Majelis Sinode GMIT Pimpinan Pdt Mery Kolimon Mulai Bertugas

  • Whatsapp
Pendeta Mery Kolimon menyampaikan sambutan seusai serah terima jabatan Majelis Sinode GMIT di Gereja Koinonia, Minggu (10/1)

Kupang–Majelis Sinode (MS) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) periode 2015-2019 pimpinan Pendeta Dr Mery Kolimon mulai bertugas, Minggu (10/1).

Serah terima jabatan dan perhadapan MS Ex-Officio berlangsung di Gereja Koinonia, Kelurahan Kuanino Kupang, diawal ibadah natal. Mantan Ketua PGI Pendeta Dr Andreas A Yewangoe yang memimpin ibadah perayaan natal menyampaikan perumpamaan tentang domba yang hilang dalam Injil Lukas 15:3-7.

Read More

Menurutnya gembala yang baik ialah gembala yang siap mengambil risiko, meskipun risiko tersebut kadang tidak mendapatkan hasil yang diharapkan. Gembala itu meninggalkan 99 ekor dombanya dan pergi mencari satu ekor domba yang hilang.

Baca Juga :  Tambah 25 Positif, Penyebaran Korona di Kota Kupang Makin Masif

“Keputusan yang diambil untuk mencari satu ekor domba dengan meninggalkan 99 ekor domba di padang tanpa ada yang menjaga bukanlah keputusan yang mudah. Karena bisa saja satu ekor domba tidak ditemukan dan 99 ekor domba dirampok oleh orang lain,” kata Yewangoe.

Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakannya di atas bahunya dengan gembira. Dan setibanya di rumah, ia memanggil sahabat-sahabatnya dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka. ‘Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan. Aku berkata kepadamu, demikianlah juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena 99 orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.

Baca Juga :  Pendeta dan Pegawai Bank Meninggal Dimakamkan dengan Protokol Covid

Menurutnya, mejelis sinode akan berhadapan dengan tantangan ekonomi, dan sebagian besar jemaat berada di dalam kemiskinan. Dan ini menjadi tantangan besar bagi gereja.

“Tantangan juga dari bidang politik tetapi kita tidak boleh lari karena kita adalah manusia politik. Gereja tidak berpolitik praktis, tetapi gereja mampu menyuarakan suaranya dan didengar,” ujarnya.

Sebagai gereja terbesar kedua di Indonesia setelah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), GMIT sangat heterogen sehingga harus dikelola secara baik. Jika tidak, bisa menjadi jebakan bagi siapapun yang memimpin gereja, dan ini adalah tantangan besar. (rr)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *