Heboh, Istri Cantik di Manggarai Selingkuh, Suami: Saya Mendapati Istri Saya dan Romo Berpelukan Dalam Satu Selimut

  • Whatsapp
Kolase Foto Mama Sindi dan Romo

Kupang – Kasus dugaan perselingkuhan antara seorang perempuan dikenal dengan nama Mama Sindi di Desa Lembur, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur bekin heboh.

Kasus ini sudah bergulir sejak beberapa hari terakhir. Akan tetapi, kian viral lantaran sang suami bernama Valentinus atau disapa Bapak Sindi membaut pengakuan tertulis yang mengejutkan publik.

Valentinus mengaku menemukan istrinya tidur bareng Romo Agustinus Iswanti dalam satu selimut di tempat tidur di kamar rumah mereka. Saat itu, pintu kamar tidak terkunci.

“Saya mendapati istri saya dan romo, tidur berdua dalam satu selimut. Melihat mama sindi tidur dalam satu selimut dengan romo, saya syok lalu memegang kaki istri saya sambal menarik selimut, saya melihat mereka sedang berpelukan. Melihat itu saya emosi dan marah  lalu menampar mereka berdua. Saya menangis sambil berteriak mengancam mama sindi. Kemudian saya ke dapur untuk mengambil parang, setelah saya kembali, istri saya sudah lari ke luar rumah sedangkan romo tetap di situ untuk menenangkan saya,” demikian isi butir ke-7 pengakuan Valentinus yang dikutip dari flotim.pikiranrakyat.com.

Kejadian pada 24 April 2024 sekitar pukul 02.00 dini hari. Sebelum pergi ke rumah mama Sindi, Romo Agustinus mengirim pesan WhatsApp ke mama Sindi, isi pesan itu juga dibongkar oleh Valentinus atau Bapak Sindi dan telah menyebar di media sosial.

Akan tetapi sebelum adanya pengakuan dari Bapak Sindi, Romo Agustinus juga memberikan klarifikasi tertulis pada 26 April 2024.  Pengakuan Valentinus sebanyak 14 poin, mengenai kasus ini serta klarifikasi romo terdiri dari 16 poin, dapat dibaca di bagian bawah tulisan ini.

Pengakuan Bapak Sindi

Saya Valentinus (Bapa Sindi) dengan ini menjelaskan kronologi kejadian yang sebenar-benarnya,tanpa paksaan ataupun intervensi dari pihak manapun dan sesuai dengan fakta atau kejadian yang
terjadi:

1. Betul bahwa keluarga saya dan romo gusti memiliki hubungan baik bahkan saya sudah
menganggapnya seperti keluarga saya sendiri.

2. Pada hari selasa tanggal 23 april 2024 pukul 18:04 wita, romo gusti mengirim pesan via WhatsApp kepada istri saya untuk menyiapkan makan malam bersama di rumah saya

(Bukti chat ini diambil dari hp istri saya yang tertinggol, tidak sempat dibawah saat meninggalkan rumah.)

3. Sekitar pukul 20:00 wita romo gusti bersama 2 orang sopir (save dan kristo), satu orang tukang masak paroki (melin) dan anak kitin tiba di rumah saya di lembur setelah sampe di
rumah, kami pihak keluarga menyuguhkan minuman kopi dan energen. Selanjutnya kami makan malam bersama.

4. Sekitar pukul 21:00 wita setelah selesai makan malam kami sharing sambil main kartu (yangmain kartu saya, romo gusti, kristo dan istri saya sedangkan melin, titin dan siren sudah masuk ke kamar untuk tidur) sampai dengan sekitar pukul 00:00 wita.

Selanjutnya romo gusti pamit untuk pulang ke pastoran dan istri saya menawarkan (NEK: kebiasaan kita orang manggarai manawarkan) untuk menginap karena sudah larut malam.

5. Romo gusti pun menyetujui dan berbaring di tempat tidur samping meja makan dan mengajak kristo untuk tidur bersama, tetapi kristo (sopir) menolak karena katanya romo
kalau tidur sering mendengkur. Pada saat itu saya dan kristo berencana untuk tidur di sofa depan ruang tamu.

Tidak berselang lama istri saya (mama sindi) memangil saya untuk meminta romo pindah tidur di dalam kamar. Saya sempat tidak menyetujui saran dari istri saya tetapi menurut istri saya tidak baik seandainya romo tidur di samping meja makan.

Dengan berat hati saya menyetujui saran dari istri saya, kemudian saya meminta romo untuk tidur didalam kamar dan romo pun menyetujuinya. Selanjutnya saya dan kristo pindah di tempat tidur di samping meja makan yang semulanya ditempati romo.

Sedangkan Istri saya (mama sindi), siren (anak bungsu), melin dan kitin tidur di kamar tengah. Santo (anak ke 2) dan save tidur di kamar depan. Setiap kamar tidur masing masing memiliki pintu lengkap dengan kain gorden.

6. Sekitar pukul 02:00 wita saya melihat istri saya keluar dari kamar menuju tempat saya dan kristo tidur, pada saat itu saya belum tidur. Saya pun mulai curiga mengapa istri saya belum tidur.

Saya melihat istri saya kembali ke dalam, tetapi bukan ke kamar tidurnya melainkan menuju ke kamar yang ditempati romo gusti tidur. Tidak berselang lama karena merasal
janggal saya ikut masuk ke kamar yang ditempati romo, pintu kamar dalam keadaan tidak terkunci.

7. Saya mendapati istri saya dan romo, tidur berdua dalam satu selimut. Melihat mama sindi tidur dalam satu selimut dengan romo, saya syok lalu memegang kaki istri saya sambal menarik selimut, saya melihat mereka sedang berpelukan.

Melihat itu saya emosi dan marah lalu menampar mereka berdua. Saya menangis sambil berteriak mengancam mama sindi. Kemudian saya ke dapur untuk mengambil parang, setelah saya kembali, istri saya sudah lari ke luar rumah sedangkan romo tetap di situ untuk menenangkan saya.

8. Mendengar teriakan saya, semua orang didalam rumah terbangun dari tidur. Santo anak ke dua saya berlari ke luar rumah mengejar istri saya sedangka melin, save dan krtisto langsung berlari ke luar rumah, siren dan kitin tetap berada didalam rumah.

9. Melihat saya memegang parang, Romo gusti mandorong saya dan menindih badan saya di tempat tidur sambil mengamankan parang di tangan saya agar tidak mengejar istri saya. Saya sangat terpukul, saya menangis sambil memaki romo gusti karena saya merasa dikhianati.

10. Beberapa menit kemudian santo anak saya kembali tetapi tidak bersama istri saya, dengan penuh emosi santo membanting pintu dan menarik saya dari tindihan romo gusti. Kejadian ini disaksikan anak saya (siren) dan kitin.

11. Kemudian romo gusti berlutut memohon ampun dan menangis sambil berkata “bapa indi ampong, saya yang salah, kamu pukul saja saya”.

Hal ini disampaikan kurang lebih 4 kali kepada saya, romo juga memohon ampun dan memeluk anak santo sambil menangis dan berkata “somba somba, saya minta maaf, tolong jangan kasitau ke siapa-siapa, kalau kamu
angkat masalah ini, hancur saya”. Di saat itu saya hanya menangis dan menyuruh romo pulang, sambil berkata “lebih baik romo pulang sebelum saya teriak memanggil keluarga di
sekitar rumah saya”.

12. Sekitar pukul 03:00 wita sebelum romo bersama karyawan pulang, sekali lagi dia bersujud dan berkata kepada saya “bapa indi, saya minta maaf. Saya sudah terlanjur dengan mama indi, kasus ini tolong diam-diam saja sebab kalau ite bongkar, saya hancur”.

Kejadian ini disaksikan oleh santo, siren, kitin dan salah satu tetangga yang sempat hadir karena terbangun mendengar keributan di rumah saya. Setelah itu romo dan rombongannya pulang kembali ke paroki kisol.

13. Pada hari rabu tanggal 24 april sekitar pukul 19:00 wita, saya bersama santo, 2 orang adik ipar saya, menuju ke kevikepan borong untuk melaporkan kejadian ini. Laporan saya diterima langsung oleh romo Simon Nama, Pr (vikep borong)

14. Dari hari kejadian sampai dengan kronologi kejadian ini dibuat, saya bersama keluarga tidak mengetahui keberadaan istri saya.

Demikian kronogi kejadian yang saya buat, saya memohon doa dan dukungan kepada saya dan anak anak yang menjadi korban. Saya berharap masalah yang menimpah saya dan keluarga saya dapat diselesaikan secepatnya.

Klarifikasi Romo Agustinus Iwanti

Saya, Romo Agustinus Iwanti (Pastor Paroki St. Yosef Kisol-Keuskupan Ruteng) dengan ini menerangkan tentang kronologis peristiwa yang menimpa saya, yang saat ini sedang diperbincangkan pada media social-pun di tengah umat.

1. Semenjak saya bertugas di Paroki St. Yosef Kisol (pertengahan tahun 2022), saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan keluarga Bapak Tinus (biasa disapa Bapa Sindi) layaknya keluarga sendiri. Kedekatan hubungan ini ditandai dengan: Mereka sekeluarga sering mengunjungi saya di pastoran dan sebaliknya saya bersama semua anggota pastoran (karyawan/i) mengunjungi mereka di rumahnya.

Dalam urusan keluarga saya di Lengko Elar (kampung saya), mereka sering hadir dan mengambil bagian. Bahkan mereka menitipkan anak mereka (Enu Itin-anak dari adik Bapak Tinus/Bapa Sindi) di pastoran untuk buntu-bantu dalam urusan rumah tangga pastorun. Jadi, saya merasa keluarga bapak Tinus adalah bagian dari keluarga saya.

2. Bahwa pada hari Selasa, 23 April 2024 tepatnya pukul 17.30 WITA saya dan Bapa Tinus saling berkomunikasi lewat WA seperti biasanya.

3. Pukul 17.53 WITA kami berdua sepakat untuk makan bersama di rumah beliau seperti biasanya.

4. Sekitar pukul 20.00 WITA, saya bersama dengan anggota pastoran (Enu Melin/Karyawati dapur, Save/sopit, adik Kristo adik sepupu, dan Enu Itin/anak dari adiknya Bapak Tinus) menggunakan mobil pribadi (Terios) berangkat menuju rumah Bapak Tinus di Stasi Rende.

5. Kurang lebih pukul 20.30 WITA kami tiba di rumah Bapak Tinus. Saat itu yang ada di rumah Bapak Tinus, Enu Hermin/Mama Sindi (istrinya), Anak Santos (putranya), dan Enu Siren (putri bungsunya).

6. Sekitar pukul 20.30 WITA kami disuguhi minuman kopi dan hanya kepada saya diberikan minuman energen. Yang mengantar minuman oleh Enu Hermin/Mama Sindi. Dan setelah itu kami langsung makan bersama.

7. Sekitar pukul 21.30 WITA (setelah makan malam) kami bincang-bincang santai. dan sambil rekreasi main kartu dengan sangsi hukuman berdiri. Hal ini biasa kami lakukan setiap kali berkumpul. Adapaun yang ikut rekreasi main kartu saya, Bapa Sindi, Mama Sindi dan adik Kristo.

Sedangkan Ena Melivkaryawati pastoran dan Enu Itin segerah menuju kamar tidur anak Siren. Dan Safe ke kamarnya anak Santos. Hal ini juga biasa mereka lakukan karena kedekatan mereka selama ini.

8. Karena sudah larut maları, sekitar pulul 01.00 WITA (dini hari), saya meminta anggota pastoran (Enu Melin, Safe) yang sementara tidur untuk dibangunkan dan siap-siap kembali ke Pastoran. Sedangkan Ena Itin bertahan di rumah.

9. Akan tetapi Mama Sindi mengatakan bahwa mereka sudah tidur lelap. Lalu saya sendiri mangatakan “hiar saya dan adik Kristo pulang duluan”, tetapi Bapak Sindi dan Mama Sindi menahan kami semua untuk nginap karena sudah larut malam. Kami pun mengiakan ajakan mereka.

10. Bapak Sindi memuntun saya ke kamar tidur yang ternyata sudah mereka siapakan. Sedangkan adik Kristo dan Bapak Sindi berbaring/tidur di tempat tidur yang letakanya di depan kamar tidur untuk saya. Mama Sindi tidur bersama anak-anak perempaunnya dan Enu Melin.

11. Karena kelelahan (karena aktivitas sepanjang hari di pastoran), saya langsung tertidur lelap dalam kamar dengan kondisi pintu terbuka hanya ditutupi kain tirai.

12. Kurang lebih pukul 02.00 WITA, saya terbangun karena dikagetkan dengan teriakan makian dari Bapak Sindi sambil ia mengancam mengambil parang. Saya sangat shok dan bingung dengan keadaan sekejap itu. Dan saat itu saya melihat Mama Sindi juga ada di dalarn kamar dengan kondisi berbusana lengkap, dan tiba tiba dia lari ke luar. Dan masih dalam keadaan shok, saya berusaha menenangkan Bapak Sindi. Saat itu saya masih dalam keadaan berpakaian lengkap, ditambah kain selimut dan bangun mendekati Bapak Sindi.

13. Karena teriakan keras Bapak Sindi berupa makian-makian dan ancaman untuk membunuh, sehingga mengakhibatkan semua orang dalam rumah ikut bangun dan ikut panik. Supaya tidak terjadi keributan besar, saya dan semua anggota pastoran segera meninggalkan rumah itu dan balik ke pastoran.

14. Kami pun pulan ke pastoran (tanpa enu Itin/anak dari adiknya Bapak Sindi). Dalam perjalan pulang, persisnya di kampung Munde, saya tiba-tiba dihubungi Mama Sindi (dia dalam keadaan menangis dan ketakutan) untuk minta bantuan dijemput. Atas permintaan Mama Sindi dan demi keselamatannya, saya bersama anggota pastoran, kami kembali menjemput dia di pertengahan jalan (agak jauh dari rumahnya). Lalu karni bersama-sama dalam satu mobil menuju pastoran.

15. Demi keselamatan diri saya dengan karyawan, maka tepat pukul 08.00 WITA (Rabu, 24 April 2024), saya, adik Kristo dan Safe meninggalkan pastoran dan ke luar dari kota Borong.

16. Sedangkan Mama Sindi masih di seputaran kota Borong.

Demikian klarifikasi dan kronologis peristiwa yang menimpah saya. Dengan tulus hati saya meminta maaf kepada Yang Mulia Bapak Uskup Ruteng, Vikep Borong dan Para Imam, keluarga-keluarga saya, umat paroki St. Yosef Kisol, serta seluruh umat yang terganggu karena peristiwa ini.

Saya sangat memohon doa dan dukungannya agar persoalan ini cepat terselesaikan dengan baik sehingga saya bisa bertugas kembali. Terima kasih. (*/gma)

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.