Penyaluran Bantuan Sosial di NTT Tidak Tepat Sasaran

  • Whatsapp
Josef A Nae Soi/Copyright: lintasntt.com

Kupang–Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tengggara Timur (NTT) Josef Nae Soi menyoroti penyaluran bantuan sosial bagi masyarakat miskin di daerah itu, yang ternyata tidak tepat sasaran.

Josef mengatakan itu saat menyampaikan pengarahan pada acara ‘Pertemuan Tahunan Bank Indonesia” Perwakilan Nusa Tenggara Timur di Kupang, Selasa (17/12).

“Ada macam-macam bantuan tunai, dari BI (Bank Indonesia), KUR (Kredit Usaha Rakyat), KUBE (Kelompok Usaha Bersama) dan PKH (Program Keluarga Harapan), tetapi temuan saya secara acak, banyak dari bantuan itu tidak sampai kepada rakyat yang dikategorikan sebagai miskin,” ujar Josef Nae Soi.

Kondisi seperti itu yang menjadi salah satu alasan penduduk miskin di daerah itu masih tinggi. Saat ini penduduk miskin di NTT tercatat nomor 3 terbesar setelah Papua dan Papua Barat.

Karena itu, ia minta para penyalur bantuan sosial melakukan instropeksi diri, bekerja dengan hati yang tulus. “Harus ada keserasian perasaan antara kita yang melayani dengan orang yang dilayani karena tujuan akhir Indonesia maju ialah semua orang hidup sejahtera,” ujarnya.

Menurut Josef, belum lama ini ia bertemu Menteri Keuangan dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan sempat membahas kriteria kemiskinan yang beberapa di antaranya tidak cocok dengan kondisi NTT.

Baca Juga :  Disambut Lagu 'Bale Nagi' Gubernur NTT Menangis

Seperti penduduk yang rumahnya bukan berlantai semen disebutkan sebagai keluarga miskin. Padahal banyak keluarga yang rumahya berlantai tanah, memiliki banyak ternak. Selain itu, banyak warga di perdesaan daerah itu mengonsumsi jagung yang telah diolah dan dimasak seperti nasi. “Jangan sampai orang NTT tidak makan nasi selama satu minggu, tetapi makan jagung itu disebut orang miskin,” ujarnya.

Begitu juga, ada warga yang minum gula hasil sadapan pohon lontar, menjadi kenyang dan tidak makan nasi seharian. Masyarakat yang makan jagung dan minum gula tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Pada kesempatan pertemuan tersebut, Kepala BI Perwakilan NTT I Nyoman Ariawan Atmaja mengatakan
Perekonomian NTT sepanjang 2019 tumbuh relatif stabil. Selain itu, konsumsi rumah tangga juga tumbuh stabil didukung oleh terkendalinya inflasi sepanjang 2019. Begitu pula kinerja investasi terus terjaga yang didorong oleh pembangunan infrastruktur pemerintah serta investasi swasta terutama di bidang kelistrikan | perkebunan dan pariwisata.

“Untuk itu kami mengapresiasi seluruh upaya yang telah kita lakukan bersama di Tim Pengendalian Inflasi Daerah | baik provinsi maupun kabupaten dan kota serta upaya keras Satgas Pangan di bawah koordinasi Polda NTT yang terus bekerja sama dan berkoordinasi erat sepanjang tahun 2019 ini,” ujarnya.

Baca Juga :  Positif Korona Tambah 2 Orang di Kota Kupang, Total 10 Orang

Menurutnya, dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang efisien dan berkelanjutan, Bank Indonesia berkomitmen mengembangkan UMKM melalui pendekatan klaster. Hingga saat ini, BI Perwakilan NTT kami telah membina sepuluh klaster tematik, antara lain klaster sapi yang telah berhasil meningkatkan produksi tiap tahunnya dan mampu mengakses pasar antar daerah.

Ada juga klaster kopi di Kabupaten Ngada, berhasil meraih Juara I tingkat nasional untuk kategori kebun kopi berproduksi tinggi dari Kementerian Pertanian.

Adapun penyaluran kredit perbankan sampai triwulan III 2019 tumbuh sebesar 11,98% (yoy) didukung oleh kualitas penyaluran kredit yang tercermin dari rendahnya rasio kredit bermasalah sebesar 2,41%, sedangkan pencapaian pangsa kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di di daerah tu telah mencapai 35,42%, dan melampaui target penyaluran kredit UMKM secara nasional yakni 20% dan mampu menjaga kualitas kredit pada batas aman. (sumber: mi/palce amalo)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *