BI NTT Luncurkan Portal KUR Ultra Mikro dan Program BI Yes

  • Whatsapp

Kupang – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT) kini memiliki portal khusus bernama kurntt.com, untuk memudahkan masyarakat mengakses pembiayaan seperti kredit usaha rakyat ultra mikro (KUR UMI).

Portal diluncurkan di Kantor Bank Indonesia NTT Jalan El Tari Kota Kupang oleh Wakil Gubenur NTT Josef Nae Soi bersama Kepala BI Perwakilan NTT I Nyoman Ariawan Atmaja dan Kepala OJK Kupang Robert Sianipar, Kamis (28/4/2022).

Pada saat yang sama, juga diluncurkan Program Bank Indonesia yang Entrepreneur School (BI Yes) Batch 3 dengan target 150 pelaku UMKM. Mereka diajar oleh mentor untuk memperkuat bisnis mindset dan digital mindset. Program ini bekerjasama dengan tim percepatan akses keuangan daerah (TPAKD) yang sudah terbentuk di seluruh kabupaten dan kota dan Otoritas Jasa Keuanga (OJK) NTT.

Peluncuran ditandai dengan scan Qris oleh Josef Nae Soi yang kemudian dilanjutkan dengan talkshow bertajuk ‘Gubernur Bicara: Jika Saya Jadi UMKM’.

Selain wakil gubernur dan kepala Bank Indonesia perwakilan NTT, narasumber talkshow ini adalah Gubernur Viktor Laiskodat, Direktur Utama Bank NTT, Harry Alexander Riwu Kaho, dan Ketua Kadin NTT Bobby Lianto.

Baca Juga :  Telkomsel Kolaborasi dengan Halodoc untuk Akselerasi Pemerataan Layanan Kesehatan

Ariawan mengatakan, BI Yes Batch 1 dan Batch 2 digelar berturut-turut sejak 2020 dan 2021 dan telah meluluskan 107 pelaku UMKM. “Kita ajarkan mereka mulai berkomitmen menjadi seorang entrepreneur, bagaimana memproduksi dan mengundang perbankan untuk memudahkan akses terhadap pembiayaan,” katanya

Program BI Yes ini mendapat sambutan yang luar biasa, namun tambah Ariawan, kuota yang disiapkan masih terbatas dan peserta harus melewati tahapan seleksi. “Banyak yang daftar tetapi kelas terbatas,” katanya.

Kepala OJK NTT Robert Sianipar menjelaskan pada akhir 2021 kredit yang disalurkan dari sektor jasa keuangan sebesar Rp3 triliun berasal dari delapan bank penyalur dan satu koperasi, namun porsi untuk UMKM hanya sebesar 38%, sedangkan 62% merupakan kredit konsumsi.

Untuk mengembangkan UMKM, selain pembiayaan, juga perlu pendampingan dan pemasaran produk. “Kita bicara bagaimana go internasional dan market, tetapi kita belum perhatikan rumah sendiri,” jelasnya.

Baca Juga :  PT PKGD Segera Bangun Tambak Garam di Lahan Seluas 110 Hektare

Menurutnya, forum TPKAD sudah membahas mengenai pembiayaan yang diberikan kepada UMKM unbankable atau yang belum tersentuh oleh perbankan. Untuk menyentuh kelompok tersebut, Pemprov NTT bersama Bank NTT telah mengagas kredit merdeka untuk membantu UMKM yang belum disentuh oleh KUR atau kredit komersial dan kredit ultramikro.

Namun, penyaluran KUR belum cepat karena persoalan akses dan minimnya data nasabah, serta sulitnya perbankan memperoleh data calon debitur UMKM. Persoalan ini diatasi lewat sistem informasi kredit program (SIKP).”Datanya (calon debitur) diimput oleh organisasi perangkat daerah kemudian diproses dan dapat KUR, ini yang kemudian kita akselerasi dengan membuat portal,” ujarnya.

Dia menyebutkan portal KUR tersebut sudah berhasil di sejumlah provinsi di Kalimantan dan Bali, Yogyakarta. Namun, untuk portal di NTT ditambahkan ultramikro. “Nanti calon debitur bisa mengakses langsung berbasis web dengan gadgetnya. Mereka menyampaikan informasi usaha dan lainnya dan lebih cepat,” ujarnya. (mi/gma)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *