Ibrahim Medah Telusuri Persoalan Pengangkutan Sapi ke Jakarta

  • Whatsapp
Ibrahim Agustinus Medah (kanan) mendengar penjelasan Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT Dany Suhadi dalam Rapat Koordinasi tentang tata niaga peternakan di NTT di Kantor DPD RI Perwakilan NTT, Selasa (3/2/2016). Foto: Lorens Leba Tukan

Kupang–Senator Ibrahim Medah menggelar rapat koordinasi (Rakor) bersama Dinas Peternakan NTT guna menelusuri persoalan pengangkutan sapi dari Kupang ke Jakarta.

Rakor di Kantor DPD RI Prewakilan NTT Rabu (3/2) dihadiri jajaran Dinas Peternakan, dan anggota Komisi III DPRD NTT Wellem Kalle.

Read More

Medah mendengar penjelasan Kepala Dinas Peternakan NTT Dany Suhadi terkait tata niaga dan pengangkutan sapi menggunakan Kapal Motor Camara Nusantara 1 yang pada pelayaran kedua ke Kupang Desember 2015, kapal tersebut pulang kosong karena pengusaha menolak mengirim sapi.

Medah mengatakan ketika rapat bersama Dirjen Perhubungan Laut Kementrian Perhubungan di DPD RI pekan lalu, informasi yang disampaikan menyebutkan operasional kapal tersebut tidak maksimal .

Baca Juga :  DPD II Golkar se-NTT Sosialisasi Medah Calon Gubernur

“Sehingga saya datang ke Kupang untuk menelusuri dan mencari tahu, kenapa bisa terjadi demikian. Setelah rakor ini, saya akan bertemu dengan peternak dan asosiasi yang mengurus tentang tata niaga ternak untuk mengetahui duduk persoalannya agar saya bisa turut serta mencarikan solusinya jika itu menjadi urusan pemerintah pusat,” katanya.

Kepala Dinas Peternakan NTT Danny Suhadi mengatakan kapal pulang kosong pada pelayaran kedua karena ketika itu jelang perayaan Natal sehingga banyak kendala yang dihadapi dalam urusan tata niaga peternakan.

“Pada pelayaran ketiga ini kapal itu sudah terisi dan mengangkut 500 sapi dari NTT,” katanya. Ratusan sapi itu terdiri dari 300 ekor diangkut dari Pelabuhan Tenau Kupang, dan 200 ekor lagi diangkut dari Waingapu, Sumba Timur.

Baca Juga :  Medah Kembali Tegaskan Siap Maju Calon Gubernur NTT 2017

Kepada wartawan, Medah mengatakan persoalan awalnya ialah pemerintah pusat tidak tahu tata niaga peternakan di NTT terutama di Pulau Timor. Pemerintah berasumsi bahwa membeli langsung ternak ke masyarakat.

“Yang terjadi selama ini adalah dari peternak dan melalui para pengumpul dan para pengumpul langsung ke pasar. Sehingga niat untuk membeli langsung di masyarakat itu sangat mustahil karena peternak ini tersebar hampir di seluruh desa,” katanya.

Ia mengatakan pada pelayaran kapal sebelumnya, terjadi penyusutan berat sapi antara 8-11 persen. “Saya minta Kadis Peternakan NTT untuk melakukan penelusuran, peyusutan itu terjadi karena apa, jika itu terjadi karena konstruksi kapal, maka kita akan perbaiki konstruksi kapalnya. Tetapi jika itu terjadi karena sistem maka sistem itu yang harus diperbaiki,” katanya. (lbt)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *