Pemkab Ende Sulap Sampah jadi Bahan Bakar PLTU Ropa

  • Whatsapp
Foto: PLN

Ende – Pemkab Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) memanfaatkan sampah menjadi bahan bakar co-firing pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Ropa.

Kegiatan ini jalankan oleh Dinas Lingkungan Hidup Ende bersama kelompok masyarakat melalui program tempat olah sampah setempat (TOSS) untuk mencegah polusi udara dari pembakaran sampah.

Read More

Sebelum menjadi bahan bakar, sampah diolah menjadi pelet. Caranya, sampah dikumpulkan dalam bak yang kemudian diberikan bio aktivator. Selanjutnya, sampah dijemur sampai kering yang kemudian dimasukan ke dalam mesin pencacah.

Manager PLN Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) Flores, Lambok R Siregar mengatakan hanya sampah organik yan diproses menjadi pelet, sedangkan sampah non organik seperti sampah plastik dikelola oleh organisasi
Anak Cinta Lingkungan (ACIL) menjadi produk kreatif.

Baca Juga :  Bantu Masyarakat Ende, PLN Salurkan Batako dari FABA PLTU Ropa

“Inovasi ini diharapkan akan menginspirasi Pemerintah pusat daerah lainnya serta industri untuk memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pengolahan sampah menjadi bahan baku energi kerakyatan, sebagaimana Bung Karno mendapat inspirasi Pancasila dari Kota Ende,” kata Lambok Siregar lewat keterangan tertulis, Kamis (27/5/2021).

Sampah yang tidak terpakai, diangkut ke tempat pembuangan akhir. “Inovasi ini sangat membantu dinas lingkungan hidup dalam mengelola dan mengurangi volume sampah,” katanya.

Kasubag Penyiapan Rencana dan Program, Dirjen Ketenagalistrikan Kementrian ESDM, Sahat Simangunsong mengapresiasi inovasi yang dilakukan di Ende tersebut.

Menurut Sahat, sejumlah pengembang energi panas bumi di Tanah Air juga memanfaatkan CSR perusahaan untuk memberdayakan masyarakat lokal. “Umumnya pengembang panas bumi dekat dengan penduduk di perdesaaan yang terbatas dengan sumber-sumber energi seperti untuk memasak,” ujarnya.

Baca Juga :  PLN Operasikan Penuh Transmisi Ropa-Maumere

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ende, Haris Abdul Madjid menyebutkan setiap hari produksi sampah di Ende mencapai 110 ton, sebanyak 70% dari jumlah itu adalah sampah biomass yang diolah menjadi pelet. “Pelet digunakan sebagai energi kerakyatan dan program co-firing PLTU Ropa,” jelasnya.

Sebelumnya, untuk mendukung produksi pelet terus berlanjut, Gubernur NTT Viktor Laiskodat menyerahkan bantuan 1.000 kompor berbahan pelet biomassa kepada masyarakat di Ende. Menurutnya, bantuan itu sekaligus mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, serta mendukung penggunaan energi baru terbarukan di rumah penduduk. (mi/po)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *