Home / Bisnis / WTM-CEPT Beri Stimulan Pengembangan Ayam di Kaki Gunung Egon

WTM-CEPT Beri Stimulan Pengembangan Ayam di Kaki Gunung Egon

Penyerahan Ayam kepada Kelompok Tani di Desa Hebing, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka/Foto: Hery Naif
Penyerahan Ayam kepada Kelompok Tani di Desa Hebing, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka/Foto: Hery Naif

Bagikan Halaman ini

Share Button

Maumere–Wahana Tani Mandiri ( WTM) bersama Crytical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) mendukung budidaya ternak pada petani dampingan di Desa Hebing, Kecamatan Mapitara, Kabupaten Sikka, wilayah di kaki gunung Egon.

Kegiatan yang dilakukan lewat program ‘Program Improving Ecosystem Manajemen and Livehoods Around Mount Egon, Indonesia’ ini merupakan stimulan untuk medukung upaya budidaya ternak pada petani dampingan di wilayah itu.

Petani di sana dibekali keahlian tentang beternak yang baik. Mereka juga diberi ayam masing-masing tiga ekor teridri dari dua ayam betina dan satu ekor ayam jantan.

“Sebagai kelanjutan kegiatan pengadaan ayam ini, seorang suplier bernama Fransiskus Lokonbai bersama tim WTM bertemu dengan dua kelommpok tani dampingan di desa Hebing, Kecamatan Mapitara, yakni Kelompok Tani Rulaling dan Kelompok Tani Hewer Limang,” kata Koordinator Program WTM-CEPF Herry Naif  lewat rilis yang diterima lintasntt.com, Senin (26/6/2017). Kegiatan ini digelar di Desa Hebing pada Sabtu (24/7/2017).

Dua kelompok ini menerima distribusi 202 ekor ayam yang dihadiri sebagaian anggota kelompok. Kegiatan itu difasilitasi Marianus Mayolis (Fasilitator Lapangan WTM) dihadiri Ketua Kelompok Rulaling Sensimus Bajo dan Herry Naif.

Baca Juga :  Gereja Haumeni Nisum Nekamese Berdayakan Ekonomi Jemaat

Pada acara pembukaan, Sensimus Bajo (Ketua Kelompok Rulaling) mengucapkan terima kasih kepada WTM-CEPF yang selalu setia mendampingi kelompok-kelompok tani di wilayah Mapitara termasuk kami di Kelompok Tani Rulaling. Saya berharap bahwa ayam yang diadakan oleh WTM serta ilmu budidaya ternak ayam yang sudah difasilitasi itu menjadi model untuk dikebangkan oleh anggota kelompok tani.

Sedangkan Suplier Ayam, Fransiskus Lokonbai juga diberi kesempatan menyeringkan pengalamannya dalam budidaya ternak ayam.

“Saya adalah salah satu peternak ayam di Sikka yang setiap hari mendistribusi 700 telur ayam kepada dua hotel di Maumere yakni Hotel Pelita dan Silvia. Itu artinya bahwa kalau petani serius dalam budidaya ternak ayam bisa menjadi pendapatan yang mampu memperbaiki pendapatan ekonomi kita,” kata Fransiskus.

Baca Juga :  Sriwijaya Air akan Buka Rute Kupang-Dili

Lebih lanjut Dia mengatakan prinsip dasar dalam beternak ayam adalah perencanaan yang matang dan konsistenis dalam melakukan budidaya seturut apa yang kita tahu. Untuk mengatasi penyakit ayam bisa dilakukan dengan vaksin ayam atau membuat ramuan-ramuan seperti memberi makan daun pepaya dam kunyit. Bila ayam ati karena penyakit sebaiknya dimasukan dalam kandang dan kemudian diberi pencahayaan lampu.

Herry Naif mengatakan kegiatan distibusi ayam mengalami beberapa kendala ayam yang didistribusikan berasal dari luar daerah sehingga tidak bertahan hidup hingga Mapitara.

Karena itu ditempuh kebijakan WTM dengan pola pembelian ayam di wilayah mapitara yakni yang berasal dari luar anggota kelompok. “Prinsipnya ayam yang mau diadakan itu untuk menambah jumlah ayam pada setiap anggota petani.,” kata Dia.

Karena itu, tidak heran bila pendistrbusian itu mengalami penundaan karena menunggu pengumpulan ayam. Setelah itu Suplaier akan mengatur proses pengadaannya ke kelompok tani. (Hery Naif)

 

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda