Ini Alasan Warga Israel Ingin Menetap di Tepi Barat

  • Whatsapp
Banyak pemukim Yahudi yakin tanah di Tepi Barat adalah tanah yang diberikan Tuhan bagi mereka/foto: Getty Images/bbc

Israel – Hampir semua negara di dunia menyatakan permukiman ini ilegal, tetapi Presiden Donald Trump memberi dukungannya terhadap Israel.

Sebaliknya, Palestina dan banyak negara menentangnya, termasuk Indonesia, tetapi bagaimana permukiman ini bisa terus bertambah luas?.  Negara-negara di dunia, PBB dan Uni Eropa mengatakan permukiman Israel di Tepi Barat melanggar hukum international. Di masa lalu, biasanya Amerika Serikat secara resmi setuju dengan pandangan itu.

Namun pada November 2019, pemerintahan Donald Trump tak lagi menganggapnya ilegal.
Dengan dukungan AS, parlemen Israel kini bisa mengambil suara untuk menganeksasi Tepi Barat.

Bangsa Palestina menolak dengan keras aneksasi. Bagi mereka, ini akan mengerat wilayah tanah Palestina dan menyisakan sedikit saja dari wilayah yang sudah berantakan.

Mereka akan kehilangan tanah, yang amat vital agar bisa membentuk negara sendiri kelak.
Ilegal atau tidak, permukiman itu ada dan telah tumbuh beberapa waktu belakangan. Israel telah mengirim penduduknya ke tepi barat sejak Perang Arab-Israel tahun 1967.

Sekitar tiga juga orang hidup di penggalan tanah yang disebut Tepi Barat, terdiri dari 86% persen warga Palestina dan 14% (427.800 orang) adalah pemukim Israel.

Mereka tinggal di kawasan yang umumnya terpisah satu sama lain.Banyak permukiman Israel dibangun dekade 1970-an, 80-an dan 90-an. Namun dalam 20 tahun terakhir, jumlah penduduk di situ berlipat ganda.

Baca Juga :  Ferdi Tanoni Diangkat jadi 'Brother' Suku Aborigin

Israel menyediakan layanan seperti air dan listrik kepada para pemukim, dan mereka dilindungi oleh tentara Israel.  Permukiman Israel juga tersebar di seluruh wilayah Palestina. Permukiman-permukiman ini dijaga oleh tentara Israel dan warga Palestina tak punya akses ke sana.

Secara efektif, ini memisahkan satu kota Palestina dengan lainnya, yang menyebabkan jalur transportasi dan pembangunan infrastuktur jadi sangat sulit dilakukan di wilayah Palestina.  Tahun 2004, pemukiman Givat Zeev berpenduduk sekitar 10.000, dan kini 17.000. Permukiman ini tumbuh ke barat, menambah rumah, sinagoga dan pusat perbelanjaan.

Permukiman ini beragam ukurannya. Beberapa dihuni hanya oleh beberapa ratus orang. Yang terbesar adalah Modi’in Illit yang dihuni 73.080 orang. Dalam 15 tahun terakhir, penduduknya meningkat tiga kali lipat. Sebuah organisasi penentang permukiman bernama Peace Now mengumpulkan data ini.

Bagian dari rencana yang diajukan oleh Donald Trump adalah, tidak boleh ada pembangunan lagi di permukiman-permukiman ini setidaknya dalam empat tahun ke depan.

Sekalipun tak ada pembangunan, jumlah penduduknya kemungkinan besar bertambah karena angka kelahiran di kalangan perempuan Israel di permukiman sangat tinggi.

Rata-rata seorang perempuan Israel di permukiman punya lebih dari tujuh anak. Israel sendiri punya angka kelahiran tinggi yaitu 3,1 anak untuk setiap perempuan, sedangkan di Uni Eropa, angka itu 1,58.

Baca Juga :  Milisi ISIS Asal Indonesia Terbunuh di Marawi

Di permukiman jauh lebih tinggi lagi. Misalnya di Modi’in Illit angka kelahiran lebih tinggi daripada kota-kota lain di Israel atau di wilayah Palestina, yaitu 7,59 anak untuk setiap perempuan Israel.Warga Palestina di Tepi Barat punya anak lebih sedikit, rata-rata 3,2 bayi untuk setiap perempuan.

Permukiman-permukiman ini dibangun di tanah Palestina yang akan dijadikan negara mereka di masa depan, berdampingan dengan Israel.vBangsa Palestina menyatakan tak mungkin negara seperti itu dibangun kecuali jika permukiman-permukiman itu dipindahkan.

Lalu, mengapa warga Israel ingin menetap di Tepi Barat?

Beberapa karena ingin mendapat subsidi dari pemerintah Israel dalam bentuk rumah murah sehingga bisa meningkatkan kualitas hidup.  Beberapa lagi karena alasan agama, yang meyakini bahwa Tuhan, melalui kitab Taurat, menugaskan mereka tinggal di sana.

Sepertiga pemukim adalah komunitas Yahudi ultraortodoks, yang umumnya berkeluarga besar dan miskin. Maka peningkatan kualitas hidup berperan besar dalam mendorong mereka jadi pemukim.

Namun banyak yang menjadi pemukim karena alasan ideologi, yaitu mereka yang yakin punya hak hidup di wilayah yang merupakan warisan untuk Yahudi tersebut. (sumber: bbc)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *