Kawasan Wisata Pantai LLBK jadi Lokasi Usaha Strategis Pedagang Kaki Lima

  • Whatsapp
Pantai Wisata LLBK/Foto: Marni Labu Ipi

Kupang – Kawasan Wisata Pantai Lahi Lai Bissi Kopan (LLBK) kini menjadi tempat yang cukup ramai dikunjungi warga.

Warga berkunjung ke sana untuk menikmati panorama pantai, siang maupun malam, apalagi di akhir pekan, sabtu atau minggu.

Read More

Lokasi ini juga menjadi tempat berjualan bagi pedagang kaki lima dan UMKM untuk meraup keuntungan. Pantai Wisata LLBK dan Pantai Wisata Kelapa Lima dibangun oleh Kementerian PUPR dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada 24 Maret 2022.

Kawasan Pantai LLBK merupakan tempat yang cocok untuk bersantai serta menikmati derunya obak laut dan indahnya matahari terbenam. Tak heran, banyak warga Kota Kupang yang menjadikan tempat ini sebagai pilihan untuk melepas penat dan berakhir pekan.

Sejak diresmikan wisata Pantai yang terletak di Kelurahan LLBK, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur ini memberi peluang kepada pedagang kaki lima, dan pelaku UMKM untuk membuka usaha di sekitar pantai.

Sesuai pantauan, banyak pedagang kaki lima menjajakan aneka makanan di sana, mulai dari jagung bakar, salome, berbagai aneka gorengan, minuman dingin instan, kopi, mainan anak dan lain-lain.Tak hanya itu, ada juga anak muda yang menyediakan jasa foto yang dibandrol dengan harga Rp2.000 ribu per foto.

Dimas, salah satu anak muda yang bekerja sebagai penyedia jasa foto mengaku mendapatakan keuntungan dari jasa memotret pengunjung di lokasi wisata tersebut. Keuntungan yang ia peroleh, digunakan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Dimas merupakan mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan di salah satu univeristas di Kota Kupang, di sela sela kesibukannya belajar dan mengerjakan tugas-tugas sebagai mahasiswa, ia masih membagi waktu untuk mencari penghasilan tambahan dengan menawarkan jasa foto di Pantai Wisata LLBK.

Pria berusia 23 tahun ini bisa meraup pendapatan rata-rata Rp200.000 per hari. Bahkan pada hari libur dan akhir pekan, pendapatan yang ia peroleh bisa lebih dari angka itu. Sebagai anak rantau Dimas mengaku sangat bersyukur bisa mendapatakan penghasilan tambahan. “Saya kan anak rantau, saya senang bisa dapat uang saku tambahan dari tempat ini. Saya harap tempat ini akan terus dilesatariakan karena selain saya banyak juga orang yang mencari nafkan di sini. Semoga masyarakat dan pemerintah bisa sama sama menjaga dan mengelola tempat ini dengan baik,” ujar Dimas.

Dimas berharap masyarakat yang datang berkunjung maupun pelaku usaha yang ada bisa menjaga kawasan pantai LLBK agar tetap layak sebagai tempat wisata.

Tak hanya Dimas, Yuli seorang penjual minuman dingin dan salome di kawasan tersebut juga mengaku terbantu dengan adanya tempat wisata pantai ini.
.
Sejak kawasan pantai direnovasi dan menjadi lokasi yang indah dan tertata rapih saat ini, warga berdatangan ke sana untuk berwisata, sehingga Yuli yang sempat berhenti berjualan di sana, kembali lagi untuk menjajakan jualannya.

“Sebelumnya saya dulu jual di sini, tapi karena sepi jadi terpaksa berhenti. Sekarang saya jual lagi karena liat sudah ramai disini. Sekarang banyak untung yang saya dapat, biasanya dulu pendapatan sehari tidak sampai seratus ribu, sekarang sehari bisa lebih dari Rp200 ribu,” ujar Yuli saat ditemui pada Jumat (17/2/2023).

Seperti Dimas, Yuli yang merupakan ibu rumah tangga, juga terbantu dengan adanya kawasan wisata pantai LLBK ini. Ibu tiga orang anak ini mengaku bahwa dengan pengahasilannya dari menjual salome dan minuman dingin bisa membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

“Suami kerja bantu bantu di gereja, gaji yang didapat kami upayakan untuk makan selama satu bulan. Itupun kadang kami masih kekurangan. Bersyukur sekarang sudah ada pengahasilan dari sini, jadi kalau mau beli sayur dan kebutuan harian biasa kami pakaian uang dari jual disini,” cerita Yuli.

Sebagai pelaku usaha di tempat tersebut, Yuli juga memiliki kewajiban menjaga kawasan pantai ini agar tetap bersih. Dia mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan tempat yang layak sehingga ia sebagai pelaku usaha merasa wajib menjaga dan merawatnya.

Seluruh pedagang kaki lima yang berjualan di situ tidak dipungut biaya retribusi. “Sebagai orang yang jual dan dapat uang dari sini, saya rasa semua yang kerja disini wajib menjaga kebersihan dan keamanan tempat ini. Jangan kita hanya tahu pakai tapi tidak mau jaga. Pemerintah sudah siapkan tempat, juga memberi izin jadi kita harus juga menjaga keaman tempat ini apalagi kebersihannya. Kalaupun ada biaya retribusi saya akan membayar asal dikelola dengan cara yang benar,” jelasnya.

Setiap hari, pedagang berjualan mulai pukul 15:00 hingga malam hari. Namun, dari pantauan, hanya beberapa pedagang tidak mengelar jualanya di dalam tempat atau rumah yang disediakan, sedangkan sebagian besar pedagang berjualan di area luas di sekitar lopo. (Marni Labu Ipi)

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.