Lonjakan Harga Beras di NTT Sumbang Inflasi Sebesar 0,23%

  • Whatsapp
Foto : Tesha

Kupang – Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, Agus Sistyo Widjajati melakukan update perkembangan ekonomi terkini NTT saat buka puasa bersama wartawan di Lantai III Kantor BI NTT, Selasa (2/4/2024).

Menurut Agus, pertumbuhan ekonomi NTT sebesar 4,14% (yoy) pada Desemer 2023, lebih rendah dari nasional sebesar 5,03% (yoy). Pertumbuhan ekonomi sebesar itu urutan ke-29 dari 34 provinsi, sedangkan share ekonomi NTT hanya 0,62% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Struktur ekonomi NTT didominasi konsumsi RT sebesar 70% di sisi pengeluaran, dan pertanian sebesar 28% di sisi lapangan usaha.

Menurut Agus Sistyo Widjajati, sumbangan kenaikan harga beras beras terhadap inflasi mencapai 0,23%, tertinggi dibandingkan komoditas lainnya seperti telur ayam dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,05%, pisang 0,04% dan emas perhiasan 0,03%.

Malah beras menyumbang terhadap inflasi sebanyak 9 kali selama 15 bulan terakhir, selain angkutan udara, cabai rawit, kangkung, dan ikan tembang. Kendati sumbangan beras terhadap inflasi tinggi, pada Maret 2024, NTT mengalami deflasi sebesar 0,14%.

Menurut Agus, deflasi terjadi karena harga-harga barang disurvei oleh di lima kota di NTT, hasilnya, sebagian besar komoditas itu mengalami penurunan harga. “Akhirnya dihitung maka harga-harga secara umum di masyarakat mengalami penurunan 0,14%, tetapi harga beras tetap naik,” jelasnya.

Untuk bulanan, inflasi NTT berada pada peringkat ke-35 dari 38 provinsi. Inflasi tahunan melandai di mana Waingapu merupakan yang tertinggi di NTT. Inflasi makanan, minuman, tembakau sebesar 3,27% masih di bawah nasional dan sasaran nasional 5,00%.

Agus mengatakan, sudah ada upaya konkret yang dilakukan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi pangan, yaitu operasi pasar murah, sidak pasar dan distributor oleh Forkopimda, penguatan kerjasama antar daerah (KAD), gerakan menanam, merealisasikan BTT (Belanja Tidak Terduga) dalam rangka pengendalian pangan, dan dukungan transportasi bagi APBD.

Sedangkan penguatan program-program itu dengan 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

“Inflasi NTT tetap terkendali ditengah HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) Ramadhan. Hal ini berkat sinergi dan kolaborasi sehingga inflasi NTT lebih rendah dibandingkan periode Ramadhan sebelumnya,” ujar Agus.

Pada kesempatan yang sama, ia juga memaparkan terkait produksi beras di NTT. Beras mengalami kenaikan 0,20% yang terjadi pada Januari hingga Maret 2024. “Triwulan 1 merupakan bulan defisit beras di mana defisit beras Triwulan 1 2024 sebesar 125,39 ribu ton. Produksi beras mencapai 37.770 ton, kebutuhan beras masyarakat NTT tiap bulan sebesar 54.390 ton,” kata dia.

Produksi beras lokal hanya mencakup 23% dari kebutuhan beras masyarakat NTT pada Triwulan 1 2024. Produksi lokal beras 23%, pengadaan bulog sebesar 7%, dan 70% dari luar daerah. Jawa Timur merupakan distributor utama beras domestik NTT. Sedangkan Vietnam merupakan distributor utama beras impor NTT. (Tesha)

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.