Punya Kekuatan Besar, Taliban Mudah Merebut Kota-Kota di Afghanistan

  • Whatsapp
Foto: AFP

Afghanistan – kelompok Taliban mudah merebut kota-kota di Afghanistan karena didukung pasukan dalam jumlah besar.

Kekuatan pasukan Taliban sekitar 60.000 orang, namun jika tambah pendukung dari milisi, jumlahnya bertambah menjadi sekitar 200.000 orang.

Read More

Sejauh ini Taliban mengeklaim telah merebut kota terbesar kedua di Afghanistan, Kandahar, yang dapat disebut sebagai kemenangan besar bagi mereka.

Kota ini pernah menjadi benteng Taliban, dan secara strategis penting sebagai pusat perdagangan yang terkemuka. Beberapa kota lainnya juga jatuh pada Kamis (12/08) dalam serangkaian kemenangan paling dramatis.

Namun, bagaimana Taliban bisa merebut wilayah di Afghanistan begitu cepat. Dikutip dari bbc.com, AS dan negara-negara sekutu NATO termasuk Inggris telah menghabiskan sebagian besar dalam 20 tahun terakhir untuk program pelatihan dan memperlengkapi pasukan keamanan Afghanistan.

Baca Juga :  Kisah Nyata, Kapal Ini Muncul Lagi Setelah Hilang 90 Tahun

Tak terhitung para jenderal Amerika dan Inggris mengeklaim telah membentuk tentara Afghanistan yang lebih kuat dan cakap. Janji-janji itu terlihat seperti omong kosong pada hari-hari ini.

Pemerintah Afghanistan seharusnya, secara teori, masih berada di atas angin dengan kekuatan lebih besar yang dimilikinya. Pasukan keamanan Afghanistan berjumlah lebih dari 300.000 orang, setidaknya di atas kertas. Jumlah itu termasuk angkatan darat, udara, serta kepolisian Afghanistan. Namun kenyataannya negara ini selalu kepayahan dalam memenuhi target perekrutan anggota keamanan.

Tentara dan polisi Afghanistan punya riwayat buruk perihal kematian yang tinggi, desersi, serta korupsi. Sejumlah komandan tak bermoral meminta anggaran yang diklaim untuk pasukannya, namun sebenarnya prajurit-prajurit itu tidak pernah ada yang disebut “tentara hantu”.

Baca Juga :  KRI Sultan Hasanuddin Aman dari Ledakan di Lebanon

Dalam laporan terbarunya kepada Kongres AS, Inspektur Jenderal Khusus untuk Afghanistan (SIGAR) menyatakan “keprihatinan serius tentang efek korupsi yang merusak dan pertanyaan keakuratan data mengenai kekuatan pasukan yang sebenarnya”.

Jack Watling, dari Royal United Services Institute, mengatakan bahkan Angkatan Darat Afghanistan tidak pernah yakin berapa banyak pasukan yang sebenarnya mereka miliki. Selain itu, dia mengatakan, ada persoalan dengan perawatan alat pertahanan dan moral.

Pasukan sering kali dikirim ke wilayah di mana mereka tidak memiliki hubungan suku atau keluarga. Inilah salah satu alasan mengapa beberapa orang kemungkinan begitu cepat meninggalkan posnya tanpa melakukan perlawanan. (source:bbc)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *