Home / Travel / Wisata Penyangga Labuan Bajo Ditata Menjadi Sumber Ekonomi Baru

Wisata Penyangga Labuan Bajo Ditata Menjadi Sumber Ekonomi Baru

Wae Rebo. Hak Cipta: http://kelasbacatulis.blogspot.com
Wae Rebo. Hak Cipta: http://kelasbacatulis.blogspot.com

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menata obyek wisata penyangga Destinasi Super Premium Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. “Salah satu destinasi wisata yang dilakukan penataan tahun ini ialah Wae Rebo,” kata Kepala Dinas Pariwisata NTT Wayan Darmawa, Jumat (14/2/2020).

Wae Rebo adalah kampung adat yang terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, di Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai. Kampung ini hanya terdapat tujuh rumah utama atau yang disebut sebagai Mbaru Niang, dengan panorama bukit-bukit hijau yang memesona. Rumah adat tersebut sudah bertahan selama tujuh generasi.

Menurutnya, destinasi tersebut ditata agar wisatawan memiliki pilihan atraksi lain selain Labuan Bajo, mengunakan anggaran yang bersumber dari APBD NTT 2020, antara lain untuk mendanai pembangunan rest area, suvenir, dan ruas jalan.

Dia menegaskan penataan Wae Rebo tidak akan merubah keunikan lokasi tersebut, tetapi memberikan kenyamanan kepada wisatawan yang berkunjung ke sana, yang diharapkan mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Hal itu dapat dilihat dari meningkatnya pendapatan masyarakat di sekitar lokasi wisata serta pendapatan asli daerah (PAD).

Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi telah menetapkan sektor periwisata sebagai lokomotif pembangunan daerah, karena dengan membangun budaya pariwisata yang baik, industri pariwisata yang diimpikan bakal terwujud. Selain itu, sektor pariwisata juga menjadi mesin penggerak bagi sektor lainnya.

Menurut Wayan, setelah penataan Wae Rebo rampung, pada tahun anggaran berikutnya, pemerintah akan menata destinasi wisata lainnya, dengan tujuan yang sama yakni menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Selain itu, pada 2020 ini, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur juga membenahi infrastruktur pendukung di destinasi wisata untuk menarik lebih banyak wisatawan. Di antaranya membangun jalan, air bersih, dan jaringn listrik.

Pembenahan destinasi wisata tersebut disatukan dengan pengembangan ekonomi kreatif dengan anggaran per destinasi Rp1,6 miliar. Sebanyak Rp1,5 miliar untuk pembenahan destinasi dan Rp1 miliar untuk pengembangan ekonomi kreatif masyarakat di lokasi wisata.

Untuk pembangunan infrastruktur penunjang di destinasi wisata seperti penginapan atau homestay, dikerjakan oleh kelompok masyarakat di desa, dan melatih warga agar siap menyambut

Pada 2019 Pemerintah Provinsi NTT telah mengembangkan tujuh destinasi wisata, dan bertambah lagi tujuh destinasi di kabupaten berbeda pada 2020.

Baca Juga :  Pariwisata NTT Perlu Dukungan Sumber Daya Manusia

Tujuh destinasi wisata baru itu merupakan destinasi unggulan di setiap kabupaten, masing-masing terletak di Sumba Tengah, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sikka, Flores Timur, Sabu Raijua, dan Belu, seperti obyek wisata Kelabba Madja di Sabu Raijua, Pantai Liman di Pulau Semau, Kabupaten Kupang, serta wisata Perairan Mulut Seribu di Rote Ndao.

Untuk destinasi yang sudah dikembangkan pada 2019, masih terus dikembangkan seperti menggelar festival budaya. Di Kabupaten Alor misalnya, pemerintah daerah setempat tengah mengembangkan wisata menonton dugong yang dipadukan dengan festival menonton dugong di laut. Seluruh destinasi wisata unggulan di 22 kabupaten dan kota akan dikembangkan selama beberapa tahun ke depan.

