Kupang – RSUP dr. Ben Mboi Kupang mencatat sejarah baru dalam dunia medis Nusa Tenggara Timur setelah berhasil melakukan tiga operasi bedah saraf paling kompleks secara mandiri untuk pertama kalinya.
Tiga tindakan tersebut adalah operasi bypass STA–MCA, clipping aneurisma, dan prosedur coiling.
Capaian monumental ini menegaskan RS Ben Mboi yang baru diresmikan mantan Presiden Jokowi pada 2023, sebagai rumah sakit pertama di NTT yang mampu menangani ketiga prosedur kelas nasional tersebut.
Prestasi ini diumumkan dalam acara penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Pengampuan Layanan Stroke antara RS Ben Mboi dan RS Pusat Otak Nasional (PON) Prof. dr. Mahar Mardjono Jakarta di Kupang, Sabtu (15/11/2025).
Direktur Pelayanan Klinis Dirjen Pelayanan Kesehatan Rujukan Kementerian Kesehatan, dr. Obrin Parulian, menyebut keberhasilan ini sebagai bukti nyata peningkatan kualitas layanan saraf dan stroke di NTT. Pemerintah, kata dia, terus memperluas akses layanan kesehatan agar tidak lagi terpusat di Jawa.
Tiga pasien yang menjalani operasi besar tersebut kini dalam keadaan sadar dan stabil di ruang ICU.
Mereka adalah heodora Kase (56) yang menjalani operasi Kraniotomi Clipping Aneurysm, Sabina Ndeok (67) untuk tindakan Coiling, dan Vito Alesandro Leo (23) untuk operasi bypass STA–MCA dan Ligasi ICA
Dokter Obrin menjelaskan, capaian ini menempatkan NTT di antara hanya sembilan provinsi yang mampu melakukan bypass STA–MCA, menjadi provinsi ke-29 yang melayani tindakan clipping, serta masuk dalam jaringan 68 fasilitas kesehatan nasional yang mampu melakukan coiling.
Direktur RSUP dr. Ben Mboi, dr. Annas Ahmad, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menangani sekitar 250 kasus stroke dari Januari hingga Oktober 2025.
Dua dokter bedah saraf RS Ben Mboi kini sepenuhnya mandiri dalam menangani clipping dan coiling, sementara kemampuan bypass STA–MCA diperkuat melalui pendampingan RS PON dan RSUP Sanglah.
Annas menekankan pentingnya pemerataan layanan hingga ke kabupaten/kota agar pasien stroke dapat ditangani dalam “waktu emas” 24–72 jam pertama.
Sementara itu, Direktur Utama RS Pusat Otak Nasional, dr. Adin Nulkhasanah, menyampaikan bahwa keberhasilan RS Ben Mboi melakukan clipping dan coiling secara mandiri menunjukkan peningkatan signifikan kapasitas layanan stroke di NTT.
Untuk bypass STA–MCA, lanjutnya, beberapa kasus dengan tingkat kesulitan tinggi tetap membutuhkan pendampingan tim PON karena variasi anatomi setiap pasien.
“Kalau ada kasus yang sulit, kami siap mendampingi. Prinsipnya layanan stroke tidak berhenti di meja operasi, tetapi mencakup deteksi dini, penanganan akut, hingga rehabilitasi,” ujarnya.
Adin menambahkan bahwa penguatan SDM menjadi fokus utama program pengampuan. Saat ini sekitar 20 calon dokter neurologi sedang menjalani pendidikan dan fellowship, termasuk beberapa yang dikirim ke Tiongkok.
Enam di antaranya akan ditempatkan di berbagai fasilitas kesehatan di NTT untuk memperkuat jejaring layanan stroke.
“Harapannya, layanan paripurna di RS Ben Mboi juga mengalir ke RSUD seluruh NTT, sehingga tidak hanya terpusat di Kupang,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa percepatan layanan tidak mungkin tercapai jika seluruh pasien harus dirujuk ke provinsi.
Karena itu, pemerintah memastikan RSUD kabupaten/kota dilengkapi CT-scan, Cath Lab, dan tenaga medis kompeten agar penanganan stroke dapat dilakukan sedekat mungkin dengan masyarakat.
“Waktu adalah faktor paling kritis dalam stroke. Tidak mungkin semua pasien dibawa ke Kupang. Pengampuan ini memastikan layanan tersedia di daerah,” tegasnya.
Sesuai target nasional, seluruh 514 kabupaten/kota di Indonesia diharapkan mampu menangani tindakan stroke, khususnya coiling pada 2029.
Saat ini baru 68 daerah yang mampu melaksanakan tindakan tersebut, sementara bypass tersedia di sembilan provinsi dan clipping di 29 provinsi. (*/mi)














