Tokoh Muda TTS Dorong Pemda Manfaatkan Potensi Lokal Atasi Stunting dan Kemiskinan

  • Whatsapp
Dari kiri: DR. Franchy Christian Liufeto, Jemi Sonbai dan Djemi Lassa / foto: lintasntt.com

Kupang – Tiga tokoh muda asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur mendorong pemerintah daerah (Pemda) setempat memanfaatkan potensi lokal dalam upaya mencegah stunting dan kemiskinan.

Tiga tokoh muda tersebut yakni Dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) Dr. Franchy Christian Liufeto, Pengusaha Djemi Lassa dan Ketua Forum Peduli Tanah Timor, Jemi Sonbai.

Pasalnya, kabupaten di tengah Pulau Timor ini tercatat memiliki prevalensi stunting tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya di Nusa Tenggara Timur (NTT), sebanyak 8.924 anak atau 22,3% tersebar di 37 kecamatan. Data terakhir penduduk miskin di TTS yang dirilis pada 2022 berjumlah 120.450 orang dan garis kemiskinan Rp382.167 per kapita per bulan.

Menurut Christian, para pemimpin TTS sebelumnya, memiliki program pembangunan yang sangat bagus, akan tetapi ke depannya, tambah Dia, program pembangunan perlu fokus. Begitu juga pelayanan birokrasi harus memberikan porsi yang seimbang kepada tiga suku besar di sana, yaitu Amanuban, Amanatun, dan Mollo.

“Kemudian ada transformasi untuk pertanian yang diintegrasi dengan peternakan sehingga tidak dibangun secara parsial, sudah pasti anggarannya lebih efisien,” ujarnya kepada wartawan dalam diskusi di Kupang, Sabtu (9/3/2024) malam.

Program lain yang perlu didorong ialah usaha garam di pesisir selatan TTS untuk memenuhi kebutuhan garam di pasar lokal, serta tambak udang. Ini baru sedikit dari potensi yang perlu dikembangkan, menyerap tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) juga dibutuhkan untuk menciptakan tenaga kerja produktif yang terampil dan siap terjun ke dunia kerja seperti di bidang pariwisata

Kabupaten yang berjarak 110 kilometer dari Kota Kupang ini memiliki potensi wisata alam dan budaya yang sudah dikenal di secara luas, antara lain taman wisata Fatumnasi, Pantai Kolbano, Pantau Oetune, Pegunungan Fatunausus, Cagar Alam Gunung Mutis, Bukit Fatukopa, dan Desa Fatuulun yang dikenal dengan nama Negeri di Atas Awan.

Christian juga menyinggung soal ribuan pemuda dan pemudi usia produktif dari daerah ini memilih pergi ke daerah lain dan luar negeri menjadi tenaga kerja migran. Namun, banyak di antara mereka mengalami kekerasan dari majikan.

Kondisi seperti ini dapat dicegah dengan menyiapkan lapangan kerja di masyarakat serta memastikan kelangsungan produktivitas tanaman pertanian. “Sebenarnya, yang menjadi fokus itu di desa dengan menciptakan daerah-daerah produksi,” ujarnya.

Sementara itu, Djemi Lassa menyebutkan potensi lokal setiap desa TTS sangat besar, akan tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Untuk itu, untuk membangun daerah ini, perlu sumbang pemikiran dari masyarakat, termasuk para tokoh muda.

Potensi perikanan air laut dan air tawar juga sangat besar, perlu dikembangkan untuk mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, Dia minta pemimpin TTS fokus membangun daerah ini. “Tidak pernah fokus mau dibawa ke mana TTS,” sebutnya.

Ketua Forum Peduli Tanah Timor, Jemi Sonbai mengatakan, banyak orang muda orang muda potensial yang bisa diandalkan untuk menggerakan dan mempercepat pembangunan di wilayah TTS.

Dia menyebutkan, banyak anak muda ingin bersuara terkait pembangunan di TTS, sehingga berharap ada tokoh muda seperti Christian dan Djemi mewakil aspirasi mereka. “Kami memberikan ruang untuk memperkenalkan tokoh pemuda ini menjadi jembatan aspirasi dari seluruh anak muda,” ujarnya. (*/gma)

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.