Home / Hiburan / Warga Timor Tengah Selatan Kuburkan Buaya Layaknya Manusia

Warga Timor Tengah Selatan Kuburkan Buaya Layaknya Manusia

Buaya di Taman Wisata Bu'at, Timor Tengah Selatan/Foto: Jogjaicon.blogspot.co.id
Buaya di Taman Wisata Bu'at, Timor Tengah Selatan/Foto: Jogjaicon.blogspot.co.id

Bagikan Halaman ini

Share Button

Soe–Ratusan warga menghadiri prosesi pemakaman seekor buaya di Taman Wisata Bu’at, Kelurahan Karang Siri, Kecamatan Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, Kamis (29/6/2017).

Pemakaman berlangsung sekitar pukul 16.00 Wita dihadiri staf Dinas Kehutanan, tokoh adat, tokoh pemuda, dan anggota DPRD, termasuk puluhan warga dari Kota Kupang.

Mereka menempuh jarak sekitar 110 kilometer dari Kota Kupang menggunakan dua bus dan dua pikap untuk menghadiri peristiwa langka tersebut.

Warga Kelurahan Karang Siri, Alexander Un mengatakan warga setempat meyakini buaya itu adalah raja air. Karena itu bangkai buaya diperlakukan istimewa antara lain diselimuti kain adat dan dijaga setiap malam sejak mati pada Selasa (27/6/2017).

Baca Juga :  Goyang Erotis Warnai Kampanye PKB di Kupang

“Kemarin dia (buaya) mau kejar seekor anjing untuk dimakan. Namun, pada saat hendak terkam, anjing itu menghindar sehingga buaya itu jatuh ke sumur dan langsung mati,” kata Alexander Un.

Sumur tersebut milik seorang warga bernama Anone, berjarak sekitar tiga meter dari kolam tempat buaya hidup sejak 1992. Kolam terletak sekitar 900 meter di atas permukaan laut.

Anggota DPRD NTT Amy Konay asal Timor Tengah Selatan mengatakan buaya itu diserahkan oleh mantan bupati Timor Tengah Selatan Piet A Tallo. Ketika itu usia buaya sekitar enam bulan dan panjang antara 30-40 sentimeter.

“Jadi pada saat dia mati selayaknya diperlakukan secara adat pula,” kata Army.

Baca Juga :  400 Burung Diikutkan di Lomba Burung Berkicau Lantamal VII Kupang

Army yang memfasilitasi proses penguburan buaya itu mengaku kematian buaya itu pun mengundang banyak orang yang datang secara spontanitas untuk melihat langsung jasad buaya itu. “Buaya ini persis seperti pembesar yang meninggal. Banyak orang dari berbagai tempat datang ke sini,” tuturnya.

Army juga menyesalkan sikap pemerintah daerah setempat yang kurang tanggap dan tidak pernah merasa memiliki buaya itu. Ia pun berharap, agar pemerintah setempat bisa peduli terhadap keberadaan hewan yang dilindungi apalagi punya filosofi dan sejarah tersendiri. (gma/kompas.com/giran)

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda