Kementerian PUPR Bangun Rusunawa Unwira Kupang

  • Whatsapp
Seremoni Peletakan Batu Pertama Pembangunan Rusunawa Unwira Kupang.Foto: Gamaliel

Kupang–Kementrian PUPR membangun Rumah Susun Sewa (Rusunawa) bagi mahasiswa Universitas Wydia Mandiri (Unwira) Kupang, Nusa Tenggara Timur menelan anggaran Rp12,153 miliar.

Saat ini pembangunan Rusunawa itu sudah mencapai 30% dan dijadwalkan rampung pada 20 Oktober 2017.

Luas bangunan rusunawa 30×85 meter memiliki 37 kamar yang tersebar di tiga lantai. Setiap kampr dihuni empat mahasiswa. Sejumlah kamar di lantai satu diperuntukan bagi mahasiswa berkebutuhan khusus.

Pembangunan rusunawa bertujuan menyiapkan tempat tinggal yang layak, sehat, harmonis dan terjangkau oleh mahasiswa.

Rusunawa Unwira adalah satu dari tiga rusunawa yang dibangun pemerintah di NTT. Dua rusunawa lainnya di Seminari Menengah Santo Yohanes 2 Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, dan Pondok Pesantren Wali Songo di Kabupaten Ende.

Seremoni peletakan batu pertama pembangunan Rusunawa Unwira dilakukan bersama Dirjen Penyediaan Rumah Kementerian PUPR Syarif Burhanudin, Ketua Komisi V DPR Fary Djemy Francis, Gubernur NTT Frans Lebu Raya, dan Rektor Unwira Pater Yulius Yasinto, Rabu (17/5/2017).

Seremoni peletakan batu pertama baru digelar karena pelelangan proyek dilakukan sebelum tahun anggaran sehingga diharapkan rusunawa dapat dimanfaatkan mahasiswa mulai Oktober 2017.

Baca Juga :  Komut PT Asabri Perkenalkan 'Asabri Mobile' kepada Dandim dan Kapolres TTS

Tiga rusunawa itu merupakan bagian dari 16 rusunawa yang dibangun pemerintah tahun ini di seluruh Tanah Air. Sejak 2015-2017, pemerintah telah membangun rusunawa untuk 55 universitas termasuk seminari dan madrasyah. “Bangunan seperti ini tidak banyak dialokasikan setiap tahun karena keterbatasan dana dan kuota untuk perguruan tinggi,” kata Syarif Burhanudin.

Rusunawa yang dibangun di Kompleks Unwira Kupang tersebut memiliki tiga lantai dengan daya tampung 148 mahasiswa, dua kamar di antaranya terletak di lantai satu, khusus untuk mahasiswa berkebtuhan khusus.

Syarif minta ongkos sewa rusunawa harus lebih rendah dari ongkos sewa kontrakan yang di sekitar kampus antara Rp300.000-Rp500.000 per bulan. “Jika kita ambil lebih rendah dari itu, mahasiswa mendapatkan keuntungan,” ujarnya.

Dia mencontohkan pendapatan dari Rusunawa di Universitas Brawijawa, Malang dijadikan modal untuk membangun lagi gedung rusunawa yang baru. Dengan demikian, universitas tidak lagi menunggu bantuan pemerintah untuk membangun mengembangkan rusunawa yang ada. Untuk rusunawa yang dibangun tersebut, sudah dilengkapi fasilitas seperti mebel, air bersih, dan listrik.

Baca Juga :  KRI dr Soeharso Lanjutkan Pelayanan Kesehatan di Pulau Terpencil

Ketua Komisi V DPR Fary Francis mengatakan pihaknya akan melakukan pengawasan sehingga pembangunan rusunawa tersebut berjalan lancar.

“Saya juga minta mahasiswa Fakultas Teknik juga melakukan pengawasan sehingga jika ada sesuatu yang tidak benar, tolong kasih tahu kami,” ujarnya.

Dengan bangunan ini setelah rampung, dapat dimanfaatkan dengan baik. Saya lihat rusunawa di tempat lain setelah rampung tidak dapat dimanfaatkan, tetapi rusunawa ini setelah selesai, langsung dimanfaatkan tanpa menunggu serah terima bangunan.

Mulai 2016, pembangunan rusunawa sudah disertai perlengkapan seperti mebeler, listrik, dan air, tetapi saat ini rusunawa yang dibangun sudah bisa langsung dimanfaatkan. “Saya lihat ada rusunawa yang dibangun tetapi tidak ditempati karena tidak ada mebel, air dan listrik belum masuk,” kata Fary.

Dia berharap rusunawa tersebut tidak hanya membantu mahasiswa mengatasi persoalan pembiayaan kontrakan, tetapi bangunan ini benar-benar memberikan pembinaan secara khsus kepada mahsiswa.

“Mestinya mahasiswa yang menginap di rusunawa juga diberikan pembinaan karakter,” ujarnya. (gma/sumber: mediaindonesia)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *