Belanja Sayur Organik di Noebaun, Bisa Bayar Pakai Qris Bank NTT

  • Whatsapp
Inilah terowongan labu dan patola, yang dibangun di salah satu sisi kebun organik, yang diketuai Yosef Juan Heli. Foto: Humas Bank NTT

Kefamenanu – Desa Noebaun di Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT, kini memiliki kios penjualan bahan pangan organik, produksi petani setempat.

Kios ini ramai dikunjungi warga, termasuk pelaku perjalanan. Mereka mampir di sana sana untuk membeli sayuran maupun buah-buahan. Bahan pangan yang dijual di kios ini antara lain meliputi sawi, labu jepang, labu lilin, jagung, semangka, pisang mentah dan pisang yang sudah masak.

Read More

Mereka juga menyediakan aneka makanan ringan seperti ubi kayu atau singkong yang diolah dengan gula merah, keripik pisang, keripik ubi, madu batu, dan pisang goreng.

Yang menarik dari kios organik ini adalah melayani pembayarannya menggunakan digitalisasi dan semua difasilitasi oleh Bank NTT. Mereka adalah salah satu merchant Qris, sehingga bagi pengunjung yang tidak membawa uang tunai, tinggal melakukan scan pada kode bar yang tersedia.

Kios organik ini dirintis oleh Josef Juan Heli, sekaligus ketua kelompok Pelita Hati desa setempat.

Kepada Juri Festival Juri Festival Desa Binaan Bank NTT dan Festival PAD Tahun 2022, Stenly Boymau, Sabtu (19/11/2022), Josef berkisah mengenai awal mula membangun kebun sayur organik hingga membangun kios yang menampung hasil produksi sayuran dari kebun.

“Saya direkrut sebuah LSM internasional di SoE untuk melakukan pendampingan generasi muda, program pertanian holtikultura,” ujarnya.

Setelah kembali ke Noebaun, ia mulai membuka kebun pada sebuah areal yang cukup luas untuk ditanami berbagai macam sayuran dan buah-buahan mengunakan menggunakan sistem irigasi tetes.

“Awalnya saya dengan mama yang memulai usaha ini. Namun semakin berkembang. Kami juga sudah datang ke beberapa lokasi dan beri motivasi seperti kemarin baru dengan Sinode GMIT, di sana kami bicara di seratus pendeta mengenai metode penanaman yang tepat,” jelas Juan sembari menambahkan, kini sudah banyak warga yang mau bergabung setelah melihat pola kerja yang benar dan didukung sistem pemasaran yang baik.

Diajak ke Kebun

Tak cukup disitu, juri diajak masuk ke kebun. Dan ternyata luar biasa. Di kebun yang luas itu, seluruhnya dibentuk bedeng-bedeng berdiameter 1 x 4-5 meter. Ada juga bedeng yang sudah kosong karena baru saja dipanen, sedangkan bedeng lainnya yang terdapat sayuran dan cabai, belum panen.

Belum lagi tanaman labu yang dibentuk melata pada sebuah terowongan bambu, dengan buah labu dan patola berukuran besar yang berjuntai di tengah. Tentu ini menambah sensasi pengunjung yang menyusuri lorong, yang diibaratkan sebagai etalase untuk memamerkan beraneka bentuk buah labu dan patola itu.

Menurutnya, sebagai petani dia harus bisa membaca peluang di pasar, sehingga ketika petani lain ramai-ramai menanam satu jenis sayur, dia tidak akan menaman jenis yang sama. Dia baru akan menanamnya ketika merek hampir panen, sehingga ketika stok di pasar habis, dia akan melempar sayur olahannya di pasar. Begitu pula dengan cabai

“Itu yang saya bilang bahwa petani harus bisa membaca peluang pasar. Dari sinilah dia akan untung,” ujarnya, dan Dia sudah memulai dan berhasil. (*/humas bank ntt)

Komentar ANDA?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.