Sensasi Wisata ke Kandang Jurassic Park

  • Whatsapp
Komodo Rebutan Makanan/Foto: Gamaliel
Komodo Rebutan Makanan/Foto: Gamaliel

HARI beranjak siang ketika dua kapal cepat yang bertolak dari Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur sandar di dermaga Loh Liang, Pulau Komodo pekan lalu.

Saya merasakan sensasi alam yang begitu indah, di antaranya perbukitan dengan padang sabana nan luas, dan panorama pantai berpasir putih bersama taman lautnya. Masih sama seperti ketika saya berkunjung ke pulau yang sering dijuluki kandang Jurassic Park ini 13 bulan lalu.

Read More


Jurrassic Park ialah dongeng tentang dunia yang didominasi reptil. Novel Jurassic Park ditulis Michael Crichton pada 1990 mengisahkan dinosaurus yang dibangkitkan lagi secara genetik yang kemudian menghancurkan taman Jurassic.

Plakat yang memuat tulisan ‘Komodo is one of the New 7 Wonders of Nature’ masih terpampang di sisi jalan setapak dekat pantai. Di bagian lain ada papan yang memuat peta dan rute jalan yang akan dilewati wisatawan.

Anda bebas memilih antara rute pendek, medium atau panjang dengan waktu tempuh berbeda-beda. Karena kunjungan singkat, kami lebih memilih rute pendek yang hanya butuh waktu kurang dari setengah jam. Seperti rombongan ini, jika beruntung bakal bertemu kawanan Rusa Timor (Cervus timorensis) yang jinak.

“Rusa-rusa itu sering menjadi santapan komodo,” kata Ijidan, ranger atau polisi hutan yang bertugas di Komodo, sambil menunjuk ke arah kawanan rusa berteduh di bawah pohon Asam, beberapa langkah dari tempat kami meniti jalan setapak.

Baca Juga :  Gubernur NTT Tegaskan Pulau Komodo jadi Kawasan Konservasi

Seluruh anggota rombongan dari Bank dari Bank Indonesia termasuk Deputi Gubernur Senior Mirza Aditsyawara akan menyaksikan pemberian makanan kepada komodo. Di sana, puluhan ranger sudah menanti. Mereka berdiri sigap mengelilingi kawanan komodo (veranus komodoensis) sambil menjulurkan tongkat ke depan berjaga-jaga terhadap serangan mendadak dari reptil raksasa tersebut.

Ranger ialah seorang naturalist quide, kebanyakan berasal dari Desa Komodo yang bertugas sebagai penunjuk jalan serta menjaga keselamatan wisatawan dari serangan komodo. Komodo menyerang dengan ekor dan menerkam dengan mulut.

Mereka membawa sebuah tongkat panjang yang pada ujungnya bercabang menyerupai huruf Y. Jika Komodo menyerang, segera dekatkan ujung tongkat ke hidung komodo, dan dia akan menjauhi anda. “Sebentar lagi atraksi,” ujar Ardius Jemadu memecah konsentrasi saya.

Pemuda asal Manggarai yang baru dua tahun enam bulan bertugas sebagai ranger di Loh Liang. Matanya mengawasi sekeliling sambil memperingatkan pengunjung jangan sampai mendekat ke satwa tersebut.

Ternyata di dahan pohon, yang di bawahnya kawanan komodo sedang menanti, tergantung kambing yang dibunuh sejak pagi. Ujung tali diikat pada kaki kambing kemudian dililitkan pada dahan pohon, sedangkan ujung lainnya diikat di pohon kecil pada radius sekitar 10 meter. Seekor komodo berkali-kali mendongkakan kepala berusaha meraih bangkai kambing. Namun tidak berhasil yang membuat ia semakin penasaran daripada empat komodo lainnya yang menanti di situ.

Baca Juga :  Jokowi dan Warga Kodi Cium Hidung Sampai Tiga Kali
Foto: Gamaliel
Foto: Gamaliel

Tak lama, sebuah komando terdengar. ‘Turunkan..!’ dan apa yang terjadi. Komodo seolah berlomba untuk menjadi yang tercepat. Hingga pada sebuah titik, mereka mengigit, mencabik, hingga berebutan daging kambing. Atraksi dalam hitungan menit itu memesonakan seluruh pengunjung.

Para renger menyebut kegiatan memberi makan komodo itu sebagai ‘Atraksi Khusus’ karena hanya diperagakan kepada wisatawan tertentu. Beberapa jam sebelum wisatawan tiba, ranger sudah harus menyiapkan umpan dan digantungkan di dahan pohon.

Nah, begitu komodo mencium bau darah dari umpan tersebut, mereka segera berlari mendekat. Jangan heran, indera penciuman Komodo sangat tajam dan mencapai radius lima kilometer. “Kalau tidak ada atraksi kadang sulit menemukan komodo karena mereka hidup di alam liar,” tuturnya.

Pernah sejumlah wisatawan dari Eropa yang berwisata ke Komodo kecewa dan protes karena Ardius dan 12 rekannya yang bertugas di situ tidak berhasil menemui komodo.”Mereka bilang datang dari jauh tetapi kenapa tidak ada komodo. Ada wisatawan mengira komodo itu ada di dalam kandang dan tidak bisa diprediksi keberadaan mereka,” cerita Ardius.

Peristiwa seperti itu sering dialami ranger, dan mereka selalu memberikan penjelasan sampai wisatawan paham. “Tetapi wisatawan yang tidak bertemu komodo pasti pulang dengan kecewa,” ujarnya. Ada juga wisatawan yang berusaha menyentuh badan atau ekor komodo. Kalau sudah begitu, ia cepat-cepat menarik orang itu sambil menodongkan tongkat ke hidung komodo. Berdiri dekat komodo saja berbahaya, apalagi menyentuh badannya. (sumber: media indonesia/Palce Amalo)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *