Charles Mesang Gandeng BKKBN Sosialisasi Generasi Berencana

  • Whatsapp
Anggota Komisi IX DPR RI Dari Partai Golkar Daerah Pemilihan NTT II Dr. Charles J. Mesang ketika membawakan materi dalam acara sosialisasi Generasi Berencana bersama BKKBN di halaman SMU Negeri 9 Lasiana, Kota Kupang, Jumat (25/11/2016). Foto: Lorens Leba Tukan

Kupang–Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai Golkar Dr Charles J. Mesang menggandeng Direktur Perencanaan dan Pengendalian Penduduk BKKBN Benny Benu melakukan sosialisasi tentang Generasi Berencana di SMA Negeri 9 Kota Kupang di Lasiana, Kota Kupang, Jumat (25/11/2016).

Acara sosialisasi itu dihadiri ratusan siswa dan siswi serta seluruh guru di sekolah itu bertujuan untuk memberikan informasi terkait empat bahaya besar yang selalu mengancam generasi muda di antaranya seks pra nikah, bahaya narkoba, pernikahan dini, dan kehamilan remaja.

Dia mengatakan jumlah penduduk Indonesia yang besar, bukan sebagai aset bangsa karena tidak dibarengi kualitas yang memadai. Karena itu Presiden Joko Widodo telah mencanangkan dalam program pembangunan nasional poin kelima yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Ada empat hal yang harus diperhatikan dalam meningkatkan kualitas manusia, yaitu mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, pendidikan wajib bagi setiap anak bangsa, kesehatan melalaui BPJS agar seluruh masyarakat Indonesia bisa lebih sehat dan ketika sakit bisa berobat dengan gratis, Sampai saaat ini belum seluruh masyarakat tedaftar, namun pemerintah terus berusaha keras agar terus ditambahkan, dan bulan ini hampir 30 juta masyarakat Indonesia mendapat Kartu BPJS. Sedangkan yang keempat adalah lapangan perkrjaan,” katanya.

Baca Juga :  Stanis Tefa: Pengusaha di Kupang Bayar Gaji Buruh Rp300 Ribu Per Bulan

Anggota DPR RI lima periode itu menambahkan, jika empat hal ini tercapai, tujuan bernegara yaitu mewujudkan kesejahtreaan masyarakat akan tercapai.

Ia juga berpesan kepada generasi muda saat itu bahwa sebagai calon pemimpin masa depan, para siswa dan siswi agar mempersiapakan diri dengan baik dan menuntut ilmu dengan serius agar apa yang diharapkan pemerintah berkaitan dengan peningkatan kualitas manusia bisa terwujud.

“Persoalan yang sering menerpa para remaja seperti pernikahan dini, hamil di luar nikah dan bahaya narkoba, harus dihindari dengan mengisi waktu untuk kegiatan-kegiatan yang postif,” katanya.

Direktur Perencanaan Pengendalian Penduduk BKKBN, Benny Benu saat itu mengatakan, pengembangan program generasi berencana menjadi masalah pemerintah. Bahkan, masalah terbesar terjadi di Provinsi NTT. Pasalnya, dari 34 Provinsi di Indonesia, NTT memiliki angka kelahiran tertinggi dibanding provinsi lain.

“Angka kelahiran di NTT selalu berada di posisi tiga koma, yang artinya di NTT setiap wanita yang bersuami rata-rata memiliki anak 3-4 orang. Dan itu jauh diatas rata-rata nasional yaitu 2,28, yang rata-rata memeliki anak dua orang, bahkan di Jogja, DKI dan Gorontalo rata-rata memiliki anak satu orang. Hanya kita di NTT yang angka kelahiran di atas tiga,” katanya.

Baca Juga :  Emilia Nomleni Tarik Nomor Urut Sambil Menangis

Benny Benu menambahkan, lantaran persoalan kependukan dan Keluarga Berencana yang paling berat ada di NTT sehingga pihaknya memenita bantuan Komisi IX DPR RI untuk turut serta mensosialisasikan program ini kepada masyarakat di dapilnya masing-masing.

“Maka hari ini saya bersama Dr. Charles Mesang hadir di tempat ini,” katanya.

Ia mengatakan, sasaran program ini pada kaum remaja, karena tingkat kelahiran yang tinggi saat dikontribusikan oleh remaja. “Kelahiran olah remaja, dan kelahiran itu memberikan kontribusi kepada angka kelahiran normal dan angka kematian ibu melahirkan. Karena ketika remaja hamil, maka segala macama cara dilakukan untuk aborsi,” paparnya.

Benny Beny juga mengingatkan kepada para remaja NTT agar menjalankan pola hidup yang terhindar dari Seks Pranikah, Pernikahan Dini, Hamilan Remaja, HIV/AIDS dan Napsa.

Dia juga memaparkan hasil survey terhadap faktor internal yang mempengaruhi wanita melahirkan di usia muda di NTT diantaranya lantaran kebutuhan seksual 28,3 persen, Kebutuhan Material 27,7 persen dan karena kebutuhan Psikologis sebanyak 26,7 persen. (laurens)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *