Dinkes NTT-Unicef Luncurkan Buku Etnomedisin dan Cerita Inspiratif Malaria

  • Whatsapp

Kupang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Unicef melakukan peluncuran dan bedah dua buku malaria secara virtual dan offline, Selasa (17/11.

Peluncuran dan Bedah Buku dilakukan oleh pakar dari berbagai disiplin ilmu dari Unicef, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Dinas Kesehatan NTT, Universitas Airlangga dan Kementerian Kesehatan.

Read More

Kegiatan itu dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-56 Tahun 2020 dengan tema Satukan Tekad Menuju Indonesia Sehat dan subtema ‘Jaga Diri, Keluarga dan Masyarakat, Selamatkan Bangsa dari Pandemi Covid-19’, yang diperingati setiap 12 November.

Buku pertama dengan judul ‘Katong Pung Cerita Inspirati Menjadi Agen Perubahan’ ditulis oleh epidemiolog Unicef, Ermi Ndun bersama dokter Sangguana Koamesah, Dece Merry Natalia Pay, Wempy Anggal dan Bondan Bondowoso. Buku ini berisi cerita inspiratif bagaimana masyarakat terlibat dalam program eliminasi malaria.

Sedangkan, buku kedua berjudul Etnomedisin mengupas tentang pengobatan tradisional penyakit malaria yang dilakukan masyarakat Tetun di Timor Barat selama bertahun-tahun, ditulis oleh pakar Ilmu Kimia Organik Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Maximus Taek.

Pelaksana Harian Kepala Dinas Kesehatan NTT Hendrik Manesi mengatakan perayaan hari kesehatan nasional di NTT tidak seperti tahun-tahun sebelumnya lantaran pandemi korona seperti upacara mengenang jasa pahlawan kesehatan.

“Tetapi tetap dengan semangat menuju Indonesia sehat, kegiatan perayaan hari kesehatan ini diisi dengan kegiatan peluncuran buku dalam rangka memberantas wabah malaria,” ujarnya saat menyampaikan sambutan.

Baca Juga :  Dana Desa Siap Dikucurkan untuk Program Eliminasi Malaria

Kegiatan peluncuran dan bedah buku dilakukan secara offline dengan peserta yang terbatas dan menerapkan protokol kesehatan, dan virtual yang diikuti peserta dari luar daerah.

Pada kesempatan tersebut, Hendrik Manesi mengajak masyarakat belajar dan bertanggungjawab terhadap kesehatan dirinya yang diwujudkan dengan berperilaku sehat agar terhindar dari penyakit seperti menerapkan protokol kesehatan.

Buku Etnomedisin, Pengobatan Tradisional menggali budaya tradisional penyakit malaria yagn diwarisi secara turun-temurun oleh nenek moyang masyarakat Suku Tetun di Timor, dan upaya memberdayakan masyarakat yang terlibat mengendalikan penularan penyakit malaria dengan metode participatory learning and action (PLA) atau pembelajaran dan tindakan partisipatif yang dikupas dalam buku Katong Pung Cerita Inspirati Menjadi Agen Perubahan tersebut.

Menurutnya, informasi yang disajikan dalam dua buku tersebut dapat dikembangkan menjadi lebih luas dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam rangka mendukung percepatan eliminasi malaria di NTT, dan penyakit lainnya seperti demam berdarah dengue (DBD).

Adapun kasus malaria di NTT sejak 2016-2019 menunjukkan penurunan yakni dari 123.800 kasus positif atau 28,3 per 1.000 penduduk pada 2016, turun menjadi 12.909 kasus positif atau 2,16 per 1.000 penduduk pada 2019.

Sebaran kasus malaria tidak merata di 22 kabupaten dan kota, sedangkan kasus terbanyak di empat kabupaten di Pulau Sumba yakni Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Sedangkan syarat eliminasi malaria ialah nol kasus penularan setempat. Saat ini Kota Kupan dan Kabupaten Manggarai telah berhasil mencapai eliminasi malaria.

Baca Juga :  Siswa SD di Nagekeo Tewas Terseret Banjir

Rektor Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Philipus Tule yang menjadi salah pembahas dua buku tersebut menyebutkan kajian akademis tentang kearifan lokal dan pengetahuan tentang tumbuhan obat itu dimanfaatkan dalam konteks hidup lokal maupun global.

Meskipun, sesuai penelitian ramuan tradisional itu sukses menyembuhkan, namun ada beberapa kelemahan praktis dan konseptual, masyarakat masih percaya ada penyakit alamiah yang disebabkan oleh faktor alam, cuaca buruk, kemurkaan leluhur, magi, guna-guna, sihir dari pemilik ilmu hitam.

Hal itu disebabkan, masyarakat belum memiliki konsep tentang nyamuk sebagai pembawa penyakit malaria dan ancaman kesehatan yang membuat mereka tidak serius melakukan tindakan pencegahan dan pemberantasan nyamuk pembawa sakit malaria

Menurutnya, masyarakat juga belum memiliki konsep yang memadai tentang sehat-sakit dan sembuh sehingga banyak kasus pengobatan malaria dilakukan tidak tuntas. Masyarakat juga belum terbiasa mengolah bahan obat dengan komposisi yang terstandar. Di antaranya yang dibahas dalam buku tersebut, kasus kematian terjadi karena warga yang sakit diberikan ramuan dari pohon nimba. (mi)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *