Car Free Day di Kota Kupang Timbulkan Masalah Baru

  • Whatsapp
Masyarakat tetap pergi ke pasar di hari Sabtu/Foto: Gamaliel
Masyarakat tetap pergi ke pasar di hari Sabtu/Foto: Gamaliel

Kupang—Lintasntt.com: Hari Tanpa Kendaraan Bermotor (HTKB/Car Free Day) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur ternyata menimbulkan masalah serius.

Ide ini digalakkan sejak Desember 2014 mengikuti HTKP yang digelar di beberapa kota besar. Di Jakarta misalnay, pelaksanaan HTKP dilakukan pada hari libur yakni pada Minggu keempat setiap bulan.

Sebaliknya HTKP di Kota Kupang digelar pada hari kerja dan sekolah yakni setiap Sabtu pagi. Kondisi ini yang menimbulkan masalah.

“Hari sabtu itu hanya pegawai negeri yang libur karena pedagang tetap berjualan di pasar, anak-anak sekolah tetap pergi ke sekolah dan pekerja swasta masuk kantor seperti biasa,” ujar Liza, warga Liliba kepada Lintasntt.com di lokasi HTKP, Sabtu (7/3).

Baca Juga :  Pesawat Lion Air Tergelincir di Pontianak, Penumpang dan Kru Selamat

Anak-anak sekolah yang setiap Sabtu biasa melintasi lokasi HTKB di Jalan El Tari harus berganti angkutan kota dua sampai tiga kali sebelum tiba di sekolah. Begitu pula ibu-ibu yang berbelanja di pasar Kasih, Kelurahan Naikoten 1, berjalan kaki sambil membawa barang belanjaan ke Jalan Soeharto untuk menumpang angkutan. “Warga dari Naikoten ke kawasan wali kota, naik kendaraan tiga kali dari seharusnya satu kali,” ujarnya.

Menurut Liza, pelaksanaan HTKP pada hari kerja merupakan ide buruk. “Car Free Day seharusnya digelar pada hari libur yaitu hari minggu,” ujarnya. Jika pemerintah Kota Kupang tetap menggelar kegiatan itu pada hari kerja, lokasi sebaiknya dipindahkan dari jalur utama seperti di Jalan Palapa dan Jalan Herewila sehingga tidak menganggu aktivitas pekerja.

Baca Juga :  6.000 Warga Palue Terancam Kelaparan

“Kalau mau olahraga, silahkan manfaatkan fasilitas yang ada, gedung olahraga atau stadion Oepoi,” ujarnya.

Sementara itu Martin, warga asal Kelurahan Oebobo mengatakan HTKP hanya menguntung pegawai negeri sipil, tidak membawa solusi terhadap persoalan masyarakat. “Malah kegiatan ini semakin membuat masyarakat sengsara karena mengeluarkan ongkos ojek dan angkot lebih besar,” kata Dia.

Ia mengatakan persoalan yang dihadapi masyarakat Kota Kupang antara lain tersedianya lampu penerangan jalan, harga beras murah, air bersih, jalan raya bebas genangan air, bergelombang, berlubang, dan tersedia drainase. (gama)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *