Bendera Kiriman Soekarno dan Sengketa Batas Negara

  • Whatsapp
Bendera Merah Putih/Makasarterkini

Kupang–Sehelai bendera Merah Putih masih tersimpan di Kerajaan Amfoang, di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bendera itu merupakan kiriman Presiden pertama RI Soekarno secara diam-diam untuk menghindari kejaran penjajah.

Read More

Raja Amfoang Robby Manoh, di Kupang, kemarin, menjelaskan bendera pemberian Soekarno itu diserahkan sekelompok orang yang datang dengan kapal berwarna putih saat bersandar di Pelabuhan Tenau, Kupang.

“Bendera itu diterima bapak saya, Welem Manoh. Bendera itu tanpa jahitan dan diterima secara sembunyi-sembunyi karena saat itu masih ada penjajah Belanda,” kata Robby di Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang. Setelah bendera itu diterima, lanjut Robby, ayahnya kembali pulang dari Pelabuhan Tenau ke kawasan yang kini menjadi Kecamatan Amfoang Timur, dengan waktu tempuh sekitar 1 bulan.

Baca Juga :  Inflasi di Kupang Dipicu Beras dan Tiket Pesawat

“Bendera Merah Putih itu masih tersimpan dengan baik di Sonaf (Istana) Kerajaan Amfoang. Ayah saya juga dikasih hadiah keris pusaka yang dimasukkan ke sebuah kotak. Kedua benda itu masih ada sampai sekarang,” ujarnya kepada Media Indonesia.

Robby mengatakan, bersama Raja Liurai Wehali Malaka, Dominikus Kloit Tey Seran, ia berencana mengembalikan bendera itu ke Presiden Joko Widodo. Robby mengatakan sikap itu terkait dengan sengketa wilayah Naktuka dengan Republik Demokratik Timor Leste, yang pada 1975-1999 menjadi bagian dari NTT.

Naktuka merupakan wilayah Kecamatan Amfoang Timur yang ditempati 65 keluarga asal Timor Leste. Menurut Robby, proses penyelesaian Naktuka sudah dilakukan sejak 2002, tapi belum juga beres. Adapun Timor Leste, lanjut Robby, bukan hanya mengklaim Sungai Noelbesi, melainkan juga sungai lain yang masuk wilayah Indonesia.

Baca Juga :  Ribuan Bendera Merah Putih Berkibar di Pulau Landu

“Saya pernah selesaikan masalah secara adat dengan warga Timor Leste dan mereka mengakui itu. Hasilnya, warga Timor Leste mengakui wilayah yang diperebutkan merupakan wilayah Indonesia. Mereka kemudian didenda secara adat berupa sapi tujuh ekor dan sopi,” lanjut dia.

Jurnalis senior Peter Apollonius Rohi mengatakan, setelah Proklamasi 1945, Soekarno mengutus dua kapal untuk membagikan bendera ke daerah. Satu kapal menempuh jalur utara, sedangkan lainnya jalur selatan. “Yang lewat jalur utara selamat, sedangkan yang selatan tertangkap oleh Belanda,” katanya. (copyright: media indonesia/palce amalo)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *