Pertama di Indonesia, Lab Biokesmas NTT Gratiskan Pemeriksaan Swab Sejak 2020

  • Whatsapp

Kupang – Sejumlah pakar dari Forum Academia Nusa Tenggara Timur (NTT) memprakarsai berdirinya Laboratorium (lab) Biomolekuler Kesehatan Masyarakat (Biokesmas) mengunakan metode swab massal atau pool test.

Laboratorium ini resmi beroperasi sejak 16 Oktober 2020, dan menjadi satu-satunya laboratorium pencegahan covid-19 di Indonesia yang mengunakan metode pool test tanpa dipunggut biaya.

Read More

Sampai Sabtu (14/8/2021), Laboratorium Biokesmas sudah melakukan pemeriksaan puluhan ribu sampel swab. “Kami mendapat dukungan reagen dari Litbangkes jadi sama sekali tidak memunggut bayaran,” kata Pakar Biomolekular yang juga anggota Forum Academia NTT, Fima Inabuy.

Banyak warga datang ke laboratorium yang ditempatkan di Rumah Sakit Universitas Nusa Cendana tersebut untuk melakukan tes swab, seperti pelaku perjalanan serta kebutuhan siswa dan mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan di luar daerah.

Baca Juga :  Cuaca Buruk, Kapal Fery Tidak Berlayar

Lab ini juga melayani tes swab skala besar seperti dari perkantoran, juga tidak dipunggut biaya dan berlangsung secara cepat. Lama pemeriksaan maksimal delapan jam.

“Kita fokus pada pencegahan melalui tes massal dan survailance yang berbasis PCR,” ujar pakar Biomolekuer lulusan State University, Amerika Serikat tersebut tersebut beberapa waktu lalu.

Laboratorum tersebut juga melakukan tes terhadap ratusan mahasiswa dari sejumlah kampus di Kota Kupang yang akan melakukan kuliah kerja nyata, serta sebelum kegiatan wisata. “Kita melakukan tes dan menemukan sembilan mahasiswa positif covid-19 sehingga dilarang ikut wisuda,” ujarnya.

Sebelum kasus covid-19 melonjak di NTT dan terjadi kelangkaan alat pelindung diri (APD), Forum Academia NTT dibantu Fakultas Teknik Universitas Nusa Cendana menciptakan bilik swab. Bilik swab tersebut bisa dioperasikan di berbagai tempat, dioperasikan oleh satu orang yang bertugas mengambil sampel swab sehingga menghemat pengunaan APD. “Sekarang bilik swab tidak pakai lagi, sudah banyak APD,” kata Elcid Li, anggota Forum Academia NTT.

Baca Juga :  Menkes Letakan Batu Pertama Pembangunan RSUP Kupang

Meskipun tes swab massal tidak diatur dalam aturan Kementerian Kesehatan. Namun, metode tersebut digunakan di NTT mencegah penyebaran virus korona di daerah itu terus meluas. Selain itu, banyaknya warga yang harus di-skrining.

Metode ini juga sangat membantu untuk mempercepat pemeriksaan sampel swab yang menumpuk di rumah sakit.

Pasalnya, rata-rata hasil sampel swab baru keluar dari laboratorium antara satu sampai dua minggu. Di Kota Kupang misalnya, terdapat 974 spesimen yang belum diperiksa di rumah sakit pemerintah. Padahal jika sampel tersebut diperiksa di laboratorium Biokesmas, akan membantu mempercepat penanganan pandemi covid-19. (mi/p)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *