Sama-Sama Memikul Beban di Wolotopo

  • Whatsapp
Wolotopo/lintasntt.com

Ende – Berkunjung ke Ende di Pulau Flores, belum lengkap jika tidak mampir ke Wolotopo.

Selain sebagai lokasi tujuan wisata populer, Wolotopo yang dibangun sekitar setengah abad lalu, merupakan satu-satunya kampung adat yang tersisa di daerah itu.

Read More

Dari Kota Ende, berkendara menyusuri pesisir pantai ke arah timur sejauh sembilan kilometer menuju Desa Wolotopo Timur, Kecamatan Ndona. Kampung adat ini terletak lereng bukit sedangkan di lembah, terdapat perkampungan penduduk desa setempat. Namun wilayah desa tersebut satu komunitas adat bernama Ulayat Adat Wolotopo.

Di lereng bukit itu, nenek moyang penduduk Wolotopo menyusun batu, menumpuk bertambah tinggi hingga terbentuk fondasi sebelum membangun rumah.

“Usia batu-batu ini ratusan tahun tetapi tidak longsor. Bahkan pada tsunami Flores 1991, batu-batu tidak bergeser,” kata Mosalaka (tua adat) Wolotopo, Bernadus Dei seperti dikutip MI. Dia adalah keturunan ke-8 penghuni kampung Wolotopo.

Ada dua rumah adat yang dibangun di atas fondasi tersebut yakni Sa’o Ata Laki (rumah induk) dan Sa’o Atarobo (rumah adat suku Atarobo) yang didalamnya disimpan gading, dan peralatan upacara. Sebenarnya ada empat rumah adat tetapi dua di antaranya hilang tergerus zaman yakni Sa’o Sue dan Sa’o Taringgi.

Baca Juga :  Komisi IV DPR RI Apresiasi Inovasi Co-firing dan Pemanfaatan FABA di PLTU Ropa

Nah, keturunan suku-suku yang ada di Wolotopo, bergabung di dua rumah adat yang masih bertahan itu. Di Sa’o Sue tinggal dua suku, dan di Sa’o Tarobo dihuni empat suku.

Di rumah dua berbentuk panggung itu, setiap suku memasak makanannya sendiri-sendiri, namun mereka tidak dilarang menyentuh peralatan upacara. “Orang yang melanggar akan sakit. Nanti tidak bisa disembuhkan walaupun sudah dibawa ke dokter. Yang sakit harus dibawa kembali ke dalam rumah dilakukan upacara adat dengan sesaji, penyakit akan dipulihkan,” kata Bernadus De’i.

Untuk menghormati leluhur, suku-suku yang tinggal di ruma adat, secara berkala menggelar upacara adat yang dihadiri seluruh komunitas adat Wolotopo.

Mulai dari upacara pernikahan adat, penobatan mosalaki, pembangunan rumah adat, upacara kematian, dan ritual untuk menyembuhkan orang sakit. “Upacara adat di sini menjadi daya tarik wisatawan asing dan lokal,” ujarnya.

Upacara dilakukan dengan melakukan sesajian di batu di depan rumah serta kuburan leluhur yang terletak di perbukitan di depan rumah adat. Di situ ada kuburan mosalaki dan juru bicara mosalaki. “Kami melakukan ritual untuk arwah leluhur yang meninggal,” kata Bernadus.

Baca Juga :  Longsor Putuskan Pipa Air Minum di Kelimutu

Bernadus menjelaskan kehidupan budaya suku-suku di Wolotopo itu kental dengan sistem kekerabatan. Mereka teguh menjalankan budaya tolong-menolong dan musyawarah. Seperti ketika salah satu keturunan suku pergi menuntut ilmu, seluruh anggota suku berkumpul untuk membahas biaya pendidikan sang anak.

Begitu pula jika ada anggota suku yang akan menikah, biaya pernikahan ditanggung bersama. “Istilahnya sama-sama memikul beban,” tandas Bernadus.

Sayang saat berkunjung ke sana, infrastruktur jalan mulai dari lokasi parkir sampai perkampungan di lerang gunung masih minim. Sudah tersedia jalan setapak dan tangga yang terbuat dari semen, tetapi tidak disertai pembatas yang membuat kenyamanan pengunjung terganggu.

“Perlu dianggarkan dalam APBD untuk menata infrastruktur pendukung mulai dari jalan setapak, listrik, dan tangga,” kata Kadis Pariwisata NTT, Marius Ardu Jelamu yang ikut dalam kunjungan tersebut.

Bagi Marianus, jika sepajang jalan setapak tersedia lampu dan di sisi kiri dan kanan dilengkapi pembatas, keamanan pengunjung terjamin. Dia berharap pemerintah daerah setempat menata infrastruktur dasar yang menjadi dukungan utama desa wisata.

Banyak pemuda-pemudi Wolotopo menkonsolidasi diri menjadi pelaku pengembang desa wisata. Mereka tidak menunggu pemerintah, tetapi paling tidak mereka sudah memiliki desain mengembangkan komunitas budaya Wolotopo, serta masih memegang kuat nilai-nilai kegotongroyongan dalam kehidupan sehari-hari. (mi/palce amalo)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *