Mahassiwa Asal Alor Terpilih Sebagai BEM FKIP Undana

  • Whatsapp
Foto: Benny

Kupang- Formatur Badan Legislatif mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BLM FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi menetapkan Petrus Eryah sebagai Ketua BEM 2024.

Petrus merupakan mahasiswa asal Kabupaten Alor, sedangkan Jordy Labuase mahasiswa semester empat (IV) program studi pendidikan teknik bangunan sebagai sekretaris

Dalam melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi mahasiswa di lingkup Undana, Petrus Eryah menyampaikan sejumlah langkah strategis yang akan dilakukan, khususnya dalam menghadirkan ruang aspirsi bagi mahasiswa di lingkungan kampus

“Tentunya dalam merespon kepercayaan yang di berikan, kita ingin agar menjadikan Ormawa FKIP UNDANA sebagai wadah aspirasi mahasiswa dan meningkatkan kualitas mahasiswa di bidang organisasi kemahasiswaan, kita juga pastinya melanjutkan program kerja dari tahun sebelumnya,
:paparnya usai terpilih di Lantai Satu Kantor FKIP Undana Sabtu (23/3/2024).

Tak hanya itu. Dalam meningkatkan daya saing mahasiswa diri-Nya juga optimis untuk membuka ruang kolaborasi bersama sejumlah organisasi ekstra kampus, yang menurutnya dapat memberikan peluang bagi mahasiswa untuk meningkatkan potensi dibidang akademik maupun non akademik.

Baginya, strategi ini sebagai kesempatan untuk mengoptimalkan ruang belajar bagi mahasiswa

“Dalam mengoptimalkan tanggungjawab yang diberikan,Saya selaku ketua terpilih akan sebisa mungkin menggandeng beberapa kelompok dan komunitas-komunitas yang mendukung sistem pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Misalnya komunitas Rumah Cerdas Millenias (RCM),komunitas Penggiat Literasi dan juga organisasi-organisas extra kampus sala satunya adalah GMKI,” jelas Petrus

Sebagai mahasiswa FKIP, Petrus juga turut menyoroti kondisi sosial politik yang terjadi saat ini. Ia bergarap agar status kemahasiswaan saat ini bisa dimanfaatkan untuk memberi kontribusi pemikiran terhadap dinamika politik yang terjadi terkhususnya di ruang digital.

Menurutnya fenomena kebebasan berpendapat saat ini mesti di evaluasi,tujuannya untuk mengurangi tindakan-tindakan yang mengatasnamakan demokrasi untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

“Di era digital saat ini memang dinamika politik semakin cepat dan komplek.Mahasiswa perlu untuk kritis dan kreatif dalam berpikir,jika tidak maka peradaban kita akan rusak. Yang kita butuhkan saat ini adalah pikiran yang jernih untuk menentukan nasib bangsa kita ke depan, bukan untuk kepentingan pribadi dan tentunya ini butuh kesadaran kita semua,gerakan intelektual tidak bisa dilakukan oleh segelintir orang,” pungkasnya (Beny Faofeto)

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.