Tenaga Kerja Lokal Harus Ambil Peran dalam Event Internasional

Sebelumnya, saat memimpin Rapat Rencana Kerja Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tana Naga Mori di ruang rapat Bupati Manggarai Barat, Kamis (13/02/2020), Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi mengatakan  tenaga kerja lokal harus mengambil peran penting dalam Event Internasional di Labuan Bajo

NTT," kata Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi Dalam Rapat Rencana Kerja Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tana Naga Mori /Foto: Dok Humas dan Protokol Setda NTT

Rapat Rencana Kerja Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Tana Naga Mori /Foto: Dok Humas dan Protokol Setda NTT

“Bayangkan, Amerika Serikat mau bangun sendiri hotel, dia tidak mau tinggal di hotel yang sudah dibangun sebelumnya. Tapi ini manfaat untuk kita, saya bilang you bangun, tapi tenaga kerjanya harus dari anak-anak NTT,” ujarnya.

Menurut Wagub Josef, dalam kaitannya dengan KEK serta Persiapan G-20 dan ASEAN Summit Tahun 2023 yang akan berlangsung di Labuan Bajo, tenaga kerja asal NTT harus dapat diberdayakan secara maksimal, oleh karena itu diperlukannya peran penting baik dari pihak pemerintah maupun pihak swasta untuk melatih terus menerus secara intens dan berkelanjutan sehingga merekapun mempunyai kualitas yang mumpuni dan siap pakai khususnya dalam mendukung sektor pariwisata dimana hal tersebut akan berdampak positif bagi penyerapan tenaga kerja lokal sehingga dapat memangkas angka pengangguran.

Dalam arahannya juga, Wagub Nae Soi yang secara lisan ditugaskan oleh Presiden untuk memantau Pembangunan pengembangan Pariwisata prioritas di Labuan Bajo mengajak dan menekankan bahwa semua pihak terkait harus fokus bekerja sama untuk membangun Labuan Bajo secara optimal sebagai tempat yang disetujui atau direkomendasikan langsung oleh Presiden Jokowi menjadi tuan rumah perhelatan sejumlah agenda Internasional.

Baca Juga :  Dinas Pariwisata Gelar Pelatihan Pemandu Wisata

“Di Tahun 2023 kita akan jadi tuan rumah G-20 dan ASEAN Summit. Tidak main-main, seluruh pemimpin negara di dunia datang ke Labuan Bajo, tidak datang ke Jakarta,” jelas Josef.

Lebih lanjut Wagub Nae Soi pun ingin agar para pemangku kepentingan pro aktif dalam mengoptimalkan sumberdaya yang ada untuk memperbaiki infrastruktur baik dalam perluasan Bandara Komodo, Pengembangan Pelabuhan laut, Pengembangan jalan dalam kota, serta jalan menuju ke Tana Naga Mori.

Selain itu juga Wagub Josef ingin adanya model-model terobosan pengembangan wisata alam dan wisata budaya agar lebih memiliki daya tarik dan nilai jual terhadap para wisatawan asing. Wagub Josef pun tidak lupa berpesan mengingatkan agar kebersihan lingkungan tetap diutamakan demi menjaga kenyamanan masyarakat lokal dan mancanegara.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan PT. Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Edwin Darmasetiawan memaparkan bahwa dalam rangka Persiapan menuju G-20 dan selanjutnya ASEAN Summit 2023 serta Labuan Bajo yang berstatus sebagai destinasi super prioritas di Indonesia maka pada lokasi Tana Mori nanti akan dibangun hotel bintang lima sebanyak dua buah, dua kawasan Villa dengan masing-masing kawasan memiliki 15 unit villa, satu hotel bintang empat, dan satu convention hall dengan kapasitas 2000 pak, serta marina.

Sementara itu Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Jelamu Ardu Marius juga mengungkapkan pentingnya pengoptimalisasian jaringan komunikasi didalam even sebesar G-20 dan ASEAN Summit.

“Pemerintah dan Investor harus ada desain untuk penanaman fiber optik, tidak saja di Tana Naga Mori tapi juga dikeseluruhan Labuan Bajo, sehingga ketika pertemuan Internasional itu dilakukan tidak boleh jaringan komunikasi terganggu sedikitpun”, tandas Marius.

Turut hadir dalam rapat tersebut mewakili Bupati Manggarai Barat, Penjabat Sekda Manggarai Barat Ismail Surdi, para Pimpinan Perangkat Daerah lingkup Pemerintah Provinsi NTT dan lingkup Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Direktur Pengembangan PT. Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) Edwin Darmasetiawan, Direktur Utama PT. Flores Prosperindo Alfonso Pardede, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, serta unsur-unsur terkait lainnya. (gma/humas dan protokol Setda NTT)

* Advertorial Kerjasama Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT dengan lintasntt.com

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda