Kisah Yesi, Bocah Satu Kaki yang Merindukan Kaki Palsu

  • Whatsapp
dok

Takari – TIdak ada yang menyangka, Stenly Yesi Ndun lahir dengan kondisi kaki tidak utuh. Kaki kanan bocah berusia tujuh tahun asal Desa Tuapanaf, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur itu terputus mulai dari bawah lutut sampai telapak kaki.

Kondisi tubuh Yesi berbeda dengan saudari kembarnya, Stela Ndun, yang lahir dengan kondisi tubuh tanpa catat.

Dalam kondisi seperti itu, otomatis aktivitas Yesi tidak sama seperti bocah seusianya. Apalagi sejak berusia tiga tahun, Yesi bersama Stela terpaksa hidup bersama kakek dan nenek lantaran ayah dan ibunya memilih merantau ke Kalimantan.

Sampai keduanya masuk sekolah dasar pada Juli 2020, orangtua mereka belum kembali. “Tetapi mereka rutin mengirim uang Rp500 ribu untuk kebutuhan hidup kami di rumah,” cerita Ursula Takaep, 60, sang nenek.

Dengan kondisi seperti itu, mau tidak mau, Yesi tetap berjuang untuk pergi ke bersekolah. Saban pagi, dengan bantuan tongkat kayu, ia bersama menyusuri sisi jalan untuk pergi ke sekolah.

Baca Juga :  Aldo Doken dan Janji yang tak akan Terpenuhi

Jarak SD Negeri Bijaesahan, tempat Dia bersekolah, sekitar satu kilometer dari rumah ditempuh sekitar 20 menit. Di era pandemi korona seperti saat ini, keduanya tak lupa mengenakan masker serta mencuci tangan di tempat yang disiapkan di depan sekolah sebelum masuk kelas.

Ursula mengaku memiliki empat anak, semuanya memilih merantau ke Kalimantan untuk bekerja sebagai buruh di salah satu perusahaan. Hal itu dilakukan karena berbagai kesulitan di kampung.  Saat musim panas seperti saat ini, kebun tidak bisa diolah, itulah yang mendorong mereka meninggalkan anak-anaknya untuk bekerja di daerah lain.

Karena itu, selain Yesi dan Stela, Ursula Takaep bersama suaminya Bernadus Ndun, 80, juga hidup empat cucu lainnya. “Kami mengurus delapan cucu,” katanya. Menurut Ursula, sejak lama Yesi merindukan kaki palsu, hanya saja harga kaki palsu sangat mahal. “Yang penting ada uang untuk makan, kami belum mampu beli kaki palsu, harganya mahal,” kata Dia. Dia juga berharap ada dermawan yang membantu membelikan kaki palsu untuk cucunya.

Baca Juga :  Menjaga Harmonisasi di Antara Suku-Suku

Kepala SDN Bijaesahan, Dortiana Karice Mau mengatakan di sekolah, pihaknya memberlakukan bocah tersebut secara khusus. Ia juga tidak diikutkan dalam kegiatan seperti upacara bendera dan kegiatan olahraga. “Jika ada apel atau olahraga, Kita minta Yesi duduk di ruangan sambil belajar,” katanya.

Dortiana mengatakan, setiap pagi anak-anak diberikan arahan agar memperlakukan Yesi dengan baik. “Buktinya sampai saat ini, dia rajin ke sekolah dengan fisik yang tak sempurna. Ia bahkan bermain layaknya anak-anak normal,” ujarnya.

Pihak sekolah pernah berniat mengirim bocah itu ke Sekolah Luar Biasa (SLB), akan tetapi kakek dan neneknya menolak. Kendati hidup serba terbatas, mereka tidak mau memisahkan dua bersaudara kembar itu. Sampai saat ini, dalam kondisi tubuh cacat, di rumah berdinding pelepah pohon gewang dan berlantai tanah itu, mereka tetap hidup rukun.  Di rumah itu, setiap saat Yesi dan Stela selalu merindukan ayah dan ibu mereka, segera pulang agar berkumpul kembali seperti saat mereka masih bayi. (*/gma)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *