NTT akan Pasok Listrik 2.000 Mw Lewat Kabel Bawah Laut ke Jawa

  • Whatsapp
Eddie Widiono saat menyampaikan keterangan kepada wartawan/foto: nhr

Kupang – Nusa Tenggara Timur (NTT) akan memasok listrik sebesar 2.000 megawatt (Mw) dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang akan dibangun di Pulau Sumba ke Pulau Jawa.

Listrik akan dipasok melalui pembangkit di Paiton, Probolinggo, Jawa Timur.

Read More

Pendiri dan Ketua Pembina Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) Eddie Widiono mengatakan itu kepada wartawan seusai bersama Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto dan sejumlah anggota PJCI audiens bersama Gubernur NTT Viktor Laiskodat di Kupang, Jumat (25/9/2020) sore.

Eddie mengatakan potensi pembangkitan energi surya di Sumba mencapai 20.000 megawatt, namun pada tahap pertama, akan ditransmisikan sebanyak 2.000 megawatt melalui kabel bawah laut dan udara sepanjang 870 kilometer, 180 kilometer di antaranya berupa kabel bawah laut.

Baca Juga :  Rapimnas KPU Provinsi se-Indonesia Digelar di Kupang

Proyek ini diberi nama ‘Sumba Untuk Indonesia’ diperkirakan menyerap sekitar 32.000 tenaga kerja yang akan menggerakan perekonomian NTT dan maupun Indonesia.

“Proyek pembangunan jaringan transmisi ini lewat investasi asing langsung (Foreign direct investment) dengan prakiraan anggaran pembangunan transmisi antara 1,2-1,5 miliar dolar. Dibangun, dioperasikan bersama PLN dan terintegrasi, nanti setelah sekian tahun ditranfser menjadi aset PLN,” kata mantan direktur utama PT PLN tersebut.

Ketua Komisi VII DPR Sugeng Suparwoto mengatakan sesuai riset bank dunia, tingkat iridiasi atau intensitas sinar matahari terbaik di Indonesia ada di dua pulau yakni Sumba dan Timor. Menurut mantan wartawan Media Indonesia ini, potensi energi matahari saja tercatat mencapai 62 Giga Watt atau 60.000 Mw. Potensi itu belum termasuk pembangkit mikro hidro yang melimpah di Pulau Sumba.

Baca Juga :  Komisi V DPR Dukung Pembangunan Tujuh Waduk di NTT

Potensi energi baru terbarukan (EBT) yang dimiliki NTT jika dimanfaatkan secara maksimal akan membantu mengurangi ketergantungan Indonesia dari energi fosil, apalagi Indonesia telah meratifikasi Paris Agreement yakni mengurangi presentasi emisi gas karbon nasional hingga 29 persen karbon di udara pada 2030.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat mengatakan kehadiran Ketua Komiis VII DPR untuk mendukung proyek monumental tersebut, yang akan dipastikan akan memberikan pertumbuhan positif dari ekonomi, politik dan budaya.

“Proyek ini sudah melalui riset dan kehadiran Komisi VII untuk menopang dan mendukung agar mimpi besar proyek ini bisa berjalan,” kata Laiskodat. (gma/mi)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *