Home / Flores / Warga Elar, Manggarai Timur Gotong Royong Bangun PLTMH

Warga Elar, Manggarai Timur Gotong Royong Bangun PLTMH

Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng (kiri) bersama Bupati Manggarai Timur Yoseph Tote (kanan() Meresmikan PLTMH  Wae Laban,  Elar. Foto: Gamaliel
Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng (kiri) bersama Bupati Manggarai Timur Yoseph Tote (kanan() Meresmikan PLTMH Wae Laban, Elar. Foto: Gamaliel

Bagikan Halaman ini

Share Button

Ruteng–Warga Desa Wae Laban, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur gotong royong membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) berkekuatan 80 Kilowatt (Kw) sejak 2016.

PLTMH tersebut diresmikan Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng di lapangan Paroki Elar, Rabu (26/4/2017) siang. Peresmian dihadiri ribuan warga.

Hadir pula antara lain Bupati Manggarai Timur Yosep Tote, Kasubdit Ekologi Alami, Direktorat Adaptasi Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Nuraeni, S.Hut, Perwakilan United Nations Development Programme (UNDP) Christian Usfinit, Crescentia Anne dari Bappeda NTT, dan National Project Manager SPARC/UNDP Fransiska Sugi.

Pemerintah daerah dan Gereja Katolik berkolaborasi dalam proyek SPARC yang salah satu aktivitasnya membangun jaringan listrik dari sumber energi terbarukan seperti PLTMH.

Baca Juga :  Ribuan Warga Diaspora Flotim Hadiri Temu Akbar Jabodetabek

Awalnya warga melakukan swadaya tiang jaringan dan mengumpulkan uang Rp2,750 miliar untuk membeli jaringan utama, instalsi rumah dan iuran per bulan. Mereka juga bergotong royong membangun bendungan, saluran, rumah turbin dan memasang tiang.

Warga juga bekerjasama tim teknis PLTMH yang bertugas sebagai penyedia pembangkit seperti pipa, turbin, dinamo, sazis dan panel.

“Pelajaran yang dipetik dari pembangunan PLTMH ialah membangkitkan kembali budaya gotong royong yang saat ini dinilai semakin menghilang dalam kehidupan masyarakat Manggarai,” kata Koordinator Umum Pelayanan Program SPARC dan PLTMH Elar Pater Lorens Kuil.

Dia menyebutkan pembangunan PLTMH bertolak arah dasar pelayanan gereja, kebutuhan warga setempat terhadap penerangan listrik, dan keterbatasan jaringan listrik PLN.

Baca Juga :  Gempa 4,8 SR Guncang Ngada

“Biaya mahal, kesulitan akses informasi, perubahan iklim, berkurangnya energi yang bersumber dari fosil, dan budaya gotong-royong yang masih melekat di masyarakat, dan keterbatasan pelayanan PLN.

Menurutnya terbatasnya kemampuan warga mengumpulkan dana untuk pembangunan PLTMH juga menjadi kendala. Karena itu, mereka jgua bermitra bersama koperasi dan lembaga keuangan. Kerjasama tersebut sangat membantu dalam penyelesaian pembangunan pembangkit.

Saat ini PLTMH Elar berkekuatan 80 Kilowatt mampu 316 rumah penduduk, satu gereja, satu mushola, satu sekolah, kantor lurah, asrama, puskesmas dan kantor camat. (gma)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda