Monopoli Rugikan Peternak NTT

  • Whatsapp
Pertemuan Himpunan Peternak Pengusaha Sapi dan Kerbau (HP2SK) NTT bersama pimpinan DPRD NTT di Kupang, Rabu (2/3). Foto/Gamaliel

Kupang–Pengusaha ternak di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengaku rugi akibat rendahnya harga beli sapi dari pengusaha asal Jakarta. Selain itu, pengiriman sapi dari NTT ke Jakarta dimonopoli pengusaha tertentu.

Hal itu mengemuka dalam pertemuan sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Himpunan Peternak Pengusaha Sapi dan Kerbau (HP2SK) NTT bersama pimpinan DPRD NTT di Kupang, Rabu (2/3).

Read More

Ketua HP2SK NTT Dedy Budiyanto mengatakan dua persoalan itu kini melilit pengusaha NTT. Mereka juga mempertanyakan nota kesepahaman antara Gubernur DKI dan Gubernur NTT terkait dengan pengembangan sapi pada 2015, yang sampai saat ini belum berjalan.

Baca Juga :  Benny K Harman Minta Pemerintah Jaga Stabilitas Keamanan Jelang Pemilu 2019

“Mestinya pengusaha dari Jakarta dan NTT bersinergi untuk memenuhi target pengiriman sapi ke Jakarta. Jangan dimonopoli pengusaha tertentu,” kata Dedy di Kupang, Rabu (2/3).

Dia mengatakan saat ini ada tiga pengusaha yang menopoli pengiriman sapi menggunakan kapal ternak.

Sebaliknya, peternak NTT tidak diberi kemudahan. Akibatnya, peternak daerah itu memilih mengirim sapi ke Jakarta menggunakan kapal kargo yang membutuhkan waktu hampir dua pekan. Selain itu, harga sapi di tingkat pengusaha NTT Rp35 ribu per kilogram hidup.

Harga itu turun karena harga yang ditetapkan pengusaha dari Jakarta Rp32 ribu per kilogram hidup. Terkait dengan persoalan itu, Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno mengatakan segera memanggil gubernur guna menanyakan persoalan

Baca Juga :  Helikopter Basarnas Jatuh Setelah Tabrak Tebing Gunung Batok

tersebut. Menurutnya, nota kesepahaman DKI Jakarta dan NTT harus mampu membawa kesejahteraan bagi peternak dan pengembangan ternak di NTT.

“Karena nota kesepahaman itu yang kemudian berlanjut kepada pengadaan kapal ternak,” kata dia. Menurutnya, persoalan itu akan menjadi perhatian serius DPRD NTT. Jika nota kesepahaman tidak berdampak baik kepada pengusaha, tentu berdampak juga kepada peternak. (sumber: harian media indonesi/palce amalo)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *