La Petite Kepa Kini Memesona (2)

  • Whatsapp
Foto: Gamaliel
Foto: Gamaliel

BERKUNJUNG ke Kepa di malam hari, sedikit berbeda. Dari pantai, tenggoklah ke arah timur. Sinar redup yang terpancar dari lampu teplok di rumah penduduk menimbulkan kesan perdesaan yang masih kental.  Dari arah berlawanan,  lampu-lampu di bungalo memancarkan sinar warna-warni. Sumber tenaga listrik untuk lampu-lampu itu berasal dari empat panel tenaga surya, dua diantaranya pemberian pemerintah Kabupaten Alor.

Bungalo dibangun di bukit kecil di pesisir barat Kepa. Di seberang sana, terbentang Pulau Ternate. Jika melepas pandangan saat senja menjelang, anda menyaksikan puluhan perahu nelayan beriringan pulang melaut. Bunyi mesin perahu kerap memecah kesunyian di lokasi itu yang memang tidak disediakan televisi atau radio.

Cedric membuat tangga dari kayu, untuk dilalui pengunjung menuju bukit kecil itu. Dari sana, 20 meter lagi sebelum tiba di pintu pagar bangunan bungalo. Di situ ada sembilan bangunan,  yaitu dapur ruang makan masing-masing satu unit, tiga unit lopo berbentuk rumah panggung-rumah khas Alor, dan empat unit bungalo.

Seluruh bahan bangunan rumah berasal dari bambu. Kecuali atap terbuat dari ilalang. Cedric bersama keluarganya  tinggal terpisah dari bungalo  sekitar 100 meter.  Bagian atap Lopo menjulang tinggi. Disekat menjadi dua bagian yakni bagian atas untuk ruang tidur, dan ruangan bawah tanpa dinding sebagai tempat duduk.

Anda silahkan memilih. Jika ingin ruang tidur di atas, pilihnya lopo. tersedia  tangga menuju pintu masuk pas ukuran badan orang dewasa. Harga sewa lopo dan bungalo cukup murah, sebesar Rp100.000 per orang per malam. Anak-anak dibawah 12 tahun cukup bayar Rp50.000. Suhu udara di ruangan itu cukup dingin, kontras dengan suhu di luar.

Fasilitas ruangan terdiri dari tempat tidur berukuran besar lengkap dengan kelambu. Lemari dan kursi tersedia di sudut ruangan. Tidak ada peralatan komunikasi maupun fasilitas mewah. Untuk mandi saja, harus mengantre karena hanya tersedia empat kamar mandi.  “Itu memang standar pelayanan dan fasilitas yang disiapkan,” tutur mantan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pariwisata Alor Seprianus Detamoly.

Tarif tersebut termasuk makan pagi, siang, dan malam. Menu makanan beragam mulai dari sayur kangkung, telur, ikan, kacang panjang, dan tomat. Termasuk juga kopi, teh, air mineral, kue pisang dan ubi. Standar pelayanan yang sama tidak dijumpai di hotel umumnya.  Bedanya, makan pagi diantar ke kamar, sedangkan makan siang dan malam disajikan di ruang makan untuk semua tamu. Makan bersama untuk menciptakan interaksi dan keakraban antarpengunjung.

Jangan cari makanan cina, atau Jepang. “Kami tidak menyiapkan menu seperti itu,”tutur Patinka, 52, pembantu yang telah bekerja di situ sejak lokasi itu dibangun. Misalnya Patinka menyambut dengan suguhan kopi hangat dan pisang rebus. “Silahkan coba. Ini sudah tradisi di sini, siapa saja tamu yang datang diberi minuman,” katanya.

Pekerja di situ berjumlah lima orang, dua wanita dan tiga pria. Para pria bertugas di kapal, sedangkan wanita bekerja di dapur dengan gaji pokok masing-masing Rp450.000 per bulan. Menurut Patinka, tiap awal bulan ia membawa pulang uang tidak kurang Rp750.000, termasuk tips dari tamu.

Cedric menetapkan tarif menyelam sebesar Rp625.000 untuk sekali turun ke dasar laut termasuk sewa peralatan, kapal, instruktur penyelam, snek, dan makan siang. Tetapi bila membawa peralatan renang sendiri, cukup membayar Rp312.500. Dia juga menawarkan snorkeling per trip seharga Rp25.000, dan rental peralatan Rp40.000 per hari.

Menurut Seprianus, Cedric tidak pernah membatasi interaksi bersama warga lokal. Siapa saja boleh datang ke sana, asalkan menjaga kebersihan lingkungan. Warga lokal juga boleh menginap di bungalo dan lopo.

Sedangkan, sumbangan ke kas pemerintah kabupaten, hanya sebesar Rp35.000 per tamu yang menyelam. Jika tamu hanya menginap, cukup bayar Rp5.000. Menurut Dia, tiap bulan, tidak kurang dari 50 tamu dari Eropa datang ke Kepa. Tetapi apakah mereka melakukan aktivitas menyelam atau bukan, tidak tercatat. “Ini satu kelemahan kami tidak melakukan pemantauan aktivitas mereka di Kepa,’ katanya.

Sebenarnya, menurut Siprianus Cedric diberi kebebasan mengelola bungalo di Kepa dan bermitra bersama seorang warga lokal. Mereka kemudian mendirikan CV Kepa Kecil Indah. Perusahaan inilah yang mengelola usaha Cedric.  “Ketika saya menjabat Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pariwisata, Kami tidak memunggut lebih dari yang ditetapkan, termasuk pajak,” tutur Seprianus.

Pulau Kepa, ternate, pantar, buaya hingga Pura yang letaknya berdekatan,  dikelilingi terumbu karang yang indah,  tepat untuk menyelam. Di sela-sela batu karang itu, ratusan spesies ikan beragam warna dan bentuk. Air yang jernih memaparkan pemandangan biota laut adalah pemandangan indah yang membuat penyelam betah berlama-lama di dasar laut.

Sedikitnya 26 titik penyelaman di daerah itu, antara lain Shark Close. Di sini terdapat kumpulan hiu yang sangat bersahabat dengan manusia. Cedric mengatakan, taman laut Alor terindah setelah taman laut Kepulauan Karibia. Itu sebabnya, penyelam yang datang ke Kepa bisa tinggal hingga satu bulan, atau ada yang datang lebih dari tiga kali.

Lainnya,  di pesisir Kecamatan Pantar Timur, Pulau Pantar. Dilles dan Nea asal Prancis sejak dua tahun terakhir mengelola resor dengan konsep yang sama seperti Cedric yakni ‘kembali ke alam’.  Bedanya, Dilles membidik kalangan menengah ke atas, sedangkan Cedric membidik kalangan bawah.  Harga yang satu kali selam ditetapkan Dilles lebih mahal dari Cedric.

Ia mengatakan, taman laut Alor sudah dikenal di seluruh dunia karena para operator wisata asal Eropa melakukan promosi lewat internet. Promosi juga dilakukan pemerintah Kabupaten Alor. Selain itu, masyarakat perlu mendukung momen tahun kunjungan wisata dengan menciptakan suasana aman dan damai. (Palce Amalo/habis).

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.