dalam pembangunan di Sumba. Pembangunan telah banyak merusak peradaban budaya Sumba yang identik dengan air. Pembangunan mulai merusak kawasan tiga gunung yang merupakan penyuplai air terbesar di pulau ini,” keluhnya. (Sumber: Metrotvnews.com/Ignas Kunda)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *