Home / Politik / Viktor Kembali ke Panggung Politik

Viktor Kembali ke Panggung Politik

Matheos Viktor Messakh (Atok)/ Dok. Pribadi
Matheos Viktor Messakh (Atok)/ Dok. Pribadi

Bagikan Halaman ini

Share Button

Kupang–Satu tahun setelah pemilihan Wali Kota Kupang berlalu, Matheos Viktor Messakh yang ketika itu maju dari jalur independen, kembali ke panggung politik.

Kali ini Atok, demikian nama panggilannya, mengincar kursi DPRD provinsi. Ia bertarung dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dengan No urut 3 dalam Daerah Pemilihan I yang meliputi seluruh Kota Kupang.

“Menjaga momentum itu penting dalam politik. Kalau saya menghilang setahun dua tahun, lalu kemudian muncul lagi, orang akan bertanya dari mana saja kamu?” kata Atok di Kupang, Kamis (11/10/2018).

Lewat seleksi yang ketat, Atok telah lolos seleksi Partai Solidaritas Indonesia. Namanya pun telah ditetapkan oleh DPW PSI NTT menjadi salah satu bakal calon DPRD I NTT untuk daerah pemilihan Kota Kupang. Namun Atok kurang berjodoh dengan PSI. Ia memilih berpindah ke Nasdem dan mendapat nomor urut 3 dalam Partai bernomor urut 5 itu.

“Saya pamit baik-baik ke teman-teman PSI, saya mohon maaf bahwa saya terpaksa mengambil keputusan untuk pindah,” kata Atok.

Mengapa Matheos Viktor memilih daerah pemilihan kota Kupang? Naluri politiknya mengatakan ia harus memilih kota ini. Kota yang jalan-jalan dan lorong-lorongnya telah ia jejali selama perhelatan pemilihan Walikota Kupang di akhir tahun 2015 dan paruhan pertama dan kedua tahun 2016.

“Saya memilih daerah pemilihan kota Kupang karena itu yang terukur bagi saya. Saya telah bekerja mengumpulkan dukungan di kota Kupang dan semoga apa yang sudah dibangun bisa ditindaklanjuti untuk memperoleh dukungan politik dari pemilih kota Kupang,” kata pria kelahiran 30 Juni 1973 ini.

Baca Juga :  Jutaan Pemilih di NTT Belum Rekam KTP Elektronik

Matheos Viktor dan sekitar 70-an relawannya telah menjalani hari-hari melelahkan berusaha mengumpulkan dukungan KTP dari warga Kota Kupang untuk dapat maju sebagai calon perseorangan walikota Kupang. Bekerja kurang dari lima bulan, mereka berhasil mengumpulkan lebih dari 26 ribu KTP. Setelah dishortir jumlah KTP yang benar-benar bisa dimasukkan ke KPU Kota Kupang adalah 22.708 KTP.

“Kami bekerja dengan cara trial and error. Kami mencoba sambil belajar. Jika ada yang salah kami belajar dari kesalahan itu. Itulah sebabnya banyak KTP yang difoto atau discan secara salah dan akhirnya tidak bisa dimasukkan ke KPU,” jelas Atok.

Sayangnya 22.708 KTP yang diserahkan ke KPU kota kemudian hampir setengah bagian dinyatakan gugur dalam verifikasi faktual. “Kami mengajukan keberatan dan bahkan kemudian berperkara dengan KPU di Panwaslu karena kami menemukan ratusan bukti testimony tertulis, video dan foto yang menyatakan bahwa para petugas KPU tidak melakukan verifikasi dengan cara yang benar dan bahkan ada yang tidak melakukan verifikasi.”

“Namun bukti-bukti kami ditolak Panwaslu. Dari ratusan bukti hanya satu yang mau dilihat oleh komisioner Panwaslu yaitu testimoni dari ketua Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon yang menyatakan bahwa ia tidak pernah didatangi untuk diverifikasi,” jelas Atok.

Baca Juga :  Ini Misi Esthon-Chris Menyejahterakan Rakyat NTT

Panwaslu Kota Kupang menolak permohonan Pasangan Viktori untuk meloloskan pasangan ini untuk mengikuti pemilihan wali kota. Terjadi pandangan yang berbeda dari ketiga komisioner Panwaslu, namun dua dari tiga komisioner menolak permohonan pasangan Viktori dan dengan demikian Viktori tak bisa mengikuti pemilihan wali kota.

Ketiga Komisoner ini kemudian dinonatifkan oleh Bawaslu karena keputusan menyangkut salah satu pasangan calon dianggap melanggar aturan.

Pasangan Viktori mengadukan hal ini ke Bawaslu RI dan setelah sejumlah persidangan ketiga Komisioner Panwaslu kota Kupang dinyatakan bersalah dan mendapat teguran.

Namun apa daya keikutsertaan pasangan Viktori bukanlah bahan pembahasan dalam persidangan-persidangan itu. Viktori tetap tak bisa mengikuti pemilihan walikota.

“Sekarang saya kembali lagi dengan kendaraan baru yaitu Partai Nasdem. Saya percaya apa yang saya bangun dalam beberapa tahun terkahir ini tidak akan berlalu dengan sia-sia. Bagi bapa, mama, adi kaka, sekalian, jangan lupa 26.000 KTP yang pernah kami kumpulkan. Mari kita selesaikan apa yang telah kita mulai.”

“Politisi yang baik itu tidak jatuh dari langit. Politisi yang baik itu diciptakan. Caranya adalah lihat calon-calon politisi yang rekam jejaknya baik dan dukung dan kontrol. Niscaya kita akan menghasilkan politisi-politisi yang berintegritas,” tegas Atok. (*/gma)

Tags : # #

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda