Bank NTT Dorong UMKM Gunakan Pembungkus Produk Ramah Lingkungan

  • Whatsapp
Foto: Humas Kanwil Hukum dan HAM NTT

Kupang – Direktur Bank NTT Harry Alexander Riwu Kaho mendorong pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengunakan pembungkus produk yang ramah lingkungan.

Packaging produk yang ramah lingkungan bertujuan mengurangi limbah karena mudah didaur ulang dan terurai secara hayati sehigga tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.

Read More


Dalam Talkshow bertajuk ‘Strategi menggali potensi kekayaan intelektual di Provinsi NTT’ di Kantor Wilayah KemenkumHAM NTT, 27 April 2022, Harry menyebutkan sejumlah UMKM di Labuan Bajo sudah meninggalkan bahan packaging plastik. “Di Labuan Bajo untuk beberapa produk yang menggunakan bahan plastik, kita ganti dengan kertas,” katanya.

Bank NTT juga mendorong penggunaan bambu sebagai bahan packaging untuk Kopi. Bahan packaging ramah lingkungan bakal menjadi souvenir yang menarik untuk dipajang di hotel dan restoran.

Talkshow ini juga menghadirkan Kakanwil KemenkumHAM NTT Merciana Djone, Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi dan Kepala SMKN 4 Kupang Semi Ndolu.

Menurut Riwu Kaho, kekayaan intelektual sejatinya dapat menjadi harga dan branding bagi UMKM untuk mampu menguasai pasar. Oleh karena itu, kekayaan intelektual harus dikelola dan dikampanyekan secara cerdas agar semakin membangkitkan gairah perekonomian NTT. Apalagi di di ditengah pandemi Covid-19, UMKM terbukti mampu menopang dan membuat ekonomi NTT bertumbuh secara positif.

Baca Juga :  LPM Liliba Sudah Gulirkan Rp2.3 Miliar untuk UMKM

“Ini terus kita galang sehingga mulai nampak branding-branding lokal yang sudah go international melalui market place ataupun event-event yang kita dorong untuk menampilkan kekayaan intelektual dalam bentuk yang beragam, baik itu merek, paten, maupun indikasi geografis dan lainnya,” paparnya.

Beberapa peraturan seperti pergub, permendagri, dan kepres, pemerintah telah mewajibkan setiap warga negara untuk menggunakan produk lokal atau buatan UMKM.

“Namun seringkali, konsistensi terhadap berpikir cerdas, bertindak cerdas dan campaign cerdas tidak harmonis atau tidak sejalan. Komitmen itu menjadi tantangan kita,” tegas Dirut Alex.

Ia berharap ke depan, seluruh komponen di NTT bisa bersatu untuk berkolaborasi dengan cerdas, agar pemberian HaKI memiliki manfaat bagi pelaku UMKM. “Butuh energi dan kolaborasi super cerdas, agar HaKI yang diberikan benar-benar bermanfaat bagi pelaku UMKM,” tandasnya.

Wagub, Josef Nae Soi mengatakan, Provinsi NTT memiliki potensi kekayaan intelektual yang luar biasa. Namun, masyarakat belum sepenuhnya memahami tentang pentingnya melakukan pelindungan terhadap kekayaan intelektual. Padahal, kekayaan intelektual baik yang diciptakan oleh perorangan maupun komunal bisa dikatakan sebagai harta berharga karena dunia saat ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan kekayaan alam.

Baca Juga :  Kejati NTT Tangkap Muhammad Ruslan di Bandung

“Kita harus sadar bahwa stakeholder yang ada di NTT ini wajib hukumnya untuk menjelaskan, mensosialisasikan apa itu kekayaan intelektual,” ujarnya.

Menurut Josef, kekayaan intelektual yang ada di NTT harus didata dan dilindungi agar tidak diklaim oleh pihak lain. Terutama kekayaan intelektual komunal yang meliputi indikasi geografis, pengetahuan tradisional, sumber daya genetik, serta ekspresi budaya tradisional (EBT) seperti tari-tarian, adat istiadat, ritual, pakaian adat dan musik.

Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi daerah ini memiliki potensi kekayaan intelektual yang luar biasa. Namun, masyarakat belum sepenuhnya memahami pentingnya melakukan pelindungan terhadap kekayaan intelektual.

Padahal, kekayaan intelektual baik yang diciptakan oleh perorangan maupun komunal bisa dikatakan sebagai harta berharga karena dunia saat ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan kekayaan alam.

“Kita harus sadar bahwa stakeholder yang ada di NTT ini wajib hukumnya untuk menjelaskan, mensosialisasikan apa itu kekayaan intelektual,” ujarnya.

Menurut Josef, kekayaan intelektual yang ada di NTT harus didata dan dilindungi agar tidak diklaim oleh pihak lain. Terutama kekayaan intelektual komunal yang meliputi indikasi geografis, pengetahuan tradisional, sumber daya genetik, serta ekspresi budaya tradisional (EBT) seperti tari-tarian, adat istiadat, ritual, pakaian adat dan musik. (*/gma)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *