Kupang – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat ekonomi daerah melalui program inovatif One Community, One Product.
Strategi ini menjadi fokus utama Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, dalam Flobamorata Business and Economic Forum yang digelar Bank Indonesia Perwakilan NTT di Kupang, Senin (24/11/2025).
Gubernur Laka Lena menjelaskan, program One Community, One Product bertujuan mendorong setiap komunitas di NTT untuk mengembangkan setidaknya satu produk unggulan, baik berupa barang maupun jasa, yang memiliki potensi skala provinsi bahkan nasional.
“Dengan program ini, setiap komunitas bisa berpikir strategis untuk menghasilkan produk yang berkelanjutan, meningkatkan nilai tambah, dan menumbuhkan ekonomi lokal,” ujar Gubernur.
Bukti keberhasilan program ini terlihat dari transaksi perdagangan produk lokal NTT.
Dalam pertemuan bisnis sebelumnya (dengan Jawa Timur) tercatat total transaksi mencapai Rp1,88 miliar, dengan penjualan produk lokal sebesar Rp100 miliar, sementara NTT membeli senilai Rp1,7 triliun.
Karena itu, gubernur menekankan bahwa produk-produk unggulan NTT perlu dikembangkan lebih lanjut untuk meningkatkan nilai tambah, sehingga masyarakat, kabupaten, kota, hingga provinsi dapat merasakan manfaat ekonominya.
Selain pengembangan produk lokal, NTT juga aktif menarik investasi dari dalam maupun luar negeri.
“Kami terus membuka berbagai kerja sama. Misalnya, kerja sama dengan Jawaa Timur tercatat Rp1,882 triliun, dan besok akan ada kolaborasi antara NTT, NTB, dan Bali untuk memperkuat ekonomi kawasan,” tambahnya.
Gubernur menekankan pentingnya industrialisasi berbasis sumber daya lokal. Sektor pertanian, perikanan, ternak, dan kakao menjadi fokus utama karena memiliki potensi nilai tambah yang tinggi.
“Jika dikelola dengan baik, potensi ini bisa mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.
Program One Community, One Product diharapkan memperkuat identitas ekonomi NTT sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan strategi ini, NTT berharap tidak hanya menarik investor, tetapi juga memberdayakan komunitas lokal agar tumbuh mandiri, produktif, dan berkelanjutan.
Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTT, Adidoyo Prakoso dalam sambutannya menyebut permintaan domestik menjadi pendorong utama optimisme ekonomi.
Konsumsi masyarakat meningkat, didukung perbaikan realisasi modal pembentang, sehingga memperkuat perekonomian provinsi hingga 2025.
Meski demikian, lanjut Adidoyo, sektor pertanian masih menghadapi tantangan. Produksi padi menurun akibat pergeseran periode musim tanam dan panen, yang menahan kinerja ekspor. Namun, pertumbuhan ekonomi NTT secara keseluruhan tetap menunjukkan tren positif.
Hingga akhir 2025, stabilitas harga di NTT tetap terjaga, sesuai sasaran regional 2,5–9,1%. Penguatan terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan energi, meskipun disparitas harga antar kota masih membutuhkan perhatian.
“Perkembangan kredit di sektor perbankan menunjukkan perbaikan, terutama pada penawaran kredit produktif dan konsumsi. Permintaan kredit meningkat sejalan dengan aktivitas ekonomi yang membaik, meskipun risiko kredit di sektor utama masih perlu dicermati,” ujarnya. (gma)














