Lontar dan Musim Paceklik di Rote

  • Whatsapp
MENYADAP NIRA LONTAR
MENYADAP NIRA LONTAR

HEMBUSAN angin kering terasa keras menerpa dedaunan yang gugur di sepanjang jalan lintas Pelabuhan Pantai Baru menuju Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Gugusan bukit menjulang dan kawasan ladang, dan sawah tadah hujan yang tandus silih berganti mewarnai perjalanan, Sabtu (2/11) siang. Kondisi itu berbeda dengan ribuan Pohon Lontar yang tumbuh di antara rumah penduduk. Lontar (Borassus flabellifer) memang umumnya tumbuh subur dan melimpah di tanah tandus di lingkungan tropis seperti di Rote dan Sabu.

Di musim panas yang datang bersamaan musim paceklik, warga memanfaatkan nira, hasil sadapan lontar untuk diminum. Minum nira membuat orang bertahan terhadap lapar. Rasanya manis dan baunya harum. Satu pohon lontar dapat menghasilkan sekitar enam liter nira tiap hari. Daging buah lontar setengah tua diberikan sebagai makanan ternak.

Tidak heran, nira, setelah diolah, menjadi bahan makanan persediaan di musim paceklik untuk manusia, dan minuman bagi ternak. Sebab, ketika itu, tanaman pangan meranggas karena sumber-sumber air mengering. Selama ratusan tahun, masyarakat Rote memanfaatkan nira sebagai minuman pokok, sekaligus sumber pendapatan.

Masyarakat Rote tidak dapat dipisahkan dari tradisi mengonsumsi nira yang disebut Tuak. Nira yang sudah dimasak akan menjadi gula air, atau dikeringkan dalam bentuk lempengan disebut gula lempeng, dan dihaluskan menjadi tepung diberi nama gula semut. Nira juga bisa diolah menjadi cuka dan kecap. Produk asal Nira dapat dijumpai di pasar tradisional di ibu kota kabupaten maupun pasar mingguan di ibu kota kecamatan.

Seperti Zakaris, 48, warga Desa Maubesi, Kecamatan Rote Tengah sejak berusia 17 tahun, mulai menyadap nira demi persiapan di musim paceklik bagi keluarga. “Di pagi hari, biasanya orang dewasa di kampung cukup minum gula yang diaduk bersama air. Siangnya baru makan nasi,” katanya.

Baca Juga :  Cengkeraman Asing di Labuan Bajo

Sampai kini, Dia masih menekuni pekerjaan menyadap nira mulai Juli hingga November, selain mengolah sawah untuk tanam padi di musim hujan. Ia menjual puluhan liter gula air seharga Rp15.000/lima liter. Sisanya? “Ya untuk persediaan menghadapi musim lapar,” tuturnya.  Tiap pagi dan menjelang sore, lelaki yang hanya menamatkan pendidikan sekolah dasar itu membawa peralatan menyadap seperti haik (wadah setengah lingkaran yang dibuat dari daun lontar), air, dan pisau untuk memanjat lontar menyadap nira.

Warga desa lainnya juga menjalankan kebiasaan yang sama. Di musim panen padi, para lelaki menyadap nira sekitar pukul 05.00 Wita. Pulang dari sana, mereka pergi ke sawah, demikian halnya ketika kembali dari sawah di petang hari, mereka kembali menyadap. Sedangkan kaum wanita bertugas memasak nira menjadi gula antara tiga sampai empat jam.

Saat ini terdapat sedikitnya 792.748 pohon lontar penghasil nira yang tumbuh tersebar di desa-desa di pulau terselatan dari Indonesia tersebut. Jika ribuan pohon itu menghasilkan minimal 60 persen gula, produksi gula dalam satu musim menyadap berjumlah 28.538.880 liter.

Penelitian Rosdiati Napitupulu dari Pusat Penelitian Biologi LIPI menyebutkan, nira lontar masih bisa dikembangkan untuk menciptakan kegiatan produktif yang bernilai pasar tinggi seperti etanol, asam asetat, gliserin, dan nata de nira.

Baca Juga :  Yomiani dan Kisah Satu Sepatu...

Menurut Dia, nata yang terbut dari nira lontar, lebih mudah dan cepat membentuk biomassa dibandingkan dengan nata yang terbuat dari kelapa (nata de coco). Nata merupakan bioselulose hasil fermentasi menggunakan bakteri Acetobacter xylinum. Sedangkan nata de nira merupakan makanan penyegar dan pencuci mulut berkalori  tinggi.  “Wilayah Nusa Tenggara Timur sangat berpotensi untuk pengembangan agroindustri dan agrobisnis mengingat produksi bahan dasar yang sangat melimpah khususnya nira lontar dan nira kelapa yang masih belum dimanfaatkan secara optimal,” katanya.

Lontar untuk Kesehatan

Penduduk yang bermukim di sentra-sentra lontar telah memanfaatkan bagian tanaman itu untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Bagian buah tua untuk obat kulit (dermatitis), akar yang terdiri dari ekstrak akar muda untuk melancarkan air seni dan obat cacing, sedangkan rebusan akar muda (decontion) untuk mengobati pernapasan.

Untuk bagian bunga yakni abu mayang (spadix) untuk mengobati lever. Arang kulit batang sebagai obat sakit gigi, sedangkan rebusan kulit batang ditambah garam, berkhasiat sebagai obat pembersih mulut.  Selama ratusan tahun pula, daun lontar berfungsi sebagai kertas, bahan anyaman, serta kotak musik alat musik Sasando juga menggunakan daun lontar.

Tetapi kini, hasil penelitian itu hanya menghiasi rak-rak buku. Meski sudah lima tahun Rote ditetapkan menjadi kabupaten definitif, pisah dari Kabupaten Kupang, belum ada pengembangan nira lontar. “Produksi nira Lontar bisa saja terus menurun karena banyak penyadap tidak kuat lagi memanjat, sedangkan banyak pemuda lebih senang bekerja di kota atau menuntut ilmu,” jelasnya. (Sumber: Media Indonesia/Palce Amalo)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *