Golkar NTT Energik di Tangan Peracik Obat (Refleksi 56 Tahun Partai Golkar)

  • Whatsapp
Ilustrasi: Pelantikan Pengurus DPD 1 Partai Golkar NTT

Penulis: Carlens Herison Bising

AHLI Farmasi atau peracik obat, punya kemampuan untuk meramu obat yang bisa menyembuhkan penyakit. Sama seperti ilmu untuk memadukan energi dari beberapa individu dalam sebuah organisasi seperti Partai Golkar. Dan untuk hal ini, ahlinya adalah Emanuel Melkiades Laka Lena.

Kepercayaan yang diberikan Partai Golkar pada September 2017 sebagai Ketua Golkar NTT pasti punya alasan mendasar. Ketika itu, Partai Golkar secara nasional sedang dalam guncangan hebat.

Ketua Umumnya, Setya Novanto disangka terlibat kasus korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Novanto juga Anggota DPR RI dari Dapil NTT II. Sementara Melki Laka Lena selain pengurus DPP Golkar, juga staf khusus Setya Novanto.

Masalah lainnya, Anggota Fraksi Golkar DPR RI, Charles Mesang juga terjerat kasus korupsi di KPK. Charles Mesang yang ditetapkan tersangka pada Desember 2016 itu, kerabat Setya Novanto di Dapil NTT II. Belum selesai dengan kasus-kasus di KPK dan internal Golkar, Ketua DPD I Golkar NTT, Ibrahim Agustinus Medah, hengkang ke Partai Hanura.

Keputusan untuk menunjuk Melki sebagai pelaksana tugas (Plt) pun oleh Sekjen Golkar, Idrus Marham yang juga Plt Ketum Golkar. Sejarah baru, DPD Golkar NTT dimulai. Mantan Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) itu kembali ke tanah asalnya, NTT. Ketika itu,kalimat “Siapa Mau Help” tidak memandang tua atau muda, sedang hits.

Isu milenials dan persaingan dengan mengandalkan kekuatan informasi di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat. Golkar NTT seperti terlalu tua untuk pemuda kelahiran 1976 ini. Apalagi, menggantikan tokoh sekelas Iban Medah. Mantan bupati, ketua DPRD NTT dan bahkah senator.

Semua mata tertuju pada Golkar NTT. Bukan hanya soal Melki Laka Lena, Melkias Mekeng atau Iban Medah dan lainnya. Namun karena akar beringin di NTT sudah begitu kuat mencengkeram. Terutama ketika itu PDI Perjuangan sedang menunggu masa untuk mengakhiri kekuasaan di kursi nomor satu NTT.

Kader-kader Golkar pasang kuda-kuda. Ambil alih kursi Ketua DPD I Golkar NTT. Lalu, rebut kursi gubernur. Mengingat kekuatan Golkar di parlemen NTT belum tergoyahkan. Partai lain pun pasang senyum sinis. Berdoa agar Golkar terus berkonflik. Biar pileg lebih seru. Karena banyak partai baru yang sedang menunggu partai-partai besar tiarap.

Namun lagi-lagi, Golkar adalah partai yang sangat matang. Proses pengkaderannya tidak bisa diragukan. Selalu ada plen B, plen C bahkan D dan seterusnya. Persaingannya pun tidak main-main. Karena masih ada begitu banyak kader senior. Baik di NTT yang menjabat bupati, anggota DPRD provinsi dan kabupaten. Bahkan ada Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi.

Bukan meragukan kemampuan Melki Laka Lena (MLL). Namun belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, di Partai Golkar dan partai lain. Jabatan politik di pemerintahan dan legislatif serta senioritas sangat dipertimbangkan dalam organisasi partai. Namun semua bisa dipatahkan ketika keputusan pengurus pusat turun.

DPP, bahkan seluruh DPD II, bulat memilih MLL, salah satu sapaannya. Mulai dari Musdalub September 2017, hingga Musda pada Maret 2020. Kalau 2017, mungkin masih ada sedikit keraguan. Internal dan eksternal. Mengingat masa peralihan di tengah goncangan di tubuh Golkar. Belum lagi nada miring kedekatan MLL dan Setya Novanto ketika itu.

Pergerakan Golkar NTT semakin terlihat ketika pencalonan Melki digantikan Jos Nae Soi di Pilgub NTT 2018. Golkar awalnya mendorong Melki mendampingi Jacky Uly dari NasDem. Namun kemudian digantikan dengan Viktor Bungtilu Laiskodat-Josef Nae Soi. Kampanye yang dimulai dengan deklarasi di hampir semua kabupaten, terus membangun citra positif Golkar.

Baca Juga :  Terpilih Secara Aklamasi, Melki Laka Lena Pimpin Golkar NTT

Nama Melki terus naik ketika proses menuju Pileg 2019. Setelah memenangkan Pilgub NTT, pekerjaan berat lagi adalah penentuan para caleg. Bahkan Melki sendiri ikut bertarung di Dapil NTT II. Lawannya sesama Golkar pun bukan kacangan. Dua mantan bupati dua periode, Paul Mella dari Kabupaten TTS dan Ayub Titu Eki dari Kabupaten Kupang.

Belum bertarung, ujian berat pun datang. Sejumlah kader dicurigai membelot. Januari 2019, Melki memberhentikan Ketua DPD II Golkar Sumba Timur, Gidion Mbilijora dan menunjuk pengurus DPD I, Libby Sinlaeloe sebagai Plt. Golkar kembali terguncang. Isu untuk menjegal Melki di pileg muncul. Mengingat pileg kurang dari lima bulan lagi, kala itu. Apalagi, Gidion adalah Bupati Sumba Timur dua periode, kabupaten dengan basis Golkar terbesar di Dapil NTT II.

Keputusan tidak bisa ditarik. Roda organisasi terus berputar. Punggawa Golkar terus bergerilya. Di luar dugaan, slogan Suara Rakyat Suara Golkar terbukti. Golkar NTT berhasil meloloskan dua kursi ke Senayan. Melkias Mekeng dan Melki Laka Lena. Bahkan Sekretaris DPD Golkar NTT, Inche Sayuna duduk di bangku Wakil Ketua DPRD NTT. Meski sebelumnya Golkar tidak pernah tergantikan di kursi ketua. Namun, dengan badai yang begitu dahsyat, Golkar masih bisa membusung dada. Golkar berkuasa di sebagian kabupaten. Beringin masih begitu rimbun dan kokoh di Bumi Flobamorata.

Usai pileg, Melki menunjukkan kepada Golkar dan partai lain, bahwa dia bukan sekadar mantan tenaga ahli di Senayan. Kompleks tempat seluruh kekuatan politik terbesar di negeri ini diramu. Dan, Melki digodok di sana. Bersama para senior dan sesepuh Golkar. Bahkan yang sudah menjadi pendiri partai lain. Apoteker itu bukan juga anak buah biasa-biasa dari Setya Novanto. Sekira satu dekade di gedung parlemen sebagai anak buah, Melki tampil kembali sebagai politisi masa kini dan dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI.

Posisi tawar Golkar NTT di tingkat nasional terus naik. Golkar NTT yang berhasil keluar dari tekanan peralihan pimpinan, mendapat kepercayaan dari DPP Golkar. Terutama ketika peran Melki sebagai wakil ketua komisi begitu apik dimainkan. Bersama mitra di komisinya, Melki tidak sedikitpun membiarkan Golkar NTT terlena. Justru sendi-sendi organisasi terus diperkuat. Bukan saja secara internal. Penguatan secara eksternal pun tidak kalah majunya.

Pengurusnya banyak pemuda. Bukan sekadar kader muda. Mereka yang sudah lanjut usia, namun berjiwa milenial. Jabatan diberikan dengan pendampingan dan pembiayaan. Sesuai keahlian. Begitu banyak kader-kader muda dan energik, kreatif dan inovatif. Kesempatan dibuka lebar untuk berkreasi dan berinovasi. Internalnya begitu kuat dan solid. Saling mendengar dan sama-sama bergerak maju.

Tidak sedikit kegiatan positif yang mereka lakukan. Mulai dari turnamen beberapa jenis olahraga, pelatihan UMKM hingga dialog-dialog kritis yang dibangun bersama kaum milenial. Pemuda dan mahasiswa. Dukungan besar juga dari bidang publikasi. Golkar NTT telah mengambil langkah tepat dengan memberikan kepercayaan kepada para jurnalis untuk memainkan peran sebagai “tentara” udara.

Di tengah Pandemi Covid-19 ini, Golkar hadir di tengah masyarakat dengan berbagai bantuan. Mulai dari alat pelindung diri (APD) hingga bahan kebutuhan pokok. Semua dikemas begitu rapih dengan publikasi yang masif dan positif. Masyarakat terbantukan. Golkar terus menebar energi positif, melalui sentuhan-sentuhan informasi yang mendidik dan menyejukkan.

Baca Juga :  Gubernur NTT Kirim Utusan ke Sumba Barat Daya

Karya nyata lainnya, yakni membangun ekonomi berbasis UMKM. Kader-kader muda Golkar datang dari berbagai disiplin ilmu dan profesi. Tidak sedikit yang pengusaha. Mereka berkolaborasi dan mendukung pelaku UMKM dengan pendidikan dan latihan. Ini upaya untuk membantu masyarakat agar bisa bertahan di tengah merosotnya ekonomi global dan lokal.

Manajemen kepepimpinan yang dibangun Golkar NTT saat ini seperti tidak ada celah untuk saling rampas tupoksi. Masing-masing dengan porsinya. Semua terbagi habis. Ada yang diberi tugas sebagai amoxilin untuk menyembuhkan luka. Luka para senior yang harus merelakan posisinya untuk kader terbaik lain. Yang bertugas sebagai paracetamol untuk meredakan mereka yang sedang panas. Dinamika politik itu hal lumrah. Melki sebagai apoteker, tahu di mana sendi yang sudah harus diperkuat, atau diganti. Kalau ada Ketua DPD II yang sudah banyak berbuat, dia berikan kesempatan kepada kader lain untuk menunjukkan kemampuannya sebagai kader terbaik.

Proses kaderisasi yang diramu dalam pendekatan-pendekatan yang sangat ketimuran. Pemilihan Ketua DPD II semuanya dilakukan secara aklamasi. Kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit. Karena semua diberi kesempatan yang sama, sehingga tidak ada yang merasa lebih loyal atau lebih “kader” dari kader lain.

Golkar NTT punya banyak senjata. Salah satu yang menonjol adalah kehadiran kaum perempuan di dalam lingkaran kepengurusan. Ini sebuah keputusan yang tepat, di mana tuntutan untuk kesetaraan gender menguat. Terutama keterwakilan perempuan sudah diatur secara nyata dalam regulasi kita. Bukan hanya Inche Sayuna yang dipercaya sebagai Sekretaris DPD Golkar NTT. Perempuan asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) itu juga dipercaya sebagai Wakil Ketua DPRD NTT.

Di bawah Inche, ada begitu banyak kaum hawa. Bukan sekadar tim hore. Mereka bertalenta sesuai tugasnya. Good looking dan smart. Daya tarik kaum hawa memang tidak bisa dinafikkan dalam sebuah organisasi. Terutama ketika menghadapi situasi tertentu, perempuan bisa menjadi penengah.

Bukan saja di dalam organisasi. Pilkada serentak 2020 juga membutuhkan kerja ekstra di luar struktur partai. Dimana Golkar NTT harus berkoalisi untuk mengusung jagoannya di sembilan kabupaten yang menggelar pilkada. Ada kader yang diusung dan ada pula putra dan putri terbaik daerah yang didukung. Keputusan berkoalisi butuh pertimbangan matang. Dilihat dari berbagai sudut. Dan, Golkar NTT sudah melakukannya secara bijak.

Penentuan koalisi hingga calon yang diusung pun butuh proses berat. Di sinilah terlihat, Golkar begitu energik di tengah image partai tua. Yang jelas kalau dilihat dari usianya yang menginjak 56 tahun, itu usia senja. Namun usia organisasi sekadar angka, dimana yang harus dilihat bukan saja apa yang sudah dibuat. Namun juga apa yang sedang dan akan dikerjakan.

Perpaduan ketua dan para individu di tubuh Golkar, secara langsung memberi dorongan. Golkar NTT begitu energik. Ditambah racikan kekuatan yang dibangun menggunakan filosofi kefarmasian. Sakit di internal Golkar yang menahun sebelumnya, kini telah pulih. Golkar yang dikenal tua, kini dan pasti ke depan semakin energik, tampil kekinian di tangan peracik obat. SEKIAN

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *