Home / Nasional / Upacara di Perbatasan Timor Leste, Komitmen Pemerintah Membangun dari Kampung

Upacara di Perbatasan Timor Leste, Komitmen Pemerintah Membangun dari Kampung

UPACARA DI PERBATASAN RI-TIMOR LESTE--Kristina Dahu, siswa Kelas 3 SMP Negeri Laktutus, Kecamatan Nanaek Duabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur membawa baki Bendera Merah Putih pada upacara peringatan HUT RI ke-71 di desa tersebut, Rabu (17/8/2016). Upacara di daerah perbatasan RI-Timor Leste tesebut dipimpin Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo. Copyright: MI/Palce Amalo
UPACARA DI PERBATASAN RI-TIMOR LESTE--Kristina Dahu, siswa Kelas 3 SMP Negeri Laktutus, Kecamatan Nanaek Duabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur membawa baki Bendera Merah Putih pada upacara peringatan HUT RI ke-71 di desa tersebut, Rabu (17/8/2016). Upacara di daerah perbatasan RI-Timor Leste tesebut dipimpin Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo. Copyright: MI/Palce Amalo

Bagikan Halaman ini

Share Button

Atambua–Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes-PDTT) Eko Putro Sundjojo memimpin upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-71 di Laktutus, Desa Fohoeka, Kecamatan Nanaek Duabesi, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Rabu (17/8).

Fohoeka adalah desa terpencil berjarak sekitar 50an kilometer arah selatan Atambua, ibu kota Kabupaten Belu, atau sekitar lima kilometer dari garis perbatasan Indonesia-Timor Leste.

Upacara dihadiri Ketua Komisi V DPRD Fary Francis, muspida Kabupaten Belu, perwakilan dari Pemprov NTT, aparat TNI dari Yonif 641, tokoh adat, dan murid sekolah.

Dalam sambutannya, Menteri Eko mengatakan pemerintah berkomitmen membangun Indonesia dari pinggiran sesuai nawa cita Presiden Joko Widodo. Karena itu, upacara peringatan HUT RI di perbatasan RI-Timor Leste tersebut menunjukkan kehadiran pemerintah membangun daerah tertinggal.

Ia mengatakan arti kemerdekaan itu ialah memberikan kesejateraan bagi masyarakat terutama yang bermukim di desa-desa terpencil dan di perbatasan negara. “Kehadiran kami di desa bertujuan masyarakat tahu bahwa pemerintah pusat hadir ditengah masyarakat perbatasan,” ujarnya.

Menurutnya Belu dipilih sebagai lokasi upacara HUT RI ke-71 oleh Kementerian Desa-PDTT karena ia ingin menyaksikan langsung kondisi masyarakat di wilayah perbatasan. Salah satu yang disaksikan ialah lokasi jalan yang menghubungkan wilayah tersebut dengan ibu kota Kabupaten Belu rusak parah.

Baca Juga :  Kombes Johanis Asadoma Menjabat Karo Misi Internasional Mabes Polri

Jalan rusak terlihat mulai kilometer 20 arah Atambua-Fohoeka. Hampir seluruh badan jalan berlubang. Padahal ruas jalan tersebut merupakan satu-satunya jalan menuju wilayah perbatasan Laktutus. Di wilayah ini terdapat dua pos pengamanan yang dijaga TNI yakni Pos Nanoet dan Pos Fohoeka.

Kepada wartawan, Menteri Eko mengatakan tidak hanya perbatasan RI-Timor Leste yang tertinggal. Masih banyak daerah di wilayah perbatasan yang masih sangat tertinggal dan membutuhkan dana desa untuk membangun wilayah pedesaan.

“Tentunya kita juga ingin agar ada pertumbuhan ekonomi di daerah ini mengingat Kabupaten Belu merupakan garda terdepan,” kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut.

Seusai upacara, Menteri Eko menuju lapangan kemudian bersalaman dengan warga. Ia sempat menggendong sejumlah balita sebelum mengambil bagian dalam atraksi tarik tambang bersama warga.

Baca Juga :  SMA 1 So'e Mewakili NTT di Lomba Kadarkum Nasional

Selanjutnya Eko menyerahkan bantuan televisi, jam dinding kepada para veteran perang dan Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI-Timor Leste.

Arti Kemerdekaan

Sejumlah warga menghadiri upacara HUT RI ke-71 di Desa Fohoeka mengaku senang bertemu Menteri Desa-PDTT.

“Kami bangga sekali bertemu pejabat di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo,” kata Oktovianus Berek warga setempat.

Oktovianus berharap dengan kunjungan Menteri Eko, kesulitan yang selama ini dialami warga dapat teratasi secara baik seperti pembangunan jalan, listrik PLN, dan air bersih.

“Jadi arti kemerdekaan sesungguhnya bagi warga ialah jalan raya diaspal, ada listrik sampai ke seluruh rumah penduduk, dan ada air bersih,” ujarnya.

Warga lainnya, Nikolaus Nahak yang berprofesi sebagai petani mengatakan sebagian warga menderita gagal tanam pada musim tanam awal tahun ini akibat kekeringan. “Kami butuh air untuk untuk mengairi tanaman pertanian. Kalau sudah ada air dan tanaman tumbuh di mana-mana, itu artinya kami sudah merdeka,” ujarnya. (gma/sumber: mi/palce amalo)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Komentar Anda