Serangan Virus ASF, Ini cara Disnak Kabupaten Kupang Tekan Kematian Babi

  • Whatsapp
Kadis Peternakan Kabupaten Kupang, Aleksander Matte/Foto: Jmb

Oelamasi РAngka ternak Babi milik warga di wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mati terserang African swine fever (ASF) atau Demam Babi Afrika yang terdata dinas peternakan (Disnak) setempat mencapai 75 ekor hingga 23 Januari 2023, sejak kejadian  awal Januari 2023.

Kepala Disnak Kabupaten Kupang, Aleksander Matte, SH merincikan ternak babi yang mati akibat ASF ada 24 ekor di Kecamatan Kupang Timur, 32 ekor di Kecamatan Kupang Tengah, 3 ekor di Kecamatan Kupang barat, 5 ekor di Kecamatan Takari, 6 ekor di Kecamatan Nekamese, satu ekor di Semau dan 4 ekor di Kecamatan Amarasi Barat.

Jumlah babi mati di kabupaten Kupang dikatakan terus menurun sejak pihaknya melakukan edukasi dan penyemprotan disinfektan disejumlah titik yang dianggap rawan penyebaran virus ASF.

“Dalam Minggu ini hampir tidak ada laporan kasus babi mati, sejak terima laporan awal Januari itu kami lngsung ke lapangan identifikasi masalah, ambil sampel kita periksa kemudian kita berikan edukasi ke masyarakat soal penularan dan pencegahan ASF,” kata kadis Matte di ruang kerjanya Rabu (25/1/2023).

Dia mengatakan virus ASF mulai masuk ke wilayah Kabupaten Kupang pada 2019 lalu. Kematian ternak Babi di Kabupaten Kupang akibat Serangan Virus yang teridentifikasi masuk dari Timor Leste itu kata kadis Matte, jumlah tertingginya terjadi pada awal tahun 2020 lalu yang mencapai 3.900 ekor .

Virus tersebut kata dia menular pada musim hujan dan biasanya muncul antara Desember hingga Februari. “Babi akan lemas karena tidak mau makan, menggigil, muntah muntah dan muncul bintik bintik merah di tubuh,”katanya.

Dikatakan, ternak Babi akan tahan terhadap virus tersebut jika kandangnya bersih, asupan makanan bernutrisi cukup dan rutin menyemprot disinfektan.

Karena itu dalam upaya pencegahan yang dilakukan pihaknya mengimbau kepada peternak untuk menjaga kebersihan kandang, batasi orang yang masuk keluar kandang, ternak diberikan makanan bernutrisi dan rutin menyemprotkan disinfektan. “Kalau disinfektannya susah didapat, bisa pakai cairan bayclin,” katanya.

Dari hasil identifikasi lapangan babi-babi yang mati karena virus ASF tersebut umumnya babi yang berusia dibawah 4 bulan yang kandangnya tidak layak dari sisi kebersihan.

Dia menghimbau agar warga tidak mengkonsumsi daging babi yang mati. “Kalau sudah mati baiknya tidak usah di konsumsi dagingnya, tapi kalau baru menunjukan gejala seperti tidak ada nafsu makan, bisa dibunuh dan dagingnya bisa dikonsumsi,”katanya. (Jmb)

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.