Theresia Berjuang Penuhi Hak Pendidikan Anak-anak Sumba Tengah

  • Whatsapp
foto dok pribadi

THERESIA Sri Rahayu, guru SD Negeri Waihibur, Desa Umbu Mamijuk, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur, bukan guru biasa.

Bagaimana tidak, kendati mengajar di wilayah pedalaman dengan akses jaringan internet dan listrik yang terbatas, ia mampu mengumpulkan guru dari 81 sekolah dasar di kabupaten itu dalam sebuah komunitas bernama Kelompok Kerja Guru (KKG) Online Sumba Tengah.

Read More

Komunitas ini lahir dari keprihatinan masih rendahnya mutu guru dan siswa, serta pandemi covid-19 yang berdampak terhadap proses belajar-mengajar. “Keprihatinan itu, dan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, akhirnya menggerakan saya berinovasi dengan membuat satu perubahan secara nyata,” kata Theresia, Minggu (23/11).

Sebagai pendamping dan fasilitator guru penggerak satu-satunya di Sumba Tengah, Theresia termotivasi menjadi agen perubahan bagi guru-guru di sana. Lewat aplikasi zoom ia menginisiasi diskusi online yang melibatkan guru, dinas pendidikan, tokoh pendidikan di tingkat nasional, serta guru SD berprestasi dari daerah lain.

Diskusi online tersebut digelar setiap Rabu, Sampai pekan ketiga Oktober, diskusi online ini sudah berlangsung selama enam kali. Mereka membahas berbagai hal terkait dengan tupoksi guru seperti membuat perencanaan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kondisi pandemi covid-19 saat ini. “Bagaimana guru menyelenggarakan yang namanya ‘merdeka belajar’,” kata perempuan yang pernah meraih puluhan penghargaan nasional dan internasional itu.

Baca Juga :  Hari Ini Tidak Ada Positif Covid-19 di Kota Kupang, 2 Meninggal

Kegiatan diskusi online juga berkolaborasi dengan komunitas lainnya seperti ‘Belajar Guru Penggerak’, dan ‘Belajar Guru Nusantara.’ Hal lain yang dibahas dalam diskusi online menurut Dia, ialah terkait penerapan Kurikulum 2013 dan pedoman pelaksanaan kurikulum kondisi khusus.

Menurutnya pembahasan tentang kurikulum 2013 hanya bagian kecil dari materi yang dibahas di webinar, sedangkan materi yang lebih besar terkait dengan kebijakan nasional di bidang pendidikan. Banyak guru yang mengajar di sekolah yang berlokasi di wilayah terpencil jarang mengikuti kebijakan baru yang dikeluarkan pemerintah.

Akan tetapi, peserta short couse 1.000 guru ke luar negeri 2019 itu melihat masih ada guru yang mengalami kendala dalam mengakses zoom. Namun, tambah dia, guru yang mengikuti kegiatan belajar online itu mewakili seluruh kecamatan. Sumba Tengah memiliki lima kecamatan dan 65 desa dengan penduduk sekitar 84.000 jiwa.

Namun, ia memastikan seluruh guru yang mengikuti kegiatan pelatihan online setiap minggu, memahami dengan baik materi yang disampaikan, terbukti mereka bisa menulis resume yang kemudian dibagikan ke grup media sosial. “Kami yakin ketika mutu pendidikan meningkat melalui peningkatan mutu guru, dengan sendirinya mutu siswa juga meningkat,” jelas penulis buku Bukan Guru Biasa itu.

Theresia lahir asal Jawa Barat, awalnya aparatur sipil negara di Bandung Barat, pindah ke Sumba Tengah sejak 2016 dan mengajar di sekolah tersebut. Satu tahun berada di daerah itu, Theresia dipercayakan menjadi instruktur kurikulum 2013 yang membawanya mendalami kondisi pendidikan di Sumba Tengah. “Saya melihat banyak hal yang harus ditingkatkan dari guru supaya nanti meningkatkan pembelajaran untuk anak anak di sekolah,” katanya.

Baca Juga :  SD-SMP di Kota Kupang Terima Siswa Sistem Online

Selain buku Bukan Guru Biasa yang terbit pada Oktober 2020, ia juga menulis buku berjudul Belajar Semudah KLIK, Membangun Ekosistem Ubiquitous Learning Dalam Konsep Merdeka Belajar yang juga terbit tahun ini.

Adapun ‘Bukan Guru Biasa’ membahas kisah reflektif penulis yang mempunyai keinginan untuk menjadi guru penggerak dengan cara keluar dari zona nyamannya dan peka terhadap perkembangan dunia pendidikan.

Buku ini terdiri dari lima bagian, antara lain bagian pertama yang membahas tentang ‘Guru Seratus Persen’, yaitu tipe guru yang mampu menata hatinya sebagai seorang guru sehingga kehadirannya seperti seorang sahabat bagi siswanya. Selain itu, guru seratus persen juga adalah guru yang memanfaatkan ‘cermin’ di dalam kelasnya untuk terus merefleksikan diri dan pembelajarannya.

Menurutnya, keseluruhan buku yang berjudul “Bukan Guru Biasa” merupakan kisah inspiratif dan pengalaman nyata dari para guru penggerak yang memberikan gambaran dan jejak yang jelas bagi guru–guru lain agar bergerak serentak keluar dari zona nyaman masing–masing. Berubah dari guru biasa menjadi Bukan Guru Biasa. (MI)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *